Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Kehutanan menegaskan komitmen nasional dalam memperkuat kerja sama Selatan–Selatan dan mempercepat rehabilitasi hutan melalui pendekatan agroforestri regeneratif. Komitmen ini disampaikan oleh Penasehat Utama Menhut Silverius Oscar Unggul, dalam sesi South–South Partnership on Climate Change – Promoting Green Value Chains pada COP30 di Belem, Brazil.
Dalam paparannya, Indonesia menyampaikan target besar untuk memulihkan 12,7 juta hektare hutan dengan pola agroforestri regeneratif atau memadukan tanaman kayu dan komoditas bernilai ekonomi seperti kopi, kakao, dan pala. Pendekatan ini dinilai strategis dalam memulihkan fungsi ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
“Agroforestri regeneratif adalah jalan tengah terbaik. Dengan model ini, hutan pulih dan ekonomi rakyat tumbuh. Kami ingin memastikan bahwa pemulihan 12,7 juta hektare membawa manfaat bagi lingkungan sekaligus bagi masyarakat,” ujar Silverius yang akrab disapa Onte, Rabu (19/11).
Forum tersebut mempertemukan pemimpin dari Indonesia, Brazil, dan Tiongkok, tiga negara tropis yang memegang peran penting dalam perdagangan komoditas global. Sejumlah pembicara yakni Wakil Menteri Ekologi dan Lingkungan Tiongkok Li Gao, Director of the Department of Deforestation and Burning Control Policies Brazil Roberta Cantinho, dan Director General WWF International Kirsten Schuijt. Kolaborasi ini bertujuan membangun rantai nilai hijau dan memperkuat komitmen perdagangan bebas deforestasi.
Tiongkok dalam sesi yang sama memaparkan kemajuan perdagangan hijau, termasuk komitmen lebih dari 100 perusahaan menuju Deforestation & Conversion Free (DCF) 2030. Kemajuan ini membuka peluang kolaborasi lebih luas dengan Indonesia sebagai negara produsen.
Menurut Onte, keberhasilan rantai nilai hijau global membutuhkan kerja sama erat antara negara produsen dan konsumen. Ia juga menekankan pentingnya memastikan bahwa standar global tetap memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.
“Tidak ada transformasi hijau tanpa kolaborasi. Negara produsen dan negara konsumen harus berjalan bersama memastikan perdagangan bebas deforestasi,” tegasnya.
“Transisi hijau harus adil. Petani kecil dan masyarakat adat tidak boleh ditinggalkan dalam perubahan besar ini,” tambah Onte.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa Indonesia siap mengambil posisi terdepan dalam membangun rantai nilai hijau dunia serta memperkuat solidaritas negara-negara tropis dalam menghadapi dinamika regulasi global. (Cah/P-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved