Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
CEO Bakrie Center Foundation (BCF) Jimmy Gani, mewakili BCF dalam The Union World Conference on Lung Health 2025 yang diselenggarakan di Copenhagen, Denmark.
BCF bersama beberapa organisasi lainnya seperti PR Konsorsium, Stop TB Partnership Indonesia (STPI), dan Yayasan Rekat mewakili Indonesia dalam forum tersebut. The Union World Conference on Lung Health merupakan organisasi global nirlaba yang berfokus pada kesehatan paru-paru (pernafasan) termasuk Tuberkulosis.
Forum ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di negara berpenghasilan rendah dan menengah, untuk mengurangi dampak penyakit yang menyerang kesehatan paru-paru.
Pada 20 November 2025 waktu setempat, Jimmy Gani mempresentasikan abstrak yang sebelumnya didaftarkan dan lolos dalam seleksi yang cukup ketat.
BCF bersaing dengan lebih dari 2.600 abstrak yang dikirimkan berbagai organisasi nirlaba bidang kesehatan dari seluruh dunia.
Abstrak yang berjudul Campus Leaders Program : Fostering Youth Participation in TB Elimination and SDGs Implementation in Indonesia through a Collaborative Hexa-Helix Stakeholder Engagement Model memaparkan tentang upaya BCF bersama para pemuda melalui Campus Leaders Program (CLP) untuk mendorong tercapainya eliminasi TBC di Indonesia. Dalam paparannya, Jimmy Gani menekankan pentingnya sinergitas dan koordinasi antar stakeholder untuk mengeliminasi TBC di Indonesia yang ditargetkan pada tahun 2030.
“Kontribusi utama para mahasiswa adalah mereka menyelenggarakan sesi edukasi kesehatan dan advokasi tentang tuberkulosis. Mereka juga berpartisipasi aktif dalam skrining TB, yang sangat penting. Selain itu, para mahasiswa merancang dan memfasilitasi program pemberdayaan bagi para penyintas TBC,” jelas Jimmy dalam paparannya.
Campus Leaders Program adalah salah satu program BCF yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk magang di lembaga-lembaga mitra sosial BCF yang memiliki program dalam bidang kesehatan (khususnya untuk penanganan TBC) dan pendidikan.
Sejak tahun 2023, Campus Leaders Program menaruh perhatian khusus terhadap isu tuberkulosis, mengingat Indonesia masih menjadi negara kedua di dunia dengan kasus TBC terbanyak.
Dengan jumlah kematian sebanyak 125.000 orang setiap tahunnya, BCF menyimpulkan ada 5 hal yang menyebabkan Indonesia sulit keluar dari lingkaran TBC.
“Menurut kami ada beberapa akar masalah yaitu keterlambatan dan ketidaklengkapan dalam deteksi kasus, stigma yang berkaitan dengan kurangnya edukasi dan kesadaran, kurangnya koordinasi multisektor, dan minimnya keterlibatan pemuda dalam mendorong kesadaran dan pengetahuan masyarakat soal TBC,” tegas Jimmy.
Dengan semangat building leaders, program CLP mengupayakan lahirnya bibit-bibit pemimpin muda baik pada mahasiswa magang sebagai peserta maupun lembaga mitra (komunitas peduli TBC) sebagai fasilitator magang agar mampu melaksanakan program-program inovatif untuk mencegah dan mengendalikan TBC.
Dari tahun 2023 hingga 2024, terdapat 737 mahasiswa dari 13 provinsi di Indonesia yang telah menjadi TB Rangers.
“Kenapa kita perlu melibatkan anak muda dalam isu kesehatan? Indonesia memiliki total 65 juta penduduk berusia 16 hingga 30 tahun. Ini merupakan keuntungan demografis yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mobilisasi kesehatan masyarakat. Namun, kita masih memiliki hambatan, salah satunya adalah kurangnya pelibatan mereka dalam kebijakan dan strategi,” tutup Jimmy pada sesi presentasi.
Skema kolaborasi hexa-helix ini penting dalam menopang intervensi baik di tingkat lokal maupun nasional. CLP juga memupuk kepemimpinan jangka panjang dan mendorong partisipasi masyarakat, selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. (H-2)
Dengan asumsi satu alat dapat melayani 3.000 pasien, Benjamin memperkirakan 60.000 warga Makassar dapat diperiksa pada tahun 2026.
Peneliti Universitas Basel kembangkan tes sel tunggal untuk membedakan antibiotik yang hanya menghambat pertumbuhan dan yang benar-benar membunuh bakteri.
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
Peneliti BRINĀ mengembangkan Tuberculosis Colorimetric Sensor, yaitu sensor deteksi cepat berbasis metode colorimetric.
Kampanye itu mendeteksi pengidap Tb kemudian mengobati hingga tuntas sampai betul-betul sembuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved