Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
ANAK-ANAK yang tumbuh di rumah dengan anjing berpeluang lebih kecil mengalami asma di masa kanak-kanak, menurut sebuah penelitian terbaru.
Studi ini meneliti lebih dari 1.000 bayi dan menemukan bahwa paparan alergen anjing sejak dini dapat berperan melindungi paru-paru anak.
“Asma adalah penyakit pernapasan kronis yang sangat umum pada anak-anak, dengan tingkat kasus tertinggi di usia empat tahun pertama,” kata penulis utama studi, Dr Jacob McCoy dari Hospital for Sick Children di Toronto, Kanada.
“Penyakit ini disebabkan oleh interaksi kompleks antara faktor genetik dan lingkungan, termasuk infeksi, alergi, dan polusi udara. Karena anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam rumah, kami ingin meneliti alergen di lingkungan rumah sebagai faktor risiko yang mungkin bisa diubah untuk menekan asma," jelas dia.
Dalam penelitian yang dipresentasikan pada Kongres European Respiratory Society di Amsterdam ini, para peneliti menganalisis debu rumah dari 1.050 bayi berusia 3–4 bulan.
Sampel tersebut diperiksa kandungan berbagai alergen, termasuk protein dari kulit dan air liur anjing (Can f1), protein serupa dari kucing (Fel d1), dan endotoksin bakteri.
Saat anak-anak mencapai usia lima tahun, dokter menilai apakah mereka menderita asma, sementara sampel darah digunakan untuk meneliti faktor genetik yang meningkatkan risiko alergi atau asma.
Hasilnya, sekitar 6,6% anak didiagnosis mengalami asma pada usia lima tahun. Namun, peneliti menemukan bahwa paparan alergen anjing sejak dini dikaitkan dengan fungsi paru-paru yang lebih baik dan risiko asma yang lebih rendah. Sementara itu, alergen kucing maupun endotoksin tidak menunjukkan efek perlindungan serupa.
“Kami menemukan bahwa paparan alergen anjing berhubungan dengan fungsi paru yang lebih baik serta menurunkan risiko asma. Kami belum tahu persis penyebabnya, tetapi kemungkinan paparan awal bisa mencegah sensitisasi dengan mengubah mikrobioma di hidung atau memengaruhi sistem imun,” jelas McCoy.
Menanggapi hasil penelitian ini, Dr Erol Gaillard, ketua kelompok ahli asma anak dari European Respiratory Society, mengatakan, asma adalah kondisi jangka panjang paling umum pada anak dan juga salah satu alasan utama mereka harus dirawat darurat di rumah sakit.
"Studi ini menunjukkan bahwa bayi yang tumbuh bersama anjing mungkin memiliki risiko lebih rendah terkena asma. Ini kabar baik bagi keluarga dengan anjing peliharaan, tetapi kita masih perlu tahu lebih jauh bagaimana paparan hewan peliharaan memengaruhi perkembangan paru anak dalam jangka panjang," jelas dia.
Sementara itu, Sarah Sleet, CEO Asma and Lung UK, menilai temuan ini membuka perspektif baru.
“Selama ini banyak saran agar anak yang berisiko asma sebaiknya tidak tinggal serumah dengan hewan peliharaan. Jadi, temuan bahwa keberadaan anjing justru dapat mengurangi risiko sangat menarik. Namun, kita masih butuh penelitian lebih lanjut untuk memahami apa yang membuat anjing berbeda,” ujarnya. (Z-1)
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Peneliti ungkap molekul pemicu peradangan asma yang selama ini tersembunyi. Penemuan ini membuka jalan bagi deteksi dini lewat tes urine dan pengobatan yang lebih tepat sasaran.
Kafein dalam kopi bersifat bronkodilator ringan, bantu meringankan gejala asma sementara. Namun, kopi bukan pengganti obat inhaler utama.
Tadinya dia tidak punya bakat asma, gara-gara kena RSV meski sudah sembuh, tapi jadi asma, terus sebentar-sebentar sakit.
Penelitian di jurnal JAMA mengungkap inhaler dosis terukur untuk asma dan PPOK menyumbang emisi gas rumah kaca signifikan akibat kandungan hidrofluoroalkana (HFA).
AstraZeneca dan Good Doctor Technology Indonesia (Good Doctor) berkolaborasi memperkuat penanganan asma dengan digitalisasi yang menyeluruh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved