Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

Pemberian ASI Lebih Lama Dapat Turunkan Risiko Asma pada Anak, Ini Penjelasannya

Abi Rama
23/2/2026 12:00
Pemberian ASI Lebih Lama Dapat Turunkan Risiko Asma pada Anak, Ini Penjelasannya
Ilustrasi(freepik)

ASMA merupakan salah satu penyakit kronis paling umum pada anak-anak di dunia. Kondisi ini terjadi ketika saluran pernapasan mengalami peradangan dan penyempitan, sehingga penderitanya kerap mengalami sesak napas, batuk berulang, dada terasa berat, hingga bunyi mengi (napas berbunyi “ngik-ngik”). 

Pada sebagian anak, gejala bisa muncul sejak usia prasekolah dan berlanjut hingga dewasa. Faktor risiko asma cukup beragam, mulai dari riwayat keluarga, paparan asap rokok, infeksi saluran napas berulang, hingga gangguan perkembangan sistem imun sejak awal kehidupan.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Cell dan dilaporkan laman Respiratory Therapy menemukan menyusui lebih dari tiga bulan dapat menurunkan risiko asma pada anak. Temuan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan pernapasan anak.

ASI dan Perkembangan Mikrobioma Bayi

Penelitian yang dipimpin Liat Shenhav dari NYU Grossman School of Medicine bersama Meghan Azad dari University of Manitoba, Kanada ini menyoroti peran penting mikrobioma. mikrobioma ialah kumpulan mikroorganisme yang hidup di dalam tubuh dalam pembentukan sistem imun bayi.

Selama tahun pertama kehidupan, bayi mengalami proses kolonisasi mikroba di usus dan saluran pernapasan bagian atas (rongga hidung). ASI mengandung komponen unik seperti human milk oligosaccharides (HMO), yaitu gula kompleks yang tidak dapat dicerna langsung oleh bayi, tetapi menjadi makanan bagi bakteri baik tertentu. Hal ini memberikan keuntungan bagi mikroba yang mendukung perkembangan imun yang sehat.

Sebaliknya, bayi yang ASI-nya stop sebelum usia tiga bulan dan hanya mengonsumsi susu formula cenderung memiliki pola mikrobioma berbeda. Mikroba yang muncul lebih awal pada kelompok ini, termasuk bakteri Ruminococcus gnavus, diketahui berkaitan dengan perubahan metabolisme zat seperti triptofan, yang berperan dalam regulasi sistem kekebalan tubuh. Kemunculan dini pola mikroba tersebut dalam studi ini dikaitkan dengan peningkatan risiko asma pada usia prasekolah.

Mengapa Mikrobioma Berpengaruh pada Asma?

Peneliti menjelaskan mikrobioma bukan sekadar membantu pencernaan, tetapi juga “melatih” sistem imun bayi agar mampu membedakan ancaman dari zat yang sebenarnya tidak berbahaya. Jika proses kolonisasi mikroba terjadi terlalu cepat, tidak berurutan, atau tidak seimbang, respons imun dapat berkembang secara kurang optimal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit alergi dan peradangan kronis, termasuk asma.

Ibarat alat pacu jantung yang mengatur ritme detak jantung, menyusui membantu mengatur tempo dan urutan kehadiran mikroba di tubuh bayi. Dengan urutan yang tepat dan waktu yang sesuai, sistem imun berkembang lebih stabil dan tidak mudah bereaksi berlebihan terhadap pemicu alergi.

Temuan ini memperkuat bukti menyusui tidak hanya penting untuk nutrisi. Menyusui juga berperan dalam perlindungan jangka panjang terhadap penyakit kronis, termasuk gangguan pernapasan seperti asma.

Meski tidak semua ibu dapat menyusui dalam kondisi ideal, penelitian ini memberikan pemahaman lebih dalam tentang bagaimana awal kehidupan, terutama dalam tiga bulan pertama yang jadi periode krusial bagi pembentukan sistem imun anak. (Respiratory Therapy/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya