Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
Imunisasi adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi kesehatan anak dari penyakit yang bisa berisiko mengancam jiwa. Namun, apakah ada hubungan antara imunisasi dan kecerdasan anak? Beberapa studi menunjukkan bahwa imunisasi mungkin berkontribusi pada perkembangan kognitif anak, meskipun hubungan ini lebih kompleks daripada yang banyak diperkirakan.
Imunisasi berfungsi untuk melindungi tubuh anak dari berbagai penyakit infeksius seperti polio, campak, dan tuberkulosis yang dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak. Anak-anak yang sering sakit atau yang terinfeksi oleh penyakit-penyakit ini dapat mengalami keterlambatan perkembangan kognitif dan fisik. Dengan vaksinasi, risiko ini dapat diminimalisir, yang memungkinkan anak untuk lebih fokus pada pembelajaran dan pengembangan keterampilan kognitif.
Beberapa studi internasional telah menemukan adanya hubungan positif antara imunisasi lengkap dan perkembangan kognitif anak. Berikut adalah beberapa temuan utama:
Sebuah penelitian menggunakan data dari Cebu Longitudinal Health and Nutrition Survey menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima imunisasi lengkap, termasuk vaksin DPT, polio, dan campak, memiliki skor tes kognitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapatkan vaksinasi. Perbedaan skor tes ini signifikan secara statistik dan menunjukkan bahwa imunisasi dapat mendukung perkembangan kemampuan kognitif anak.
Penelitian yang dilakukan di India menggunakan data dari India Human Development Survey menemukan bahwa anak-anak yang mendapat vaksinasi lengkap pada usia 12 bulan memiliki kemampuan membaca, menulis, dan matematika yang lebih baik. Dalam beberapa tes kemampuan dasar, anak-anak yang divaksinasi menunjukkan peningkatan 6-12% dibandingkan mereka yang tidak menerima vaksin.
Analisis data dari China Health and Retirement Longitudinal Study menunjukkan bahwa anak-anak yang divaksinasi pada masa kanak-kanak memiliki skor kognitif yang lebih tinggi dan lebih banyak menyelesaikan pendidikan hingga tingkat yang lebih tinggi. Vaksinasi dikaitkan dengan perpanjangan waktu sekolah dan pencapaian akademik yang lebih baik.
Hubungan antara imunisasi dan kemampuan kognitif kemungkinan besar terkait dengan pencegahan penyakit infeksius yang dapat menghambat perkembangan otak dan kemampuan belajar anak. Penyakit infeksius, seperti campak atau polio, dapat menyebabkan kerusakan neurologis yang berdampak buruk pada kecerdasan anak. Dengan vaksinasi, anak dapat terhindar dari penyakit-penyakit ini, yang memungkinkan mereka untuk tumbuh dengan potensi terbaiknya.
Imunisasi dapat berperan penting dalam mendukung perkembangan kognitif anak dengan mencegah penyakit yang dapat mengganggu kemampuan belajar mereka. Walaupun vaksinasi bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kecerdasan, menjaga anak tetap sehat melalui imunisasi memberi mereka kesempatan lebih besar untuk berkembang dengan optimal. Tentunya, faktor lain seperti gizi, pendidikan, dan stimulasi lingkungan juga memegang peranan penting dalam perkembangan anak.
Jika Anda masih ragu mengenai pentingnya imunisasi, konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis untuk mendapatkan informasi yang lebih komprehensif dan berdasarkan bukti ilmiah. (Z-10)
Sumber:
Terapi genetik zorevunersen menunjukkan hasil luar biasa bagi anak dengan epilepsi langka Dravet Syndrome. Kejang berkurang drastis dan kualitas hidup meningkat.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Studi terbaru mengungkap bayi lahir tahun 2003-2006 terpapar lebih banyak zat kimia PFAS daripada dugaan semula.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama organisasi profesi dan akademisi menyoroti mutasi dan pemberhentian empat dokter spesialis anak yang dinilai tidak berdasar.
MULAI 2027 atau tahun depan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan memberikan vaksin human papillomavirus atau vaksin HPV untuk anak laki-laki usia 11 tahun.
Peneliti ungkap tanaman pangan seperti pisang dan kakao di wilayah bekas bencana tambang Brasil serap logam berat beracun. Anak-anak di bawah enam tahun paling berisiko.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved