Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah upaya global menanggulangi HIV/AIDS, satu kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih adalah remaja dan kaum muda. Meskipun banyak kemajuan telah dicapai, kenyataannya, remaja dan orang muda kini menyumbang bagian yang signifikan dari mereka yang hidup dengan HIV di seluruh dunia.
Di tahun 2023, lebih dari 360.000 orang muda berusia 15 - 24 tahun terinfeksi HIV. Di mana, hampir 140.000 di antaranya remaja antara usia 15-19 tahun.
Angka ini menunjukkan meskipun banyak strategi pencegahan yang sudah diterapkan, tantangan besar masih dihadapi dalam melindungi remaja dari infeksi HIV. Peningkatan prevalensi di kalangan kelompok ini mencerminkan kekurangan dalam akses ke layanan kesehatan yang esensial, serta pentingnya pendekatan yang lebih efektif untuk pendidikan seks dan pengujian HIV.
Salah satu isu yang memperburuk situasi ini adalah rendahnya tingkat pengujian HIV di kalangan remaja, terutama di Afrika Timur dan Selatan, yang merupakan wilayah dengan angka infeksi HIV tertinggi. Hanya 29% remaja perempuan dan 19% remaja laki-laki di Afrika Timur dan Selatan yang telah melakukan tes HIV dalam 12 bulan terakhir dan menerima hasil tes tersebut. Bahkan, di beberapa negara di Afrika Barat dan Tengah, angka pengujian jauh lebih rendah.
Di tingkat global, remaja perempuan menyumbang lebih dari dua pertiga dari semua infeksi HIV baru di kalangan remaja. Di Afrika sub-Sahara, hampir enam kali lebih banyak remaja perempuan yang terinfeksi HIV dibandingkan remaja laki-laki pada tahun 2023.
Hal ini mencerminkan perbedaan perilaku berisiko antara remaja putri dan putra di wilayah tersebut, serta faktor sosial dan ekonomi yang memperburuk kerentanannya terhadap infeksi HIV.
Fenomena yang berbeda terjadi di Asia Timur dan Pasifik, di mana lebih banyak remaja laki-laki yang terinfeksi HIV dibandingkan remaja perempuan. Ini menunjukkan setiap wilayah memiliki dinamika yang unik dalam penyebaran HIV, dan intervensi yang dilakukan harus disesuaikan dengan karakteristik epidemi lokal.
Prevalensi HIV yang terus meningkat di kalangan remaja dalam lima tahun terakhir disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah kurangnya akses ke informasi yang akurat tentang HIV dan pencegahannya. Remaja sering kali tidak mendapatkan pendidikan yang memadai tentang perilaku seksual yang aman dan pengujian HIV, yang membuat mereka rentan terhadap infeksi.
Di banyak negara dengan epidemi yang meluas, sekolah dapat menjadi tempat yang sangat efektif untuk memberikan informasi dan keterampilan kepada remaja. Pendidikan seks berbasis sekolah terbukti dapat mengubah pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja terkait seks, sehingga membantu mereka menghindari perilaku berisiko. Sayangnya, di beberapa negara, pendidikan seks masih terbatas atau bahkan dilarang, yang semakin mempersulit upaya pencegahan HIV.
Selain itu, faktor stigma sosial terhadap kelompok berisiko tinggi, seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, dan pria yang berhubungan seks dengan pria, juga menjadi tantangan besar. Banyak dari mereka adalah remaja yang terlibat dalam perilaku berisiko tinggi, namun sering kali terstigmatisasi dan dibiarkan tanpa dukungan yang memadai untuk mengakses layanan pencegahan dan pengobatan HIV.
Jika tren saat ini terus berlanjut, diperkirakan sekitar 183.000 infeksi HIV baru akan terjadi setiap tahunnya di kalangan remaja pada tahun 2030. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat untuk bekerja sama dalam mengatasi masalah ini.
Upaya untuk meningkatkan pengujian HIV, memperluas akses ke pengobatan antiretroviral, dan mengedukasi remaja tentang risiko HIV harus menjadi prioritas utama. (UNICEF/Z-3)
KOINFEKSI TB-HIV masih menjadi tantangan besar bagi sektor kesehatan di Indonesia pada tahun 2026, inovasi dalam strategi pengobatan menjadi sangat krusial.
Dinas Kesehatan Jawa Timur tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan kuratif dan pelaporan kasus, melainkan perlu memperkuat langkah preventif.
"Hasil pendataan kami, temuan HIV/AIDS selama 10 bulan mulai Januari-Oktober di Kota Sukabumi ada 124 kasus. Terdapat lima orang meninggal dunia,"
Para pengidap HIV/AIDS harus mendapat jaminan kesehatan dari pemerintah.
KETUA DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup, Ribka Tjiptaning, menyoroti masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Universitas Esa Unggul melalui akademisi dan pakar Mikrobiologi, memberikan pandangan dan informasi ilmiah terkini terkait perkembangan penanganan HIV/AIDS di dunia dan Indonesia.
Agar aturan gawai dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Rangkaian acara Silatnas dirancang komprehensif, mencakup simposium, peluncuran program strategis, hingga kegiatan sosial.
Komunikasi yang aman dan terbuka diyakini mampu membentengi remaja dari risiko negatif fenomena yang tengah viral.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved