Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Antibodi Mini dari Unta dan Llama Buka Jalan Baru Pengobatan Alzheimer dan Skizofrenia

Thalatie K Yani
07/11/2025 11:11
Antibodi Mini dari Unta dan Llama Buka Jalan Baru Pengobatan Alzheimer dan Skizofrenia
Ilustrasi(freepik)

PARA ilmuwan menemukan harapan baru dalam pengobatan penyakit otak seperti Alzheimer dan skizofrenia melalui antibodi mini yang berasal dari unta dan llama. Disebut nanobody, protein berukuran sangat kecil ini mampu menembus otak lebih mudah dibanding obat konvensional, membuka peluang besar bagi terapi penyakit saraf di masa depan.

Penelitian yang diterbitkan pada 5 November di jurnal Trends in Pharmacological Sciences milik Cell Press menjelaskan ukuran nanobody yang sangat kecil memungkinkan mereka menjangkau dan memengaruhi sel-sel otak secara lebih efektif, dengan efek samping yang minimal.

“Camelid nanobodies membuka era baru terapi biologis untuk gangguan otak dan merevolusi cara kita memandang pengobatan,” ujar Philippe Rondard, penulis koresponden dari Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) di Montpellier, Prancis. “Kami percaya mereka dapat membentuk kelas obat baru di antara antibodi konvensional dan molekul kecil.”

Ditemukan dari Sistem Imun Unta dan Llama

Nanobody pertama kali ditemukan pada awal 1990-an oleh ilmuwan Belgia yang meneliti sistem kekebalan hewan unta dan llama. Mereka menemukan selain antibodi biasa yang terdiri dari rantai berat dan ringan, hewan ini juga menghasilkan versi lebih sederhana yang hanya memiliki rantai berat. Fragmen aktif dari antibodi ini, yang kini disebut nanobod, berukuran sekitar sepersepuluh dari antibodi pada umumnya.

Antibodi konvensional banyak digunakan untuk terapi kanker dan penyakit autoimun, namun efektivitasnya dalam menangani gangguan otak masih terbatas. Bahkan, beberapa terapi Alzheimer berbasis antibodi sering dikaitkan dengan efek samping yang tidak diinginkan.

Struktur nanobody yang ringkas memberi keunggulan tersendiri. Mereka dapat menembus penghalang darah-otak dan bekerja lebih efisien pada targetnya, berpotensi menghasilkan hasil terapi yang lebih baik dengan risiko efek samping yang lebih rendah. Studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa nanobody dapat memulihkan perilaku normal pada tikus dengan model penyakit skizofrenia dan gangguan neurologis lainnya.

Cara Kerja dan Langkah Menuju Uji Klinis

“Ini adalah protein kecil yang sangat mudah larut dan bisa memasuki otak secara pasif,” jelas Pierre-André Lafon, penulis koresponden lain dari CNRS. “Berbeda dengan obat molekul kecil yang harus dirancang khusus untuk menembus penghalang darah-otak dan sering menimbulkan efek samping.”

Selain itu, nanobody lebih mudah diproduksi dan dimurnikan dibanding antibodi tradisional. Molekul ini juga dapat direkayasa secara presisi untuk menargetkan molekul spesifik di otak.

Sebelum diuji pada manusia, para peneliti menegaskan perlunya studi toksikologi dan penilaian keamanan jangka panjang. Mereka juga perlu memastikan stabilitas, daya tahan, serta dosis yang tepat dari nanobody.

“Diperlukan nanobody dengan kualitas klinis dan formulasi stabil agar tetap aktif selama penyimpanan dan transportasi,” ujar Rondard.

Lafon menambahkan, “Laboratorium kami telah mulai mempelajari beberapa parameter penting dan baru-baru ini menunjukkan bahwa kondisi pengobatan yang dikembangkan kompatibel dengan penggunaan jangka panjang.”

Temuan ini menjadi langkah awal menuju revolusi baru dalam dunia pengobatan otak. Di mana protein kecil dari hewan padang pasir dapat menjadi kunci penyembuhan penyakit besar manusia. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya