Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

MBG: Upaya Mewujudkan Generasi Emas

M Iqbal Al Machmudi
20/11/2025 21:32
MBG: Upaya Mewujudkan Generasi Emas
SPPG Polres Batang berencana angkat menu makanan khas daerah.(Antara)

GURU Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Ali Khomsan, menjelaskan terwujudnya generasi emas dimaknai sebagai generasi masa depan yang dibangun dari anak-anak dengan kecukupan gizi

"Gizi yang cukup itu menjamin perkembangan otak menjadi baik, kemudian pertumbuhan fisik juga menjadi baik dan itu akan menjadi wahana untuk terbentuknya generasi emas," kata Ali saat dihubungi, pada Kamis (20/11).

Oleh karena itu, Progam Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat menjadi upaya bersama untuk mewujudkan generasi emas yang sehat, bergizi cukup, dan berdaya saing tinggi. Program ini menyajikan makan bergizi bagi siswa dan juga ibu hamil sesuai dengan konsep Isi Piringku yang mencakup porsi seimbang berupa nasi, sayur, lauk, dan buah. 

"Itu yang kemudian diterjemahkan di dalam program MBG. Tentu saja nanti perlu dilihat, ketika program MBG sudah berjalan setahun atau dua tahun, apakah berat badan dan tinggi badan anak-anak membaik," ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya memantau dampak program terhadap capaian akademik

"Kemudian betulkah bahwa kecerdasan anak-anak, performa akademik yang dicerminkan oleh kemampuan membaca Bahasa Indonesia, matematika, dan mata pelajaran sains juga meningkat? Semua itu bisa menjadi indikator bahwa bibit-bibit generasi emas mulai terwujud," sambungnya.

Komitmen Peningkatan Gizi

Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) berkomitmen terus memperkuat tata kelola dan meningkatkan kualitas gizi anak bangsa melalui program MBG. 

"Pengelolaan dapur MBG diatur secara ketat dan mengikuti panduan teknis berdasarkan peraturan presiden serta standar keamanan pangan nasional,” kata Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang.

Nanik menjelaskan bahwa proses memasak tidak dapat dilakukan sembarangan. Ada pengaturan jam kerja berdasarkan sistem batch. Misalnya, untuk batch pertama dimulai pukul 02.00 dini hari agar makanan siap sebelum waktu distribusi. Dapur juga tidak boleh memasak sebelum pukul 00.00, karena berisiko terhadap kualitas gizi dan keamanan pangan. 

Tenaga kerja di SPPG dibagi menjadi beberapa shift: tim persiapan pukul 16.00, tim dapur utama pukul 01.00, tim pemorsian yang bekerja dini hari pukul 04.00, terakhir tim pencuci ompreng pukul 16.00. 

“Semua proses ini diawasi secara berlapis untuk memastikan rantai dingin (cold chain) dan higienitas tetap terjaga,” kata Nanik.

Dalam rangka menjaga kualitas, higienitas, dan kepatuhan terhadap SOP, hingga Oktober lalu BGN telah menutup sementara 112 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di antaranya karena belum memenuhi persyaratan teknis dan sanitasi sesuai pedoman. Langkah tegas ini diambil demi menjaga kualitas makanan dan keselamatan anak-anak penerima manfaat. 

“Kalau sudah memenuhi syarat, bisa beroperasi kembali. Tapi prinsip kami jelas: lebih baik dapur berhenti sementara dari pada membahayakan kesehatan anak-anak,” tegasnya.

MBG Dijamin Bermanfaat

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, mengungkapkan bahwa program MBG jika dijalankan secara optimal dan tepat, sangat bermanfaat untuk mewujudkan generasi emas. Ia menyebut ada  empat sumber yang memperkuat bahwa program ini dapat bermanfaat. 

"Soal manfaat MBG jangan diragukan lagi, bisa dilihat dari empat versi. Pertama, manfaat MBG versi pemerintah yaitu akan terlihat dari gizi, pendidikan, kemiskinan, dan ekonomi," ucapnya.

Versi kedua dari World Food Program (WFP), yang menyebut MBG bisa memberikan manfaat pada aspek kesehatan, ekonomi, gender, ekosistem, dan stabilitas sosial. Versi ketiga dari ODI Global, yang menyatakan MBG bisa mempercepat pencapaian SDG's.

"Bisa juga mempercepat pencapaian SDG's. Kita tahu  SDG sulit dicapai akibat pandemi yang membuat sebagian besar target SDG tidak tercapai. Kemudian kelaparan, food system, dan yang terakhir adalah equity," jelas Tjandra.

Kemudian versi ke empat yang ditemukan di kepustakaan ada sepuluh manfaat yaitu untuk gizi, kesehatan, pendidikan anak, masyarakat, perkuat sistem pangan, perekonomian, menjadi insentif orangtua, ekonomi keluarga, ekonomi lokal, dan dapat mencegah terjadinya perkawinan anak.

"Di antara yang saya catat, MBG bisa menurunkan angka pernikahan muda pada anak perempuan karena orangtua bisa berpikir daripada anaknya kawin muda, lebih baik anaknya masuk sekolah saja karena bisa dapat makan. Jadi ini dampaknya memang besar, bukan hanya soal makanan," pungkasnya. (Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik