Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Intervensi Gizi Saat Ibu Hamil Turunkan Risiko Kelahiran Prematur

Basuki Eka Purnama
25/11/2025 05:44
Intervensi Gizi Saat Ibu Hamil Turunkan Risiko Kelahiran Prematur
Ilustrasi(MI/RAMDANI)

DOKTER spesialis anak subspesialis neonatologi Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A, Subsp Neo(K) menyampaikan bahwa intervensi gizi yang baik semasa kehamilan dapat menghindarkan ibu dari obesitas dan menurunkan kemungkinan kelahiran bayi prematur.

"Di kelompok yang intervensi gizinya dibagusin, kejadian prematurnya turun 50% dibanding kelompok lain," kata dokter yang biasa disapa Rina itu, dikutip Selasa (25/11).

"Kalau toh dia terlahir prematur, enggak lama masuk ICU-nya dan enggak berat, beda sama yang enggak diintervensi," kata dokter lulusan Universitas Indonesia itu.

Hasil survei kecil yang dia lakukan bersama dokter ahli gizi terhadap masing-masing dua ibu hamil trimester pertama di lima kotamadya di DKI Jakarta menunjukkan bahwa 71% ibu hamil kelebihan berat badan.

Ahli gizi dan ahli kandungan yang terlibat dalam survei tersebut menyampaikan bahwa ibu hamil dengan berat badan berlebih maupun obesitas kekebalan tubuhnya kurang baik.

Di samping itu, kelebihan berat badan dapat menimbulkan perlemakan pada liver dan menyebabkan sirosis yang mempengaruhi kerja liver sebagai organ detoksifikasi.

Kelebihan berat badan bisa terjadi karena kebiasaan mengonsumsi terlalu banyak karbohidrat dan lemak serta kurang mengonsumsi protein.

Rina mengatakan bahwa angka kelahiran bayi secara prematur di Indonesia saat ini sampai 675 ribu per tahun.

Guna menekan angka kelahiran bayi secara prematur, menurut dia, intervensi gizi perlu dilakukan mulai dari anak usia dini, anak sekolah, remaja, hingga perempuan hamil.

Kelahiran prematur, yang terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu, dapat mendatangkan masalah kesehatan pada bayi.

Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Kementerian Kesehatan, kelahiran prematur dapat menyebabkan masalah seperti gangguan pernapasan, komplikasi jantung, kerusakan otak, dan gangguan penglihatan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya