Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Indonesia Tawarkan Model Pembiayaan Mangrove di COP30

Atalya Puspa    
14/11/2025 13:58
Indonesia Tawarkan Model Pembiayaan Mangrove di COP30
Ilustrasi(Dok ist)

DELEGASI Indonesia kembali mencuri perhatian di Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Belém, Brasil, setelah memaparkan pendekatan baru dalam menjadikan mangrove sebagai investasi iklim jangka panjang. Dalam sesi yang digelar di Paviliun Jepang atas undangan JICA, 13 November 2025, Direktur Rehabilitasi Mangrove Ristianto Pribadi menekankan pentingnya inovasi pembiayaan untuk memastikan restorasi berjalan efektif dan berkelanjutan.

Indonesia, yang menguasai 3,44 juta hektare mangrove atau 23 persen dari total mangrove dunia, disebut memiliki tanggung jawab global dan peluang ekonomi yang besar. Ristianto memaparkan bahwa mangrove bukan hanya benteng ekologis, tetapi juga aset ekonomi yang memberi nilai tinggi bagi perlindungan pesisir dan masyarakat.

“Secara ekologis, mangrove berfungsi sebagai filter air alami yang efektif; dua hingga lima hektar mangrove mampu menyaring polutan yang dihasilkan oleh satu hektar tambak ikan, menunjukkan peran vitalnya dalam menjaga kualitas air,” ujar Ristianto.

Ia menegaskan, mangrove mampu menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan dan terbukti lima kali lebih hemat biaya dibandingkan pembangunan infrastruktur keras untuk perlindungan pesisir.

Namun, menurutnya, keberhasilan rehabilitasi tak dapat dipisahkan dari reformasi besar dalam mekanisme pembiayaan. “Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa sistem pembiayaan konvensional perlu disempurnakan untuk menjawab kompleksitas restorasi ekosistem mangrove dalam skala besar. Oleh karena itu, diperlukan pergeseran paradigma menuju kolaborasi, inovasi, dan perhatian mendalam terhadap kompleksitas alam dan sosial yang terjadi di tingkat tapak,” jelasnya.

Inovasi Pembiayaan menjadi fondasi utama. Pendekatan ini menggabungkan dana campuran (blended funds), pendanaan iklim, hingga kolaborasi filantropi agar dana dapat mengalir lebih cepat, fleksibel, berjangka panjang, serta memastikan masyarakat lokal terlibat langsung dalam implementasi.

Ada enam elemen yang dianggap menentukan keberlanjutan program: pendanaan jangka panjang dan adaptif, tata kelola multipihak yang efisien, integrasi ekonomi komunitas, manajemen adaptif berbasis sains, kepastian hak atas lahan, serta berbagi pengetahuan melalui kerja sama Selatan-Selatan dan jejaring global.

Upaya ini digerakkan oleh lima kelompok aktor, pemerintah sebagai penyedia regulasi, mitra internasional sebagai sumber pendanaan dan keahlian, komunitas lokal sebagai pelaksana di lapangan, lembaga riset sebagai pemantau dampak, serta organisasi non-pemerintah sebagai penggerak dan advokat.

Dengan pendekatan ini, Indonesia tidak hanya menegaskan posisinya sebagai pemilik mangrove terbesar di dunia, tetapi juga sebagai pemimpin dalam inovasi pembiayaan restorasi ekosistem global. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik