Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG Klinis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya Kota Denpasar, Bali Nena Mawar Sari membagikan tips menanggapi pertanyaan yang dirasa sensitif saat Lebaran.
Beberapa pertanyaan seperti kapan menikah, kapan punya anak dan lainnya kerap dilontarkan kerabat atau anggota keluarga saat sapa menyapa pada momen Lebaran, Nena menjelaskan hal itu sebenarnya merupakan pertanyaan yang netral.
"Perlu disadari bahwa pertanyaan-pertanyaan itu adalah netral sebenarnya. Meskipun memang bagi beberapa orang pertanyaan itu dianggap
tidak sopan dan melewati batasan," ujar Nena, dikutip Senin (31/3).
Dia menambahkan bahwa memahami bahwa pertanyaan tersebut netral menjadi hal yang penting. Hal ini juga diharapkan agar suasana hati
saat libur juga tidak terganggu.
Kedua, tambah dia, orang yang biasanya menanyakan tentang kapan menikah, kapan punya anak dan lain sebagainya adalah orang yang tidak kenal secara personal atau dekat.
"Sehingga basa-basinya kalau tidak seputar kapan nikah, kapan punya anak, biasanya komentarnya lebih ke kok gemukkan, kok kurusan, jadi
lebih ke fisik," tambah dia.
Sementara bila seseorang memiliki kedekatan secara emosional biasanya akan menanyakan mengenai kabar atau kondisi belakangan.
Dalam menanggapi pertanyaan yang dirasa sensitif, Nena merekomendasikan untuk melakukan beberapa hal, yakni dengan tersenyum dan kemudian menghindar.
"Paling tidak orang tersebut juga tahu bahwa kita tidak nyaman dengan situasi tersebut," tegasnya.
Kedua, menanggapinya dengan santai dan bercanda. "Misalnya, kapan nikah? Ya besok kalau tidak kesiangan," katanya.
Kemudian bila menghadapi orang yang dirasa toksik, dapat senyum dan berlalu saja.
"Jadi tidak mesti semuanya diberikan jawaban yang lengkap," ujarnya.
Dalam menjawab agar pertanyaan serupa dapat dipahami oleh keluarga atau orang yang lebih tua, perlu diketahui dalam hidup kita terdapat tiga layer relasi, yakni orang yang sangat dekat dengan kita, kedua adalah orang terdekat, dan ketiga adalah Tuhan.
Untuk menanggapi orang terdekat bisa saja memilih untuk merespon tersenyum, berlalu dan hanya mengatakan, 'Doakan saja'.
Sementara untuk layer kedua yakni orang tua atau keluarga dekat, bisa menyampaikan alasan meski tidak rinci.
Dan pada layer ketiga, menyerahkan sepenuhnya pada Tuhan lewat lantunan doa.
Psikolog yang juga praktik di klinik Bali Psikolog ini mengatakan, pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial, sehingga sapa menyapa dengan keluarga, kerabat terutama pada momentum Lebaran merupakan hal yang wajar.
Namun, setiap orang memang bisa saja memiliki luka batin, ada yang sembuh dan belum sembuh sehingga memiliki sensitivitas masing-masing atas pertanyaan.
"Saya rasa hal ini (pertanyaan yang dianggap sensitif) jangan sampai menghambat kebahagiaan kita dalam menyambut Hari Raya Lebaran,"
pungkasnya. (Ant/Z-1)
Keseimbangan antara karier ibu bekerja dan pengasuhan sangat ditentukan oleh seberapa kuat dukungan keluarga.
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji menekankan bahwa pemulihan pascabencana harus lebih dari sekadar penyediaan kebutuhan material, tetapi juga trauma healing
RIANTI Cartwright memilih merayakan Natal 2025 dengan cara sederhana bersama keluarga di rumah.
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat Kristiani memaknai Natal tahun ini sebagai panggilan untuk kembali merawat keluarga
Evaluasi kesehatan harus dilakukan lebih mendalam jika rencana liburan melibatkan orang tua atau lansia.
Zendaya habiskan waktu libur akhir tahun bersama keluarga Tom Holland di London.
Pertanyaan mengenai pekerjaan, karier, status, hingga kehidupan pribadi seperti 'Kapan nikah?' dan 'Kapan punya anak?' bisa membuat orang yang ditanya merasa terusik.
Kuis untuk mengukur seberapa narsistik seseorang biasanya melibatkan pertanyaan tentang perilaku, sikap, dan bagaimana seseorang memandang diri mereka sendiri
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved