Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis bedah lulusan Universitas Indonesia dr. Maelissa Pramaningasin, Sp.B, Subsp.Onk. (K) menjelaskan alasan temuan kasus kanker payudara stadium lanjut di Indonesia masih terbilang tinggi.
"Ini diketahui sudah dari tahun 1992 bahwa yang datang (ke rumah sakit) itu stadium lanjut, tapi kemudian pada tahun 2020 begitu lagi, ini jadi masalahnya dimana?" kata Maelissa, dikutip Selasa (21/10).
Maelissa mengatakan pada 1992 jumlah pasien yang datang ke rumah sakit yang sudah terkena kanker payudara stadium akhir ada sebesar 60%-70%. Angkanya naik signifikan pada 2020 menjadi 68%-73%.
Sementara data Globocan menyatakan bahwa kanker payudara merupakan jenis kanker dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia, dengan lebih dari 68.858 kasus baru dan 22.430 kematian tercatat hanya pada 2020. Angka tersebut diprediksi meningkat dari tahun ke tahun.
Menurut Maelissa, penyebab utama dari sulitnya menekan angka tersebut adalah banyak beredarnya informasi bohong soal pengobatan kanker payudara, dan tingginya ketakutan masyarakat jika payudaranya akan hilang setelah mendapatkan pengobatan.
Masyarakat juga masih kebingungan untuk datang ke dokter spesialis terkait, jika menemukan adanya benjolan atau kelainan pada payudaranya.
Kalaupun sudah menemui dokter spesialis, ia menyampaikan kebanyakan pasien hanya berhenti berkonsultasi sampai di dokter bedah saja. Sehingga terjadi penundaan atau sistem system delay.
Menurutnya, sebenarnya kanker payudara dapat dicegah sejak dini melalui adanya kampanye Kementerian Kesehatan yakni Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) dan Pemeriksaan Payudara Klinis (Sadanis) yang dapat mendeteksi dini keberadaan kanker tersebut hingga 85%.
Konsultasi yang dilakukan bersama tenaga kesehatan untuk mendapatkan layanan mammografi dan USG juga disebutnya dapat mendeteksi sampai dengan 90%.
Dengan semakin majunya teknologi, ia menyampaikan bahwa kanker payudara dapat dideteksi sedini mungkin. Beberapa cara lain yang dapat membantu penderita yakni dengan biopsi dapat mendeteksi sampai 91%. Jika pasien mendapatkan ketiga tata laksana maka tingkat keberhasilan deteksi dapat mencapai 99,5%. (Ant/Z-1)
Kenali jenis mastektomi, lama pemulihan, serta cara merawat tubuh dan kesehatan mental setelah operasi kanker payudara.
Menurut data World Health Organization (WHO), pada tahun 2012 terdapat sekitar 40 dari 100.000 perempuan di Indonesia yang didiagnosis dengan kanker payudara.
Jika dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara maka Indonesia termasuk salah satu negara dengan bertahan hidup pasien kanker payudara yang rendah.
Studi 11 tahun di tujuh pusat layanan kesehatan New York menunjukkan seperempat kasus kanker payudara terjadi pada perempuan usia 18-49 tahun.
Mahkota Dewa kaya senyawa aktif yang berpotensi melawan sel kanker payudara. Namun, konsumsi tetap harus hati-hati dan tak menggantikan pengobatan medis.
“Dari ibu ke ibu, yang baru saja menderita kanker, saya hanya ingin memeluknya," kata Jessie J
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved