Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
GUNA mendorong pembangunan kerja sama lebih luas antara masyarakat di ASEAN dan Tiongkok, China Center for International Communication Development (CCICD) bekerja sama dengan Guangxi Publishing and Media Group menyelenggarakan Dialog Warisan Budaya ASEAN-China di kota Nanning dan Forum Dialog Huashan di kota Chongzuo, provinsi Guangxi pada 16-19 November 2024.
Acara yang dihadiri para pegiat budaya dan media serta akademisi dari sejumlah lembaga pelestarian budaya, organisasi pemuda, universitas dan thinktank, serta media di Asia Tenggara terselenggara di bawah dukungan Departemen Komunikasi dari Komite Daerah Otonomi Guangxi Zhuang dan China International Communications Group (CICG).
Mengusung tema “Dari Peremajaan Ulang Hingga Penguatan Gaung Budaya”, acara Dialog Warisan Budaya ASEAN-China di kota Nanning berfokus pada dialog dan potensi kerja sama di bidang pelestarian warisan budaya antara Tiongkok dan ASEAN. Para peserta membahas sejumlah inisiatif terkait perlindungan dan pengembangan warisan budaya sambil berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal dan pembangunan masyarakat.
Dalam pembahasan tersebut para peserta memandang perlindungan dan penerusan warisan budaya melampaui batas-batas negara dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh umat manusia. Peningkatan mekanisme partisipasi sosial dan mobilisasi antusiasme kekuatan sosial adalah sangat penting, terutama terkait pemberdayaan generasi muda untuk berpartisipasi dalam perlindungan warisan budaya.
Sejumlah pembicara juga mendorong inovasi dan menggabungkan teknologi dan konsep modern dengan budaya tradisional untuk memberikan vitalitas baru dalam proses pelestarian warisan budaya.
Peran penting lembaga think tank dan media antara lain mencakup penyampaian kisah nyata kerja sama persahabatan dan mendorong pembentukan iklim yang kondusif untuk upaya perlindungan kekayaan budaya dan penguatan peradaban dunia.
Adapun Forum Dialog Huashan yang bertema “Menjelajahi Jalan Menuju Integrasi Perlindungan Warisan Budaya dan Tata Kelola Pariwisata” diselenggarakan di alam terbuka di hadapan tebing besar Huashan, di mana dapat ditemui rangkaian "lukisan alam kuno" unik yang menurut penelitian arkeologi berusia lebih dari 2.000 tahun disepanjang sungai Mingjiang.
Turut hadir dalam Forum Huashan ini adalah Komite Tetap Kota Chongzuo, delegasi Departemen Komunikasi Kota Chongzuo dan Departemen Pengelolaan Peninggalan Budaya Kabupaten Ningming, serta perwakilan Masyarakat Seni dan Geologi Tiongkok serta Masyarakat Adat Zhuang dan Pusat Pelatihan Budaya Kelompok Minoritas Zhuang.
Melalui keterangannya hari ini,Christine Susanna Tjhin, Direktur Komunikasi dan Kajian Strategis Gentala Institute Indonesia, mengutarakan pentingnya peran media sosial dalam mendorong kreativitas dan inovasi para generasi muda untuk memperdalam rasa cinta terhadap warisan budaya dan kebanggaan atas budaya bangsa, serta rasa inklusivitas di mana keberagaman budaya di kawasan Asia Tenggara dan Tiongkok bisa menjadi titik temu yang melandasi semua bentuk dialog dan komunikasi bersahabat antar bangsa.
Christine juga mencatat semakin bergeloranya investasi energi hijau dari Tiongkok ke Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir dan berharap bahwa Tiongkok dan Indonesia mendorong kerja sama pembangunan energi hijau di sektor pelestarian budaya dan tata kelola pariwisata yang bisa mendorong semakin eratnya hubungan antar masyarakat Tiongkok dan Asia Tenggara.
"Ketimbang berkonsentrasi pada sektor ekstraktif atau perhubungan semata, alokasi investasi energi hijau bisa sebagian dialihkan kepada pembangunan sektor pariwisata yang hijau dan berkelanjutan," tegas Christine.
Yang Dongxing, Vice General Manager dari Guangxi Publishing and Media Group (GPMG), dalam pidatonya mengatakan warisan budaya negara-negara ASEAN mencerminkan tradisi sejarah dan estetika unik masing-masing bangsa di Asia Tenggara. Warisan budaya tersebut bukan hanya merupakan kekayaan budaya masing-masing negara, tetapi juga merupakan bagian penting dari warisan budaya dunia.
Yang Dongxing mengatakan GPMG akan terus memperkuat kerja sama hak cipta dengan negara-negara ASEAN dengan membangun "Platform Layanan Perdagangan Hak Cipta Tiongkok-ASEAN" dan secara aktif mempromosikan pertukaran budaya dan kerja sama antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN dengan menggunakan buku-buku dan bentuk publikasi terkait sebagai media.
Davanh Chittasay, Wakil Ketua Asosiasi Seni Khaen Lao di bawah naungan Kementerian Informasi, Budaya dan Pariwisata Republik Rakyat Demokratik Lao, dalam pidatonya mengatakan bahwa Tiongkok dan Laos memiliki persahabatan yang mendalam dan memiliki banyak kesamaan dalam kebijakan nasional d9an tradisi budaya.
Acara ini memberikan kesempatan berdialog yang sangat baik bagi kedua negara untuk membahas pertukaran warisan budaya dan kerja sama di masa depan, serta lebih mendorong pertukaran antar masyarakat di tingkat sosial-ekonomi dan budaya sambil mengkonsolidasikan hubungan bilateral antara Tiongkok dan ASEAN.
Mengenai penguatan pengembangan terpadu budaya dan pariwisata, Som Sopharath, Direktur Departemen Monumen dan Konservasi Arkeologi dari Otoritas Perlindungan dan Pengembangan Monumen Angkor Kamboja, berfokus pada upaya Angkor dalam memperkuat keselamatan pariwisata dan pembangunan infrastruktur, melaksanakan rencana pengelolaan pariwisata, dan merumuskan Pengalaman luar biasa dengan Kode Etik Angkor, dll.
Nicha Patradhilok, perwakilan dari Aliansi Warisan Budaya Asia Tenggara dan Asosiasi Siam Thailand, berharap Tiongkok dan Thailand dapat bekerja sama dalam pembangunan infrastruktur dan perlindungan teknologi warisan budaya di masa depan untuk mendorong peningkatan industri pariwisata Thailand.
Para peserta dialog memiliki harapan bersama untuk dapat menggunakan topik seperti ini dapatmendorong pembentukan mekanisme pertukaran jangka panjang antara lembaga kebudayaan, think tank dan media Tiongkok dan ASEAN.(H-2)
Proses pemberian Apresiasi Desa Budaya 2025 dilakukan secara komprehensif melalui tahapan temu-kenali, pendalaman, dan aktivasi.
Lakon kali ini dipilih untuk mengingatkan kita bahwa nilai kepahlawanan berkaitan erat dengan sikap mencintai bangsa dan negara, menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan, dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara para pemangku kepentingan untuk mengakselerasi upaya penguatan sektor kebudayaan nasional.
SEBANYAK 13 negara kawasan Pasifik menghadiri Indonesia Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025 yang digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai 11-13 November 2025.
Puti Guntur Soekarno, menyoroti pengaruh teknologi terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia.
WAKIL Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menegaskan pentingnya peran budaya dan pendidikan sebagai kekuatan lembut (soft power) yang mampu memperkuat posisi Indonesia di panggung global.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Jepang melalui NEDO menawarkan beberapa skema kerja sama penelitian untuk menyiapkan industri di bidang energi baru dan teknologi.
Kedua perguruan tinggi menargetkan kontribusi lebih besar menciptakan pendidikan berkualitas bagi industri dan masyarakat.
Inisiatif ini menyoroti pentingnya hubungan budaya dalam kemitraan yang berkelanjutan antara Australia dan Indonesia.
Kemitraan strategis ini menegaskan posisi Todak Academy sebagai salah satu pemimpin regional dalam pengembangan talenta digital masa depan di kawasan ASEAN.
Kerja sama tersebut menjadi tonggak penting penerapan sanksi sosial sebagai alternatif hukuman pidana,
Pertemuan ini menjadi tonggak awal terbentuknya Kerja Sama Regional Bali, NTB, dan NTT.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved