Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DELEGASI Indonesia pada COP30 UNFCCC untuk sektor kehutanan menerima kunjungan bilateral dari Menteri Sumber Daya Alam Guyana, Vickram Bharrat, didampingi Advisor to the President of Guyana, Kevin Hogan. Pertemuan tersebut membahas peluang keikutsertaan Indonesia dalam Forest Climate Leaders’ Partnership (FCLP) dan menjadi lanjutan dari dialog yang telah dilakukan pada berbagai agenda FCLP sebelumnya.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Perubahan Iklim, Haruni Krisnawati, bersama Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Krisdianto, serta Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat, Julmansyah.
Dalam diskusi tersebut, Menteri Bharrat memperkenalkan posisi Guyana sebagai co-chair FCLP dan menyampaikan harapannya agar Indonesia bersedia bergabung sebagai negara anggota. Ia menekankan bahwa Indonesia, dengan pengalaman panjang dalam pengelolaan hutan tropis, dapat memberikan kontribusi strategis dalam berbagi pengetahuan dan kepemimpinan di antara negara-negara anggota FCLP.
“FCLP saat ini terdiri dari 36 negara anggota, mencakup negara maju maupun berkembang, yang berkomitmen melindungi hutan serta menanggulangi degradasi hutan global. Indonesia memiliki praktik pengelolaan hutan yang kuat dan dapat menjadi contoh bagi negara anggota lainnya,” ujar Bharrat.
Menanggapi hal tersebut, Krisdianto menyampaikan penghargaan atas perhatian Guyana dan menjelaskan bahwa permintaan tersebut akan diteruskan kepada Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Ia mengingatkan bahwa pada COP27 di Mesir, Indonesia hadir sebagai observer dalam pertemuan FCLP dan belum mengambil keputusan mengenai keanggotaan.
Menteri Bharrat kemudian memaparkan bahwa FCLP telah memperbarui visi dan pendekatannya, termasuk penyesuaian misi menjadi “halt and reverse forest loss”. Pembaruan tersebut dinilai lebih inklusif terhadap keberagaman kebijakan pengelolaan hutan di setiap negara. Perubahan mandat ini akan dibahas kembali dalam pertemuan lanjutan antara FCLP dan Kementerian Kehutanan Indonesia.
“FCLP akan menggelar pertemuan dua tahunan di Guyana pada Mei 2026, dan kami berharap Indonesia dapat hadir sebagai anggota penuh,” tambah Menteri Bharrat.
Pada penghujung pertemuan, delegasi Indonesia meminta agar FCLP mengirimkan surat resmi kepada Menteri Kehutanan yang menjelaskan transformasi organisasi serta permohonan keanggotaan secara formal. Guyana juga menyatakan ketertarikan untuk mempelajari lebih jauh pengalaman Indonesia dalam pengelolaan hutan lestari. (H-2)
Forum tersebut mempertemukan pemimpin dari Indonesia, Brazil, dan Tiongkok, tiga negara tropis yang memegang peran penting dalam perdagangan komoditas global.
Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) mendesak pemerintah mengakui penyandang disabilitas sebagai konstituen Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di COP30, Brasil.
Indonesia menyambut komitmen dukungan teknis dan pendanaan dari Inggris, termasuk peluang pengembangan pasar karbon alam, program UK PACT untuk carbon credits kehutanan.
Penyatuan pandangan terhadap tiga ekosistem karbon biru dalam satu sistem pesisir–laut akan memberikan manfaat luas.
Masyarakat Adat Papua juga turut hadir dalam aksi itu sembari membentangkan spanduk,”West Papua Is Not An Empty Land. Save Our Indigenous Forest.”
CELIOS menilai berbagai solusi yang diusulkan pemerintah tidak berkelanjutan, termasuk skema pasar karbon.
Turki akan menjadi tuan rumah COP31 setelah Australia menarik diri dari pencalonan.
Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) mendesak pemerintah mengakui penyandang disabilitas sebagai konstituen Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di COP30, Brasil.
Keberhasilan Indonesia dalam tata kelola REDD+ bertumpu pada integritas data, konsistensi kebijakan, dan keberhasilan menekan deforestasi hingga lebih dari 60 persen.
Masyarakat sipil merupakan yang paling terdampak krisis iklim, sehingga penting bagi masyarakat untuk menggaungkan suaranya di ajang COP30 ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved