Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPATUHAN terhadap pengobatan dan dukungan sosial yang kuat merupakan kunci utama dalam proses pemulihan pasien yang mengalami Gangguan Bipolar (GB) dan Skizofrenia.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak tantangan yang menghambat kepatuhan pasien, mulai dari stigma negatif terhadap gangguan mental hingga efek samping dari obat-obatan psikiatri.
Gangguan Bipolar ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem, dari kondisi depresi mendalam hingga mania yang sangat energik.
Sementara itu, Skizofrenia merupakan gangguan mental serius yang memengaruhi pola pikir, persepsi, dan realitas pasien, termasuk halusinasi serta delusi.
Menurut Guru Besar Psikiatri Anak dan Remaja dari FKUI-RSCM, Tjhin Wiguna, seorang gangguan mental seperti GB dan Skizofrenia kini juga banyak menyerang anak-anak dan remaja.
“Dulu dianggap hanya menyerang orang dewasa, kini GB dan Skizofrenia juga berdampak signifikan pada usia muda,” ujarnya, di Jakarta (14/5).
Tjhin menjelaskan bahwa faktor risiko GB mencakup genetik, lingkungan, neurobiologis, dan psikososial, sedangkan pada Skizofrenia sering kali berkaitan dengan kelainan struktur otak.
Tantangannya, gejala awal pada anak dan remaja sering menyerupai perilaku normal atau tumpang tindih dengan gangguan lain seperti ADHD dan autisme, serta minimnya kesadaran akan pentingnya komunikasi terbuka.
Stigma sosial yang kuat terhadap gangguan mental membuat banyak anak maupun remaja menyembunyikan kondisi mereka, enggan berbagi, bahkan menolak menjalani pengobatan.
“Ada hambatan besar, terutama karena gangguan mental masih dianggap tabu, sehingga anak cenderung menyangkal atau menyimpan perasaannya,” jelas Tjhin.
Meski bersifat kronis, ia menekankan bahwa penanganan yang tepat dan komprehensif dapat membantu pasien mengelola gejala dan menjalani hidup yang lebih baik.
Perawatan yang efektif, bila dikombinasikan dengan dukungan dari keluarga dan lingkungan, memiliki dampak besar terhadap stabilitas emosional dan kualitas hidup pasien.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa FKUI-RSCM, Khamelia Malik. turut menyoroti pentingnya kepatuhan pengobatan pada pasien dewasa. Menurutnya, ketidakpatuhan dapat meningkatkan risiko kekambuhan, rawat inap, hingga bunuh diri.
“Ketika pasien tidak menjalankan terapi dengan baik, gejala bisa memburuk dan membahayakan dirinya maupun orang lain,” jelasnya.
Namun, Khamelia juga meyakini bahwa pasien dewasa dengan GB dan Skizofrenia masih bisa menjalani hidup produktif.
Dengan strategi coping yang efektif, seperti mencari dukungan, belajar menyelesaikan masalah, dan manajemen stres, mereka tetap bisa aktif secara sosial dan profesional.
Pengelolaan GB dan Skizofrenia memerlukan pendekatan multidisipliner yang mencakup:
Penting bagi orang tua, pendidik, dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang tanda-tanda awal gangguan mental serta pentingnya akses perawatan yang berkelanjutan dan bebas stigma. (Z-10)
Peneliti Johns Hopkins kembangkan "brain organoids" untuk mendeteksi skizofrenia dan bipolar dengan akurasi 92%.
Skizofrenia merupakan gangguan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan zat biokimia atau neurotransmiter di dalam otak.
Skizofrenia adalah gangguan mental serius yang memengaruhi perilaku, emosi, dan kemampuan berkomunikasi. Ketahui penyebab, gejala, dan metode pengobatan.
Penelitian terbaru menemukan remaja yang mengonsumsi antibiotik doxycycline memiliki risiko 30%-35% lebih rendah mengalami skizofrenia saat dewasa.
Peneliti menemukan antibodi mini dari unta dan llama, disebut nanobody, mampu menembus otak dan berpotensi mengobati penyakit seperti Alzheimer dan skizofrenia.
Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang sering disalahpahami. Pelajari gejala, faktor risikonya.
Penelitian terbaru menunjukkan kesejahteraan lansia tidak hanya kesehatan fisik, juga pada dukungan sosial, kondisi mental positif, dan gaya hidup sehat.
"Kalimat 'semangat ya' itu seringkali tidak membantu, malah memperburuk keadaan. Lebih baik katakan, 'aku nggak tahu kamu sedang melalui apa, tapi aku ada di sini kalau kamu butuh'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved