Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading Cederai Pendidikan

Nike Amelia Sari
11/11/2025 01:01
Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading Cederai Pendidikan
Petugas kesehatan memindahkan siswa SMAN 72 Jakarta ke mobil ambulan untuk pemeriksaan di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat(ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)

 

PAKAR kebijakan pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan mengungkapkan peristiwa ledakan yang terjadi di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Jumat (7/11), penting untuk menjadi perhatian bersama.

"Ini harus menjadi warning atau perhatian bersama khususnya satu bagi sekolah. Kedua, (bagi) orangtua. Ketiga, dari masyarakat sendiri," ujar Dekan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (FPIPS UPI) tersebut, saat dihubungi Media Indonesia, Senin (10/11).

"Ini sebenarnya sudah mencederai pendidikan dalam pengertian ini tamparan bagi dunia pendidikan bahwa selama ini yang kita kejar kan seringkali peringkat, ranking, pokoknya hal yang kuantitatif, prestasi-prestasi yang menurut saya hanya di permukaannya," jelasnya. 

Padahal, lanjut Cecep, pendidikan sebetulnya merupakan alat atau instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup. "Nah kualitas hidup ini jangan dimaknai sekedar materi, jadi orang pintar dapat pekerjaan bagus, mendongkrak penghasilan dan negara juga punya income dari penghasilan orang yang pintar itu. Nah jangan diartikan seperti itu," ungkapnya.

"Untuk apa mereka juga pintar dan penghasilan tinggi Kalau dia misalnya kurang peduli tentang perlindungan, tidak ada bantuan kepada sesama misalnya," lanjutnya.

Sehingga penting untuk reorientasi menuju pendidikan yang sesungguhnya yaitu mengubah sikap mental para peserta didik. "Yang tadinya tidak tahu jadi tahu, yang tidak baik jadi baik, yang baik jadi lebih baik Itu pendidikan," tegas Cecep.

Menyeimbangkan hard skill dan soft skill

Dalam pendidikan diperlukan pendidikan hard skill seperti kepintaran, IQ (intelligence quotient), dan lain sebagainya. Kemudian ialah soft skill seperti karakter. 

"Dua-duanya harus dipandu oleh sekolah, masyarakat, keluarga secara beriringan. Kalau tidak seimbang, jadi kalau IQ-nya kurang dibina, intelektual-nya kurang dibina, skill-nya kurang dibina, mungkin saja dia orang baik tapi dia tidak punya wawasan, sehingga tidak bisa bersaing. Tapi orang pintar saja, tidak punya karakter, dia bisa menginjak orang lain dengan kepintaran," jelasnya

"Jadi kekurangan pendidikan ini adalah bagaimana menyeimbangkan dua porsi itu, hard skill, soft skill," sambungnya. 

Cecep juga menyoroti tentang keberadaan guru bimbingan konseling (BK) di sekolah. "Satu, jumlah sekolah dengan jumlah guru BK kita masih jomplang. Ada yang masih banyak yang belum ada guru BK-nya. Kedua, ada guru BK tapi kurang diberdayakan oleh sekolah, baik dari sisi kesempatan untuk memperoleh keterampilan atau skill-skill yang berkelanjutan," jelasnya.

"Yang terpenting (sebenarnya) itu bukan soal guru BK-nya tapi ekosistem sekolahnya. Sehingga anak itu menjadi betah dan sekolah itu seperti rumah kedua. Ramah anak, di sekolah itu gak ada bully, bersama teman itu seperti saudara dan guru itu seperti dengan orangtua. Umumnya lingkungan sekolah ini yang tidak kondusif yang menghasilkan perilaku-perilaku yang di luar kewajaran," sambungnya.

Cecep menyarankan untuk menjadi  program nasional bahwa sekolah itu perlu mengadakan pemeriksaan kesehatan mental peserta didik. "Seminggu sekali atau sebulan sekali ada program-program untuk mengecek kesehatan mental anak-anak itu," ungkapnya.

Literasi Digital

Selain itu, terkait Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap kebiasaan siswa terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara ialah sering membuka 'dark web' atau forum dan situs gelap di internet. Dark web itu berisikan video dan foto-foto yang cukup sadis yaitu perang hingga pembunuhan, Cecep memberikan pandangannya.

"Literasi digital itu jangan sekadar menjadi perlajaran formal. Setelah selesai di-test, selesai. Jangan begitu, tetapi menanamkan semacam filter kepada anak agar dia bisa membedakan mana konten-konten positif dan negatif," ujar Cecep.

"Menjelaskan bahwa itu adalah ruang-ruang publik yang tidak bisa semua kita bisa akses dan pemerintah sendiri belum bisa menutup seluruh konten-konten negatif itu," sambungnya.

Cecep menambahkan guru di era saat ini bukan hanya soal mengajar semata tetapi dilakukan pula transformasi nilai karakter pada peserta didik. (Nas/M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik