Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Amil Zakat Nasional (Baznas) RI melalui Program Baznas Microfinance Desa (BMD) berhasil memberdayakan Sutisna, mustahik pelaku UMKM di Desa Tegalwaru, Bogor, Jawa Barat, yang kini berhasil meraup omzet hingga Rp700 juta per bulan dari usaha tas selempang wanita.
Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, mengatakan, keberhasilan Sutisna menjadi bukti nyata bahwa zakat yang dikelola secara produktif dapat menjadi solusi strategis dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi umat.
“Keberhasilan Sutisna adalah bukti bahwa zakat bisa mengangkat ekonomi mustahik jika dikelola dengan baik. Baznas tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membina agar mustahik dapat tumbuh menjadi muzaki. Ini adalah bagian dari ikhtiar Baznas dalam memberantas kemiskinan di Indonesia,” ungkapnya dilansir dari keterangan resmi, Selasa (27/5).
Ia menambahkan, Baznas berkomitmen untuk terus memperluas program pemberdayaan melalui Program Baznas Microfinance Desa, dengan harapan agar lebih banyak pelaku usaha kecil di pelosok Indonesia bisa meraih kemandirian serupa.
“Apa yang telah dilakukan Pak Sutisna hingga usahanya sukses sangatlah luar biasa. Kami berharap program-program Baznas seperti BMD ini dapat terus memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Dengan zakat yang dikelola secara tepat, kami yakin bisa membantu mustahik pelaku UMKM menuju kemandirian ekonomi,” ucapnya.
Sementara itu, penerima manfaat (mustahik) BMD Desa Bojongrangkas, Sutisna menyampaikan rasa syukur atas dukungan dan bantuan yang telah diberikan oleh Baznas untuk mengembangkan usahanya yang telah dirintis sejak 2019.
“Awalnya saya hanya punya dua mesin jahit dan mengerjakan semuanya sendiri. Setelah ada tambahan modal dari Baznas pada 2022, saya bisa tambah bahan baku dan pekerja. Sekarang, omzet yang saya dapatkan bisa mencapai Rp300–700 juta per bulan,” ujar Sutisna.
Dengan memanfaatkan platform penjualan digital, Sutisna berhasil memperluas pasar hingga ke luar daerah. Ia memproduksi berbagai jenis tas wanita dengan bahan premium dan mengikuti tren pasar. Strategi ini membuat permintaan produknya terus meningkat.
Tidak hanya fokus pada keuntungan, Sutisna juga turut memberdayakan warga desa di lingkungannya sebagai karyawan dan memberikan pelatihan menjahit agar memiliki keahlian yang bisa menunjang ekonomi keluarga.
“Saya memulai usaha ini benar-benar dari nol. Saat itu, mencari pekerjaan sangat sulit. Kebetulan di lingkungan Desa Tegalwaru banyak pengrajin tas, jadi saya mencoba terjun langsung memproduksi sendiri. Alhamdulillah, kini usaha ini telah berkembang dan bisa mempekerjakan sekitar 53 orang,” ujar Sutisna.
"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Baznas dan para muzaki yang telah menyalurkan zakatnya melalui Baznas. Bantuan ini sangat berarti bagi pelaku usaha mikro seperti saya. Semoga Baznas semakin sukses," ucapnya.
Sutisna berharap, keberhasilan usahanya bisa menginspirasi pelaku usaha kecil lainnya. Ia juga mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai dan menggunakan produk lokal demi memajukan ekonomi bangsa
“Mari cintai produk dalam negeri. Meskipun berasal dari desa kecil, produk kami memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk impor,” tandasnya. (H-2)
Zakat perusahaan memiliki peran strategis dalam memperkuat program-program pemberdayaan mustahik.
Pelaksanaan pembinaan oleh Kemenag yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti 75 awardee dari 15 perguruan tinggi.
Baznas RI bersama PT Paragon Technology and Innovation kembali memberikan pelatihan menjahit bagi para penerima manfaat zakat (mustahik) di Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang.
Baznas RI menggelar Baznas Awards 2025 sebagai bentuk apresiasi kepada berbagai pihak yang berkontribusi dalam memperkuat gerakan zakat di Indonesia. Salah satu penerimanya adalah Komeng.
Keberhasilan Ponco Sulistiawati menjadi contoh nyata dampak zakat dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
BAZNAS RI terus mendorong pelibatan aktif BAZNAS daerah dalam perencanaan dan implementasi program ZIS-DSKL yang berdampak langsung bagi mustahik.
Pelaksanaan pembinaan oleh Kemenag yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti 75 awardee dari 15 perguruan tinggi.
Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi BAZNAS dalam menghadapi persaingan era digital dan meningkatkan kualitas layanan filantropi berbasis teknologi.
Baznas berkomitmen untuk terus mengembangkan Program ZChicken sebagai pemberdayaan ekonomi mustahik di sektor kuliner dengan produk ayam krispi.
Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab moral Baznas dalam menjaga amanah umat dan memastikan proses pengelolaan zakat sesuai dengan ketentuan yang ada.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved