Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PENDIDIKAN menjadi kunci konvergensi pemahaman keIslaman di Indonesia terus berlangsung, sehingga memunculkan generasi baru muslim yang memiliki visi keislaman terbuka dengan tetap menjaga tradisi keislaman yang kuat. Mereka itu adalah kekuatan Islam Indonesia masa depan, menjadi kekuatan Islam di Indonesia yang tidak dimiliki negara lain.
Pandangan itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah ( Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat memberikan tausyiyah di depan para undangan dan santri Pesantren Cendekia Amanah, Kalimulya, Depok, akhir pekan lalu.
Hadir dalam acara bertajuk Berbagi Cahaya Ramadhan yang dihelat Pesantren Cendekia Amanah itu antara lain, Deputi 1 Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olah Raga Prof. Dr. Asrorun Ni’am Sholeh, Wali Kota Depok Dr Supian Suri, Direktur GTK Madrasah Kemenag, Pendiri ESQ 165 Dr. Ary Ginanjar Agustian, Ketua Umum Yayasan Muslim Sinar Mas (YMSM) Dr. Saleh Husin, dan unsur Pemipinan Muhamamdiyah, Pimpinan Nahdlatul Ulama ( NU), dan Majelis Ulama Indonesia ( MUI).
Mengawali tausiyahnya, Abdul Mu’ti yang juga -Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini- mengaku merasa terhormat dan sangat menghargai cara Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah Kyai Dr. Cholil Nafis memuliakan tamunya.
Mu’ti merasa tidak ada jarak antara keduanya, meski berada di dua organisasi yang berbeda -KH Cholil Nafis dari PBNU-namun memiliki kimia yang sama.
“Beliau ini memang biasa menjadi partner saya di beberapa stasiun televisi untuk acara-acara yang berkaitan dengan ceramah agama Islam, dengan beliau tidak perlu diarahkan, tanpa ada skenario, insyaallah sudah saling mengisi sehingga selama satu setengah jam siaran itu tanpa ada salah”, ucapnya sambil senyum.
“Ini karena kami sudah memiliki kemistri yang sama, dan kalau semua umat itu seperti Kiai Cholil dan mungkin juga bisa seperti saya, Indonesia ini akan bebas dari persoalan-persoalan khilafiyah dan furukiyah”, lanjutnya yang mendapat tepukan meriah hadirin.
Melihat kenyataan sekarang Mu’ti menterjemahkan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) bukan lagi kebangkitan para ulama, tetapi kebangkitan kaum cendekiawan, atau kebangkitan kaum intelektual. Kenyataan yang berkembang di kalangan NU banyak yang menguasai kitab putih, selain tentu kitab kuning. Sering dibuat perbandingan kalau NU kitab kuning, Muhammadiyah kitab putih. “Alhamdulillah NU yang menguasai kitab putih banyak, Muhammadiyah menguasai kitab kuning juga banyak”, cetusnya.
Hemat dia, jika dahulu orang menyebut Muhammadiyah modernis, NU tradisionalis sudah tidak relevan lagi. Mengutip buku Fazrul Rachman Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Traditions sekitar tahun 1982-an memang masih menyebut kesenjangan modernis dan tradisional. Mu’ti katakan kesenjangan kelompok modernis dan kaum tradisionalis kini hampir tidak ada lagi.
“Pertemuan seperti ini dimana tokoh dari berbagai ormas sangat cair, itu tidak terjadi di negara Muslim lain”, tutur Mu'ti yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta senafas dengan Kyai Cholil yang juga Doktor dari kampus UIN yang sama itu.
Mengapa demikian, Abdul Mu’ti menjelaskanya dengan mengutip Prof Kuntowijoyo dalam buku Muslim Tanpa Mesjid, buku terbitan 1994 yang menjelaskan meski banyak generasi muslim berasal dari latar belakang yang berbeda-beda tetapi kemudian memiliki sisi keislaman yang hampir sama.
Menurut Prof Kunto yang disampaikan Abdul Mu’ti, ada tiga konvergensi yang terjadi. Pertama konvergensi antara kelompok tradisional dan kelompok modernis, tidak ada lagi perbedaan yang sangat tajam antara NU dan Muhammadiyah. Kedua konvergensi antara kelompok santri dan abangan, yang juga sudah nyaris tidak terjadi. Ketiga konvergensi politik, hampir tidak ada perbedaan antara partai Islam dengan partai yang tidak Islam atau partai nasionalis. Abdul Mu’ti mencontohkan PDI Perjuangan yang dulu identik dengan kelompok yang cederung pada abangan sekarang ini banyak santri yang berada di PDI Perjuangan. Juga banyak santri ada di partai Golkar yang identik dengan abangan.
Masih mengutip buku yang sama, konvergensi terjadi, pertama, sejak Presiden Soeharto mewajibkan pendidikan agama sebagai pelajaran wajib di semua jenjang dan jenis pendidikan, yang sebelumnya pendidikan agama hanya pilihan. Sehingga di situ anak anak dari keluarga abangan, keluarga santri, keluarga priyayi belajar agama dari guru yang sama dan juga dari buku pelajaran agama yang sama.
Kedua, karena peran IAIN, tempat sebagian besar kalangan santri kuliah di IAIN, yang mereka belajar dari dosen yang sama, literatur yang sama. Menurut Abdul Mu’ti perbedaan Muhammadiyah dan NU sudah hampir tidak terlihat. “Perbedaannya mungkin afiliasi organisasi saja, pandangan keagamaan sudah hampir sama” tukasnya.
Faktor ketiga, menurut pendapat Abdul Mu’ti, banyak anak-anak NU yang belajar di kampus dan sekolah Muhammadiyah, 70 persen mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surakarta itu dari NU, begitu juga di Universitas Muhammadiyah Malang. “Ketika mereka belajar di Muhammadiyah ada kemungkinan, dia masuk Muhammadiyah, kemungkinan lain NU nya makin kuat, yang banyak terjadi makin kuat” urainya sambil tertawa.
Menutup tausiyahnya, Abdul Mu’ti, yang juga Sekfretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan irinya kepada Cholil Nafis. Diceritakan dalam perjalanan menuju Cendekia Amanah Abdul Mu’ti melihat YouTube MUITV program Sang Kiai Gus Cholil. Baru tahu ternyata Gus Cholil ini anak saudagar Madura, kemudian menjadi ulama. Abdul Mu’ti pun menyampaikan orang boleh iri kepada dua orang, satu kepada orang kaya yang berderma dengan kekayaannya, kedua kepada orang alim yang mengamalkan ilmunya.
“Karena itu saya ke sini iri kepada Kiai Cholil, karena beliau memiliki dua-duanya. Beliau ini orang kaya yang banyak bersedekah, dan orang alim yang banyak mengamalkan ilmunya”.
Abdul Mu’ti terinspirasi untuk kembangkan pesantren. Ia ceritakan Buyutnya dulu punya pesantren. Banyak santrinya dari Tebu Ireng, Demak dan daerah lain. Sekarang pesantren dilanjutkan oleh sepupunya yang NU, tetapi alumni Tsanawiyah dan Aliyah Muhammadiyah dan menjadi Ketua PCNU. “Inilah hebatnya Islam di Indonesia dimana Muhammadiyah dan NU tidak menjadi dua organisasi yang salin berseteru, tapi seperti dua sayap burung Garuda. Burung Garuda bisa terbang tinggi karena dua sayap itu mengepak, dua sayap itu Muhammadiyah dan NU.(H-2)
PRESIDEN Prabowo mengatakan peran strategis NU berperan dalam menjaga pilar kebangsaan melalui persatuan
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, menghadiri puncak peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Malang
PRESIDEN Prabowo Subianto hadir dalam acara Mujahadah Kubro memperingati Hari Lahir (Harlah) Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2).
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga stabilitas dan kekuatan bangsa.
NAHDLATUL Ulama (NU) Kalimantan Timur akan menggelar puncak peringatan Hari Lahir Satu Abad NU Miladiyah pada 31 Januari 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.
Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengatakan pelapor adalah bagian dari Aliansi Pemuda NU dan Aliansi Pemuda Muhammadiyah.
PROFESI dokter sejak awal berdiri bukanlah profesi ekonomi. Ia bukan lahir dari logika pasar, tetapi dari etika pertolongan.
DUNIA pendidikan tengah sakit. Gejalanya bukan hanya kesenjangan dan kualitas yang timpang, melainkan juga kegagalan mendasar: ia tidak lagi relevan dengan denyut nadi kehidupan.
Guru kelas 1 UPTD SDN Sawah 01, Mulyani, mengungkapkan dirinya telah mengabdikan diri mengajar di sekolah tersebut selama lebih dari 30 tahun.
Di sektor pendidikan, BenQ fokus mendukung metode Bring Your Own Device (BYOD) yang memungkinkan integrasi perangkat pribadi siswa ke dalam ekosistem digital sekolah secara aman.
pemerintah perlu refleksi dan berkolaborasi untuk menjamin hak serta memberikan kesejahteraan bagi warga negara. Hal itu ia katakan merespons kasus anak SD yang bunuh diri di NTT.
Disiplin belajar, pengelolaan waktu, dan membantu orang tua disebutnya sebagai fondasi karakter.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved