Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Fenomena “Kabur Aja Dulu” tengah menjadi sorotan di kalangan anak muda Indonesia sebagai bentuk ekspresi kegelisahan terhadap masa depan yang penuh ketidakpastian. Viralnya tagar ini menunjukkan bahwa generasi muda tengah menghadapi tekanan dari berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik di dalam negeri.
Dr. Muhammad Yorga Permana, Dosen dan Peneliti Tenaga Kerja di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, menjelaskan fenomena ini dipicu sejumlah faktor seperti sulitnya akses terhadap pekerjaan, tingginya biaya pendidikan, rendahnya tingkat upah, serta kebijakan pemerintah yang dinilai belum mampu membuka cukup banyak peluang bagi kaum muda.
“Fenomena ini sebetulnya bukan hal baru. Tetapi kini menjadi gunung es yang meledak akibat kombinasi angka pengangguran yang tinggi dan akses informasi yang lebih terbuka tentang peluang kerja serta beasiswa luar negeri,” jelas Yorga.
Data dari SBM ITB menunjukkan bahwa angka pengangguran resmi di Indonesia mencapai 7,2 juta orang, dengan hanya 40% pekerjaan yang masuk kategori sektor formal, sementara 60% sisanya adalah pekerjaan informal. Kondisi ini menimbulkan keresahan mendalam bagi anak muda yang menginginkan kehidupan lebih baik.
Fenomena ini juga merupakan bagian dari gerakan digital yang memanfaatkan media sosial untuk membangun kesadaran publik terhadap isu-isu politik dan ekonomi. Prof. Dr. Bagong Suyanto, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga (UNAIR), menyatakan, “Wacana tagar Kabur Aja Dulu merupakan gerakan yang muncul di era perkembangan digital. Mereka memanfaatkan media sosial untuk mengajak masyarakat peduli pada isu-isu politik maupun ekonomi.”
Menurut Prof. Bagong, ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah, terutama soal efisiensi anggaran yang dianggap tidak transparan dan inkonsistensi dalam program sosial, menjadi salah satu pemicu utama munculnya fenomena ini.
“Publik berharap ada transparansi, alasan efisiensi harusnya ada kejelasan akan dipergunakan untuk apa. Sebagian masyarakat membaca ada indikasi masalah pada keuangan negara sehingga merasa tidak baik-baik saja,” harap Bagong.
Dr. Hempri Suyatna, Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan UGM, melihat tagar ini sebagai ekspresi kritis sekaligus sindiran dari anak muda terhadap kondisi sosial politik di Indonesia.
“Situasi di dalam negeri dianggap kurang menguntungkan. Negara juga dianggap kurang hadir dalam memecahkan persoalan rakyat,” jelas Hempri.
Ia menambahkan bahwa ketidakpastian masa depan pendidikan dan lapangan kerja mendorong generasi muda memilih mencari peluang di luar negeri.
Fenomena “Kabur Aja Dulu” juga menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya brain drain, di mana talenta-talenta terbaik Indonesia memilih berkarier di luar negeri. Namun, Dr. Hempri berharap adanya ekosistem yang menarik agar para diaspora dapat kembali dan berkontribusi bagi pembangunan nasional.
“Saya kira diperlukan ekosistem dan dukungan yang menarik sehingga para diaspora yang di luar negeri dapat kembali ke Indonesia,” harap Hempri. (SBM ITB/Universitas Airlangga (UNAIR)/Universitas Gadjah Mada (UGM)/Z-2)
Pernyataan Prabowo merupakan bentuk serangan terhadap kebebasan berekspresi dan hak warga sipil untuk menyuarakan protes yang sah dan damai.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan munculnya isu dan tagar Indonesia Gelap adalah rekayasa koruptor.
WAKIL Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla alias JK, memandang positif tagline #kaburajadulu. Tagline tersebut viral dalam sepekan terakhir dan menuai kontroversi.
Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KPPMI) menyambut baik munculnya tagar #KaburAjaDulu yang viral
Tren itu pun harus direspons pemerintah dengan bijaksana, bukan dengan sembarang mencap orang tidak nasionalis atau bahkan dengan ucapan antipati.
Baznas RI bersama PT Paragon Technology and Innovation kembali memberikan pelatihan menjahit bagi para penerima manfaat zakat (mustahik) di Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang.
Prabowo menjelaskan bahwa disrupsi akibat AI dan robotika berpotensi menggeser banyak jenis pekerjaan manusia, terutama di sektor manufaktur dan riset.
Pemerintah telah menggulirkan Program Magang Nasional bagi lulusan perguruan tinggi, khusus untuk sarjana dan diploma yang baru lulus atau akan lulus dalam setahun terakhir.
Tingkat pengangguran muda di Indonesia berada di angka 17,3% dan menjadikannya tertinggi kedua di Asia setelah India.
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi meminta publik melemparkan kritik berbasis pada, bukan perasan semata.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonedia (Apindo) Bidang Ketenagakerjaan, Bob Azam menyatakan bahwa badai pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak hanya terjadi di Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved