Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SIAPA sangka tanaman cabai bisa "awet muda" dan terus berbunga seolah tidak mengenal usia. Sebuah inovasi dari Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University berhasil membuktikannya.
Inovasi berbasis mikronutrien yang diperkaya bakteri Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) ini membuat tanaman cabai keriting di Desa Pleret, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo, yang memiliki tampilan biasa saja, tetapi berbuah lebih banyak, lebih lama, dan lebih sehat.
Petani lokal, Gito, awalnya sempat pesimistis. Sebab, tanaman cabainya terlihat tertinggal dibanding dengan tanaman pada lahan di sebelah. Namun, segalanya berubah setelah ia mengaplikasikan mikronutrien inovatif ini sebanyak tiga kali, dimulai sejak usia tanaman satu bulan.
Hasilnya? Mengejutkan.
Tanaman cabai milik Gito kini telah panen empat kali, dengan total rata-rata 224 gram per pohon—jauh melampaui angka biasa yang hanya sekitar 153 gram per pohon.
Tidak hanya itu, penampakan visual tanaman juga mencolok, daunnya lebih hijau, tajuknya segar, dan terus berbunga seperti tanaman muda.
Menurut Dekan Faperta IPB University Prof Suryo Wiyono, yang turut mendampingi uji coba ini, efek "awet muda" yang ditimbulkan sangat menjanjikan.
"PGPR ini bukan hanya memperbaiki perakaran dan serapan nutrisi, tapi juga menjaga hormon tumbuh tetap aktif," ujarnya.
Ia berujar, aplikasi mikronutrien diperkaya PGPR khusus. Efek awet muda disebabkan PGPR strain khusus ini menghasilkan fitohormon, dan juga enzim ACC deaminase.
"Tanaman terlihat seolah-olah tidak menua, terus berbunga dan berbuah," sebutnya.
Guru Besar Proteksi Tanaman IPB University ini mengatakan, inovasi tersebut menjadi harapan baru bagi petani cabai yang sering menghadapi masalah penurunan produktivitas seiring umur tanaman.
"Dengan teknologi ini, bukan tak mungkin umur produktif tanaman bisa diperpanjang dan hasil panen meningkat signifikan tanpa harus menambah luas lahan," jelasnya.
Untuk tanaman cabai maupun padi, panen di musim hujan kerap menyebabkan hasil rusak dan menurunkan kualitas, sehingga keberhasilan panen sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Di daerah seperti Gunung Kidul, yang terkenal dengan musim kemarau panjang, inovasi ini bisa jadi solusi ideal—memaksimalkan hasil di tengah tantangan kekeringan dan memperpanjang masa produktif tanaman meskipun cuaca tidak bersahabat. (Z-1)
Mens Rea adalah medium kritik sosial yang tajam dalam membedah ketimpangan struktural dan karut-marut sistem hukum di Indonesia.
Isu yang kerap beredar di masyarakat tersebut berkaitan dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan karena kucing itu sendiri.
Musim kemarau basah pada 2025 menjadi penghambat serius bagi siklus hidup pohon rambutan yang membutuhkan perlakuan alam tertentu untuk berbunga.
Gejolak harga bahan baku pakan kerap menjadi tantangan utama bagi keberlangsungan usaha peternakan di Indonesia.
Daging buah manggis mengandung pektin dan polifenol, sedangkan kulitnya mengandung xanthon, tanin, flavonoid, dan antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan alami.
Hilangnya jutaan hektare hutan akibat pembalakan liar telah merusak fungsi hidrologi daerah aliran sungai (DAS).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved