Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
AMERICAN Heart Association (AHA) menekankan bahwa mayoritas makanan ultra-proses berdampak buruk bagi kesehatan, khususnya kesehatan jantung. Karena itu, lembaga ini menilai industri makanan seharusnya berhenti memproduksinya dan regulator perlu lebih tegas dalam membatasi peredarannya.
Meski begitu, AHA juga menyoroti pertanyaan penting: apakah semua makanan ultraproses pasti tidak sehat? Jawabannya, tidak sepenuhnya. Dalam pedoman baru yang diterbitkan di jurnal Circulation, AHA menyebut ada beberapa pengecualian, seperti roti gandum utuh tertentu, yogurt rendah gula, saus tomat, dan selai berbahan kacang. Bahkan, makanan ultraproses yang dianggap lebih sehat ini tetap perlu diawasi konsumsinya agar benar-benar bermanfaat.
Pedoman baru dari AHA mendapat apresiasi luas dari kalangan medis dan pembuat kebijakan, dengan para ahli menilai langkah ini hadir pada waktu yang tepat. Data terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, yang dirilis Kamis menunjukkan bahwa warga Amerika berusia di atas 1 tahun memperoleh sekitar 55% asupan kalori hariannya dari makanan ultraproses. Angka ini bahkan lebih tinggi pada anak-anak usia 1 hingga 18 tahun, yakni mencapai 62%.
Temuan tersebut menimbulkan kekhawatiran karena laporan AHA menunjukkan adanya kaitan yang kuat antara konsumsi makanan ultra-proses dan berbagai masalah kesehatan. Risiko yang dimaksud mencakup serangan jantung, stroke, diabetes tipe 2, obesitas, hingga kematian dari beragam penyebab.
AHA membagi makanan ultraproses ke dalam tiga kategori: paling tidak sehat, cukup sehat, dan sehat. Dalam kelompok sehat, contohnya adalah buah dan sayuran segar atau beku tanpa tambahan gula maupun garam, biji-bijian utuh seperti oat dan beras merah, kacang-kacangan serta polong kering tanpa garam, minyak nabati, susu rendah lemak, yogurt tawar, serta daging tanpa lemak yang tidak diolah. Selain itu, susu, air, minuman tanpa pemanis, produk nabati rendah gula, garam, dan lemak tambahan.
Kategori makanan yang dianggap cukup sehat mencakup nasi putih, pasta, produk susu murni, roti gandum olahan segar, kacang asin, buah kalengan dalam sirup ringan, kacang kalengan dengan tambahan garam, keju keras, pengganti telur, serta sup rendah sodium dan rendah lemak. Produk makanan kemasan yang berasal dari kelompok sehat sebelumnya juga dimasukkan ke dalam kategori ini.
Kategori tidak sehat mencakup berbagai makanan yang kerap kali menjadi penyebab makanan kesehatan, seperti daging merah berlemak, daging babi, serta daging olahan (nugget ayam, hot dog, sosis). Di antaranya adalah mentega, lemak babi, minyak tropis seperti minyak kelapa, krim asam, dan jus buah murni 100%. Gula, madu, sirup maple, kerupuk, buah kering atau kalengan yang diberi pemanis, keripik kentang atau tortilla, dan kentang goreng, permen, mi instan, pizza, camilan buah kenyal, dan makaroni instan.
Panduan ini bertujuan untuk membantu masyarakat memilih makanan ultraproses dengan lebih bijak, hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan menjaga kesehatan. (CNN/Z-2)
Studi Harvard mengungkap konsumsi makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko kanker usus pada wanita hingga 45%, terutama usia di bawah 50 tahun.
Tinjauan global dalam The Lancet menunjukkan konsumsi makanan ultra-proses terkait risiko berbagai penyakit kronis.
Konsumsi tinggi makanan ultra-olahan (ultra-processed foods/UPF) secara signifikan meningkatkan risiko kanker paru.
Sebuah studi terbaru mengungkap konsumsi lebih dari 11 porsi makanan ultra-olahan per hari dapat meningkatkan risiko munculnya gejala awal penyakit Parkinson hingga 2,5 kali lipat.
Sebuah studi internasional terbaru menunjukkan konsumsi makanan ultra-proses (UPF) secara signifikan meningkatkan risiko kematian dini.
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Nyeri leher tak selalu akibat salah tidur. Dalam kondisi tertentu, sakit leher bisa menjadi gejala serangan jantung. Kenali tanda dan risikonya.
Pola makan berperan besar dalam kesehatan jantung. Kenali 5 jenis makanan tinggi garam, gula, dan lemak yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan sebaiknya dihindari.
Studi terbaru mengungkap tingkat obesitas di AS melonjak drastis hingga 70% setelah standar pengukuran baru yang menggabungkan BMI dengan lingkar pinggang diterapkan.
Studi terbaru mengungkap jalan kaki lebih dari 10 menit dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini, terutama bagi orang dengan gaya hidup sedentari.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved