Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak dari Rumah Sakit Hermina Ciputat Diatrie Anindyajati mengatakan kandungan Bisfenol A (BPA) dalam galon guna ulang (GGU) tidak menyebabkan seseorang menderita obesitas atau kelebihan berat badan.
"Saat ini, belum ada studi empiris satu pun yang membuktikan bahwa mengonsumsi air galon polikarbonat bisa menyebabkan obesitas. Kegemukan itu disebabkan karena adanya kalori berlebih," kata Diatrie, dikutip Selasa (26/11).
Diatrie menuturkan sebenarnya beberapa studi memang menunjukkan adanya hubungan antara kandungan BPA dengan obesitas. Namun, hubungan tersebut masih dianggap kompleks dan perlu diteliti lebih jauh.
Adapun penyebab seseorang terkena obesitas yang diketahui sejauh ini berkaitan dengan pola makan yang tidak sehat dan aktivitas fisik yang minim. Air putih pun terbukti tidak mengandung kalori.
Temuan tersebut, katanya, membuktikan bahwa mengonsumsi air dalam galon guna ulang tidak berbahaya sama sekali karena sudah mendapatkan sertifikasi dari lembaga terkait, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"Dari fakta-fakta yang ada dapat disimpulkan bahwa belum ada bukti yang sangat kuat yang memperlihatkan hubungan antara berbagai penyakit dengan migrasi BPA pada kemasan galon air minum yang digunakan sehari-hari," kata dia.
Lebih lanjut ia mengatakan andaikan BPA masuk ke dalam tubuh, kandungan tersebut akan melalui proses metabolisme, yakni sebuah proses di mana tubuh akan memecah dan mengeluarkannya secara otomatis melalui urine.
Dokter spesialis gizi klinis dari Rumah Sakit Tzu Chi Pantai Indah Kapuk (PIK) Karin Wiradarma menambahkan 90% BPA yang masuk ke dalam tubuh akan dikeluarkan oleh tubuh melalui urine dan feses.
Sedangkan 10% sisanya masih sangat kecil dan jauh dari ambang batas aman untuk dapat mengganggu kesehatan.
"Badan kesehatan, seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ambang batas paparan BPA yang masih dalam batas aman. Penggunaan galon polikarbonat yang sesuai standar tidak menghasilkan paparan BPA yang melebihi batas ini, sehingga aman digunakan," ujar dia.
Di sisi lain, kandungan BPA tidak berkontribusi menyebabkan gangguan pada pertumbuhan anak.
Menurut Dokter Spesialis Anak sekaligus Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) Prof. Rini Sekartini, banyak ahli menyatakan faktor lingkungan dan nutrisi lebih berpengaruh.
Kalaupun ditemukan, paparan BPA dalam penggunaan galon cenderung rendah dan dianggap aman. Hingga saat ini, belum ada bukti bahwa air galon polikarbonat bisa menyebabkan penyakit autis pada anak.
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Aru Wisaksono Sudoyo turut menambahkan belum ada bukti bahwa BPA yang terdapat dalam galon polikarbonat dapat memengaruhi kesehatan dan menyebabkan kanker. (Ant/Z-1)
Memakai galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai hingga 316 ton setiap tahun.
Meski memiliki sisa zat baik galon baru dan lama namun kimia pembentuk plastik tersebut sudah tidak berbahaya bagi manusia.
Pemanfaatan galon guna ulang harus lolos melewati serangkaian regulasi dan uji coba, seperti Peraturan BPOM nomor 20 Tahun 2019.
BPOM mengungkapkan temuan mengkhawatirkan terkait paparan senyawa kimia berbahaya Bisphenol A (BPA) dalam galon guna ulang di enam kota besar Indonesia.
Menurut Dokter Tirta, kemunculan isu BPA di Indonesia sangat aneh karena baru muncul beberapa tahun belakangan dengan informasi yang kurang akurat.
Tidak ada hubungan kanker dengan meminum air dari galon polikarbonat. Yang pasti 90%-95% kanker itu dari lingkungan.
Seorang pria paruh baya mengalami pembesaran perut yang tidak wajar selama bertahun-tahun. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanyalah akibat kenaikan berat badan atau obesitas biasa
Program ini dirancang sebagai layanan berbasis medis yang aman. Melalui skrining ketat, penentuan dosis personal, hingga pendampingan ahli gizi.
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Studi terbaru mengungkap tingkat obesitas di AS melonjak drastis hingga 70% setelah standar pengukuran baru yang menggabungkan BMI dengan lingkar pinggang diterapkan.
Tingginya angka obesitas menjadi salah satu alasan utama masyarakat menjadikan diet sebagai resolusi tahunan.
Hormon menjadi faktor adanya penumpukan lemak, memang risikonya terjadi pada usia di atas 40, terutama pada perempuan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved