Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH diminta menegakkan prinsip “Nothing About Us Without Us” dalam COP30 agar penyandang disabilitas dilibatkan sebagai aktor dan mitra, bukan sekadar penerima bantuan.
Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) mendesak pemerintah mengakui penyandang disabilitas sebagai konstituen Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC). Desakan itu muncul karena penyandang disabilitas merupakan kelompok yang paling rentan sekaligus paling terakhir terlindungi dalam krisis iklim.
Ketua Umum PJS Yeni Rossa Damayanti menyampaikan aspirasi tersebut kepada Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq di sela-sela Konferensi Perubahan Iklim ke-30 atau COP30 UNFCCC di Belem, Brasil. Ia menilai sebagian besar perumusan kebijakan adaptasi dan mitigasi iklim di Indonesia belum melibatkan penyandang disabilitas. Akibatnya, sejumlah kebijakan iklim belum secara eksplisit menyebut komunitas itu sebagai kelompok prioritas.
Yeni mengatakan ketiadaan penyebutan secara eksplisit berisiko menghapus keberadaan penyandang disabilitas dari perlindungan negara. Menurut dia, absennya suara penyandang disabilitas dalam berbagai kebijakan menyebabkan sejumlah aturan tampak netral, namun justru memunculkan diskriminasi struktural. Program adaptasi dan mitigasi menjadi tidak aksesibel, partisipasi publik tertutup, dan transisi energi menambah beban kelompok berpendapatan rendah.
Di tengah krisis iklim, diskriminasi struktural semakin dalam. Di banyak wilayah, penyandang disabilitas bergantung pada jaringan sosial informal seperti tetangga, teman, dan komunitas lokal untuk bantuan mobilitas, akses informasi, serta dukungan penghidupan.
Saat bencana terjadi, relokasi membuat mereka kehilangan lingkungan sosial tersebut. Hilangnya jaringan dukungan memaksa mereka membangun relasi baru, tugas yang sulit karena stigma dan keterbatasan aksesibilitas.
Penyandang disabilitas juga menghadapi kondisi ekonomi yang lebih rentan, pendapatan lebih rendah, biaya hidup lebih tinggi, karena kebutuhan alat bantu, pengobatan, transportasi khusus, hingga asisten pribadi, serta peluang kerja yang terbatas.
Kenaikan harga listrik atau bahan pokok dapat mendorong keluarga penyandang disabilitas kembali jatuh ke kemiskinan ekstrem. Karena itu, perlindungan sosial adaptif bagi kelompok ini harus mencakup dukungan berbasis komunitas guna mempertahankan atau memulihkan jaringan sosial pascabencana.
Yeni mendorong delegasi Indonesia di COP30 menegaskan komitmen untuk mengintegrasikan penyandang disabilitas secara sistematis dalam National Adaptation Plan (NAP), strategi mitigasi, dan sistem perlindungan sosial adaptif. Ia juga menekankan pentingnya pelibatan penyandang disabilitas secara bermakna dalam seluruh siklus kebijakan iklim, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, hingga pelaporan.
“Pemerintah harus menegakkan prinsip ‘Nothing About Us Without Us’ dalam COP30, sehingga penyandang disabilitas dilibatkan sebagai aktor dan mitra, bukan sekadar penerima bantuan,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap proses perumusan kebijakan dan konferensi tingkat tinggi terkait iklim harus memastikan penyandang disabilitas terlihat, terdengar, dan terjangkau bantuan. Pengetahuan serta pengalaman resiliensi mereka, kata Yeni, tidak boleh diabaikan. “Tak seorang pun boleh ditinggalkan dalam mewujudkan keadilan iklim," pungkas dia. (H-2)
Konferensi ini mengusung tema “National Vision, Global Mission: Asta Cita in the Spirit of the SDGs.
Konferensi ini adalah ruang dialog penting antara ilmu, iman, dan masa depan manusia.
Musik, film, dan konten digital kini tidak hanya menjadi ruang ekspresi juga berperan sebagai medium advokasi sosial.
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi membuka perhelatan konferensi budaya internasional Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) 2025.
Konferensi ini menjadi sarana strategis untuk mendorong sinergi lintas sektor dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan dan transformasi digital global.
FCLP telah memperbarui visi dan pendekatannya, termasuk penyesuaian misi menjadi “halt and reverse forest loss”.
CELIOS menilai berbagai solusi yang diusulkan pemerintah tidak berkelanjutan, termasuk skema pasar karbon.
Turki akan menjadi tuan rumah COP31 setelah Australia menarik diri dari pencalonan.
Keberhasilan Indonesia dalam tata kelola REDD+ bertumpu pada integritas data, konsistensi kebijakan, dan keberhasilan menekan deforestasi hingga lebih dari 60 persen.
Masyarakat sipil merupakan yang paling terdampak krisis iklim, sehingga penting bagi masyarakat untuk menggaungkan suaranya di ajang COP30 ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved