Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Imunisasi adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi kesehatan anak dari penyakit yang bisa berisiko mengancam jiwa. Namun, apakah ada hubungan antara imunisasi dan kecerdasan anak? Beberapa studi menunjukkan bahwa imunisasi mungkin berkontribusi pada perkembangan kognitif anak, meskipun hubungan ini lebih kompleks daripada yang banyak diperkirakan.
Imunisasi berfungsi untuk melindungi tubuh anak dari berbagai penyakit infeksius seperti polio, campak, dan tuberkulosis yang dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak. Anak-anak yang sering sakit atau yang terinfeksi oleh penyakit-penyakit ini dapat mengalami keterlambatan perkembangan kognitif dan fisik. Dengan vaksinasi, risiko ini dapat diminimalisir, yang memungkinkan anak untuk lebih fokus pada pembelajaran dan pengembangan keterampilan kognitif.
Beberapa studi internasional telah menemukan adanya hubungan positif antara imunisasi lengkap dan perkembangan kognitif anak. Berikut adalah beberapa temuan utama:
Sebuah penelitian menggunakan data dari Cebu Longitudinal Health and Nutrition Survey menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima imunisasi lengkap, termasuk vaksin DPT, polio, dan campak, memiliki skor tes kognitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapatkan vaksinasi. Perbedaan skor tes ini signifikan secara statistik dan menunjukkan bahwa imunisasi dapat mendukung perkembangan kemampuan kognitif anak.
Penelitian yang dilakukan di India menggunakan data dari India Human Development Survey menemukan bahwa anak-anak yang mendapat vaksinasi lengkap pada usia 12 bulan memiliki kemampuan membaca, menulis, dan matematika yang lebih baik. Dalam beberapa tes kemampuan dasar, anak-anak yang divaksinasi menunjukkan peningkatan 6-12% dibandingkan mereka yang tidak menerima vaksin.
Analisis data dari China Health and Retirement Longitudinal Study menunjukkan bahwa anak-anak yang divaksinasi pada masa kanak-kanak memiliki skor kognitif yang lebih tinggi dan lebih banyak menyelesaikan pendidikan hingga tingkat yang lebih tinggi. Vaksinasi dikaitkan dengan perpanjangan waktu sekolah dan pencapaian akademik yang lebih baik.
Hubungan antara imunisasi dan kemampuan kognitif kemungkinan besar terkait dengan pencegahan penyakit infeksius yang dapat menghambat perkembangan otak dan kemampuan belajar anak. Penyakit infeksius, seperti campak atau polio, dapat menyebabkan kerusakan neurologis yang berdampak buruk pada kecerdasan anak. Dengan vaksinasi, anak dapat terhindar dari penyakit-penyakit ini, yang memungkinkan mereka untuk tumbuh dengan potensi terbaiknya.
Imunisasi dapat berperan penting dalam mendukung perkembangan kognitif anak dengan mencegah penyakit yang dapat mengganggu kemampuan belajar mereka. Walaupun vaksinasi bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kecerdasan, menjaga anak tetap sehat melalui imunisasi memberi mereka kesempatan lebih besar untuk berkembang dengan optimal. Tentunya, faktor lain seperti gizi, pendidikan, dan stimulasi lingkungan juga memegang peranan penting dalam perkembangan anak.
Jika Anda masih ragu mengenai pentingnya imunisasi, konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis untuk mendapatkan informasi yang lebih komprehensif dan berdasarkan bukti ilmiah. (Z-10)
Sumber:
MULAI 2027 atau tahun depan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan memberikan vaksin human papillomavirus atau vaksin HPV untuk anak laki-laki usia 11 tahun.
Peneliti ungkap tanaman pangan seperti pisang dan kakao di wilayah bekas bencana tambang Brasil serap logam berat beracun. Anak-anak di bawah enam tahun paling berisiko.
Studi JAMA Pediatrics mengungkap 1 dari 20 anak berisiko alergi makanan pada usia 6 tahun. Faktor genetik, lingkungan, hingga pola makan awal jadi pemicu utama.
BPOM perketat pengawasan Program Makan Bergizi Gratis karena risiko keamanan pangan. Sepanjang 2024 tercatat 138 KLB keracunan.
Jendela waktu emas untuk pengobatan Penyakit Kawasaki adalah sebelum hari ke-10 sejak demam pertama muncul guna mencegah kerusakan jantung permanen.
Riset terbaru mengungkap 16% balita masih mengalami gejala gegar otak setahun setelah cedera.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved