Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KONSUMSI karbohidrat secara berlebihan telah terbukti meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, obesitas, hingga gangguan metabolisme.
Penelitian dari American Heart Association, Harvard T H Chan School of Public Health, serta laporan KlikDokter menunjukkan bahwa asupan karbohidrat sederhana yang berlebihan dapat memicu lonjakan trigliserida, penumpukan lemak tubuh, serta menyebabkan kelelahan dan kembung.
Memiliki pola makan yang tinggi karbohidrat sederhana seperti gula tambahan dan makanan olahan, dapat meningkatkan kadar trigliserida dalam darah.
Kadar trigliserida yang tinggi ini menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko terkena penyakit jantung dan stroke.
Penumpukan lemak pada pembuluh darah akibat tingginya kadar trigliserida juga dapat menyebabkan penyumbatan yang berbahaya bagi fungsi jantung dan otak
Harvard T H Chan School of Public Health menambahkan bahwa konsumsi karbohidrat berlebihan mempercepat penimbunan kalori, yang kemudian disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak.
Akumulasi lemak ini dapat menyebabkan peningkatan berat badan yang drastis serta meningkatkan risiko obesitas.
Selain itu, konsumsi karbohidrat yang berlebihan juga dapat mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur nafsu makan, sehingga seseorang mungkin cenderung makan lebih banyak tanpa menyadarinya.
Selain dampak pada berat badan dan kesehatan jantung, bahwa kelebihan karbohidrat dapat membuat tubuh merasa cepat lelah. Hal ini disebabkan oleh lonjakan gula darah yang tiba-tiba setelah makan, yang kemudian dengan cepat menurun, mengakibatkan rasa lemas.
Selain itu, tubuh yang menyimpan terlalu banyak karbohidrat juga menahan lebih banyak air, yang menyebabkan perut kembung dan ketidaknyamanan.
Untuk mencegah dampak buruk tersebut, penting untuk mengatur pola makan sehari-hari dengan baik.
Memilih karbohidrat kompleks, seperti sayuran, buah utuh, kacang-kacangan, dan biji-bijian sangat dianjurkan. Membatasi konsumsi gula tambahan dan makanan olahan juga menjadi kunci utama.
Selain itu, memperhatikan porsi makan, mengombinasikan karbohidrat dengan protein dan lemak sehat, serta rajin membaca label gizi pada kemasan makanan dapat membantu menjaga asupan karbohidrat tetap seimbang.
Karbohidrat memang merupakan sumber energi yang penting, namun jika dikonsumsi secara berlebihan, dapat membawa berbagai risiko kesehatan. Mengelola pola makan dengan bijak menjadi langkah preventif untuk mencapai kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas. (berbagai sumber/Z-1)
Seorang pria paruh baya mengalami pembesaran perut yang tidak wajar selama bertahun-tahun. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanyalah akibat kenaikan berat badan atau obesitas biasa
Program ini dirancang sebagai layanan berbasis medis yang aman. Melalui skrining ketat, penentuan dosis personal, hingga pendampingan ahli gizi.
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Studi terbaru mengungkap tingkat obesitas di AS melonjak drastis hingga 70% setelah standar pengukuran baru yang menggabungkan BMI dengan lingkar pinggang diterapkan.
Tingginya angka obesitas menjadi salah satu alasan utama masyarakat menjadikan diet sebagai resolusi tahunan.
Hormon menjadi faktor adanya penumpukan lemak, memang risikonya terjadi pada usia di atas 40, terutama pada perempuan.
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Nyeri leher tak selalu akibat salah tidur. Dalam kondisi tertentu, sakit leher bisa menjadi gejala serangan jantung. Kenali tanda dan risikonya.
Pola makan berperan besar dalam kesehatan jantung. Kenali 5 jenis makanan tinggi garam, gula, dan lemak yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan sebaiknya dihindari.
Studi terbaru mengungkap tingkat obesitas di AS melonjak drastis hingga 70% setelah standar pengukuran baru yang menggabungkan BMI dengan lingkar pinggang diterapkan.
Studi terbaru mengungkap jalan kaki lebih dari 10 menit dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini, terutama bagi orang dengan gaya hidup sedentari.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved