Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMAJUAN teknologi pengamatan cuaca menjadi semakin penting bagi Indonesia, negara yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem. Sebagai solusi inovatif, Multi-Parameter Phased Array Weather Radar (MP-PAWR) hadir untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca. Teknologi ini diharapkan dapat mencegah dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir dan badai dengan memberikan data real-time curah hujan beresolusi tinggi yang lebih akurat untuk analisis cuaca ekstrem.
Sopia Lestari, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan pentingnya persiapan menghadapi bencana hidrometeorologi. Terlebih lagi, dengan potensi penggunaan spaceborne Doppler radar (Cloud Profiling Radar-EarthCARE) yang baru saja dirilis pada Mei 2024.
“Satelit ini memiliki kemampuan memantau pergerakan awan secara vertikal. Kemampuan ini sangat membantu dalam pencegahan bencana melalui pemantauan cuaca yang lebih akurat,” ungkap Sopia, Senin (17/2).
Sopia menekankan bahwa akurasi perkiraan cuaca sangat bergantung pada kualitas instrumen pengamatan cuaca, salah satunya adalah kemampuan instrumen pengamatan cuaca yang memiliki resolusi spasial dan temporal yang tinggi.
“Informasi detail ini sangat berguna untuk memprediksi cuaca ekstrem, terutama di wilayah rawan banjir seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya,” jelasnya.
Aplikasi teknologi ini menjadi sangat relevan bagi masyarakat karena dapat membantu memperkirakan potensi banjir dengan lebih akurat. Sopia mencontohkan pentingnya akurasi pemantauan cuaca yang akurat pada tahun 2020, ketika Indonesia dilanda banjir besar dengan curah hujan mencapai 300 mm per hari.
“Data dari satelit GSMAP menunjukkan intensitas curah hujan yang tinggi, dan ini konsisten dengan data curah hujan dari BMKG. Hal ini membuktikan betapa pentingnya peran teknologi dalam mitigasi bencana,” jelas Sopia.
Dengan melihat kasus ini, Sopia menegaskan bahwa Indonesia yang memiliki karakteristik cuaca yang dipengaruhi oleh lokal topografi sehingga membutuhkan teknologi pengamatan cuaca yang dapat memantau cuaca ekstrem secara lokal pula.
“Di Indonesia, prediksi cuaca menghadapi tantangan tersendiri karena situasi geografis yang unik dan topografi yang kompleks sehingga mempengaruhi pola cuaca secara signifikan,” ungkap Sopia.
Menurutnya, hal ini membuat prediksi cuaca di Indonesia lebih sulit dibandingkan wilayah lain yang lebih homogen secara geografis.
Pengamatan radar cuaca di Jakarta menunjukkan bahwa radar dapat dengan mudah menangkap puncak curah hujan maksimum yang terjadi di pesisir pantai pada pagi hari dan di daratan pada malam hari. Namun, model perkiraan cuaca terkadang kurang akurat dalam memprediksi lokasi dengan intensitas curah hujan tertinggi.
“Untuk meningkatkan akurasi model prediksi ini, diperlukan input data observasi yang lebih detail, contohnya dengan menggunakan radar cuaca MP-PAWR,” terang Sopia.
Keunggulan MP-PAWR tidak hanya terletak pada kemampuannya menghitung curah hujan. Radar ini juga dapat memperkirakan bentuk droplet air, seperti es, salju, atau curah hujan, dengan perekaman data setiap 30 detik dan 120 sudut elevasi. Kemampuan ini tidak dimiliki oleh radar konvensional.
Secara umum, radar cuaca bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik ke udara untuk mendeteksi objek seperti awan dan butiran hujan (droplet). Sinyal yang dipantulkan kemudian direkam oleh penerima radar dalam bentuk reflektivitas, parameter bentuk droplet (ZDR), serta informasi fisik hidrometeor lainnya.
“Keunggulan utama dari pendekatan ini adalah kemampuannya melakukan pengamatan tiga dimensi yang lebih akurat,” kata Sopia.
Dengan teknologi ini, puncak intensitas curah hujan beserta distribusinya dapat dipantau secara lebih konsisten dan detail, terutama di wilayah Indonesia yang memiliki topografi kompleks.
Sopia menyimpulkan bahwa pemanfaatan teknologi satelit dalam prediksi cuaca memberikan harapan baru dalam upaya mitigasi bencana hidrometeorologi di Indonesia.
Data yang lebih akurat dan respons yang lebih cepat akan meningkatkan kesiapan dan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bencana secara signifikan.
“Kemajuan teknologi MP-PAWR bukan hanya alat pemantau, tetapi juga langkah strategis dalam pencegahan dan mitigasi bencana di masa depan. Diharapkan BMKG, Indonesia khususnya, dapat segera memiliki instrumen penting ini,” tutup Sopia. (H-3)
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berupaya mempercepat hilirisasi riset melalui program BRIN Goes to Industry.
Sarah Nuraini Siregar dari BRIN menyoroti penggunaan istilah "oknum" untuk anggota polisi, menegaskan tindakan individu mencerminkan institusi.
BRIN menjelaskan lubang besar di Aceh Tengah bukan fenomena sinkhole, melainkan longsoran geologi akibat batuan tufa rapuh, hujan lebat, dan faktor gempa bumi.
WILAYAH pesisir Indonesia menghadapi tekanan yang semakin kompleks, mulai dari abrasi, banjir rob, kenaikan muka air laut, hingga keterbatasan ruang.
PENCEMARAN pestisida di Sungai Cisadane dapat ditangani melalui restorasi ekosistem sungai lewat rehabilitasi zona riparian menurut peneliti BRIN
pencemaran Sungai Cisadane oleh pestisida dapat menimbulkan efek kesehatan. Meskipun air permukaan sungai itu bisa tampak jernih kembali, ada ancaman toksititas
BNPB menyebur memasuki awal Maret, bencana hidrometeorologi masih mendominasi di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Jawa Timur (Jatim).
persiapan Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026 M, di tengah proyeksi 143,9 juta pergerakan masyarakat selama periode libur mudik lebaran 2026.
BELUM hilang dalam ingatan kita semua, sejumlah wilayah di Sumatra mengalami bencana hidrometeorologi yang sangat parah
Berdasarkan analisis BBMKG Denpasar, monsun Asia diprakirakan masih akan memberikan pengaruh kuat disertai dengan terbentuknya pola pertemuan angin
Meskipun modifikasi cuaca merupakan ikhtiar mitigasi yang penting, teknik ini bukanlah solusi permanen.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) masih akan berlangsung hingga akhir April atau awal Mei 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved