Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
JATUH cinta sering terasa seperti menaiki roller coaster, cepat, penuh kejutan, dan sulit diprediksi. Sensasi berdebar, gugup, sekaligus bahagia bercampur menjadi satu. Namun, di balik semua itu, tubuh kita sebenarnya sedang menjalankan proses biologis yang sangat kompleks.
Mengutip dari laman Mount Elizabeth Hospital setidaknya ada tiga fase yang terjadi pada tubuh saat kita sedang jatuh cinta. Tiga fase ini pula yang mempengaruhi kondisi orang yang sedang jatuh cinta secara fisik maupun batin.
Pada fase pertama, yaitu lust atau hasrat, tubuh dipengaruhi oleh hormon testosteron dan estrogen. Kedua hormon inilah yang memicu ketertarikan awal secara fisik, mirip dengan mekanisme pada mamalia lain.
Memasuki fase kedua, atau disebut fase attraction, tubuh mulai memproduksi berbagai zat kimia seperti dopamin (pemicu rasa senang), noradrenalin, dan adrenalin.
Kombinasi ketiganya menimbulkan reaksi-reaksi khas saat jatuh cinta, yaitu jantung berdebar, tangan berkeringat, wajah memerah, hingga susah tidur memikirkan seseorang. Rasa ini bahkan menyerupai efek dari obat-obatan tertentu.
Ketika hubungan mulai terasa stabil, tubuh memasuki fase attachment. Pada tahap ini, dopamin dan noradrenalin menurun, dan digantikan oleh oksitosin. Hormon oksitosin ini yang membuat kita merasa aman saat bersama orang yang kita cintai.
Tidak hanya hormon, aroma tubuh atau feromon juga memengaruhi ketertarikan. Penelitian menunjukkan bahwa tanpa sadar, kita cenderung menyukai aroma seseorang yang profil gennya cocok dengan kita, bahkan berkaitan dengan potensi memiliki keturunan yang sehat.
Feromon sendiri adalah zat kimia yang diproduksi oleh tubuh dan dilepaskan melalui keringat, kulit, air liur, atau cairan tubuh lainnya.
Berbeda dari hormon yang bekerja di dalam tubuh, feromon berfungsi sebagai “sinyal" yang bisa tercium atau terdeteksi oleh orang lain, walaupun kita tidak menyadarinya.
Manusia tidak secara sadar dapat mencium feromon seperti halnya mencium parfum, tetapi tubuh kita memiliki kemampuan biologis untuk menanggapi sinyal kimia ini secara bawah sadar.
Walau gen berbeda bisa menambah ketertarikan awal, manusia tetap cenderung memilih pasangan yang punya sifat, nilai, dan cara pandang serupa.
Studi besar menemukan bahwa pasangan bahagia memiliki kecocokan kepribadian hingga 86%. Bahkan pasangan yang baru bertemu pun menunjukkan kesamaan dalam pandangan hidup.
Simetri wajah, proporsi tubuh, hingga tanda testosteron pada pria (seperti panjang jari manis) ternyata memberi sinyal kesehatan dan kualitas gen.
Namun, pengalaman hidup setiap orang justru menjadi faktor paling kuat yang membentuk selera visual. Wajah-wajah yang sering kita lihat atau memiliki kenangan positif lebih mudah kita anggap menarik. (Z-1)
PEMERINTAH mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana di Sumatra dengan menyiapkan langkah-langkah berbasis sains dan teknologi guna membangun ketahanan pascabencana.
Sains menunjukkan betapa luar biasa dan kompleksnya alam semesta. Semuanya menjadi bukti bahwa rasa ingin tahu dan imajinasi manusia tidak pernah berhenti berkembang.
Wamenag Romo Muhammad Syafi’i menegaskan pentingnya dukungan terhadap potensi siswa madrasah. Kemenag akan mendorong pembentukan Direktorat Pendidikan Vokasional Madrasah
Kemdiktisaintek menggelar pelatihan untuk memperkuat literasi sains dan teknologi di masyarakat.
Penelitian mengungkap koloni tikus mondok tanpa bulu memiliki sistem sosial kompleks dengan peran khusus seperti pengumpul sampah dan pembersih toilet.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved