Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
IMPLEMENTASI metodologi penebangan rendah dampak karbon atau Reduced Impact Logging-Carbon (RIL-C) dapat mengurangi emisi karbon antara 40 hingga 50%, tanpa mengurangi volume produksi kayu. Implementasi RIL-C juga mampu menyumbang signifikan terhadap target penurunan emisi kepada Nationally Determined Contribution (NDC) dan Foresty and other land uses (FOLU) Net Sink 2030 di Indonesia.
Peneliti Ahli Utama PREE BRIN Dulsalam mengemukakan, penebangan yang dilakukan secara konvensional pada umumnya akan menimbulkan dampak kerusakan pada lingkungan. “Lain halnya jika dilakukan dengan penerapan pendekatan RIL-C yang fokus pada usaha penurunan emisi CO2 akibat pemanenan kayu, usaha peningkatan penyerapan CO2 dan simpanan karbon dalam hutan setelah pemanenan,” ucapnya.
Penerapan RIL-C juga memungkinkan pertumbuhan tegakan tinggal yang maksimal untuk meningkatkan stok (cadangan) karbon dalam hutan.
Berdasarkan data riset dari konservasi alam nusantara pada tahun 2024, disebutkan bahwa penerapan RIL-C berpotensi mengurangi emisi sebesar 40%, sehingga secara total dapat dilakukan pengurangan emisi sekitar 13 juta ton CO2-e pertahun.
“Besaran angka ini tentunya menyumbang signifikan terhadap target penurunan FOLU sebesar 714 juta ton setara karbon dioksida pada 2030,” ungkapnya.
Sementara itu, Peneliti Ahli Utama PREE BRIN Ika Heriansyah menjelaskan pendekatan silvikultur pascaimplementasi RIL-C merupakan langkah penting dalam mencapai Folu Net Sink.
“Implementasi RIL-C atau pemanenan kayu berdampak rendah atau pemanenan kayu ramah lingkungan merupakan sebuah pendekatan pengelolaan hutan. Berfokus pada meminimalisir dampak negatif dari kegiatan pemanenan kayu terhadap ekosistem hutan,” tuturnya.
Ia menjelaskan, RIL-C ini bukan hanya sekadar mengurangi jumlah kayu yang ditebang tapi juga mengubah cara pemanenan. “Konsepnya didasarkan pada prinsip-prinsip keberlanjutan dengan tujuan melindungi keanekaragaman hayati. Karena RIL berusaha meminimalkan kerusakan habitat satwa dan tumbuhan, serta menjaga kelestarian ekosistem hutan,” tukasnya.
Menurutnya, Tujuan RIL yaitu meningkatkan produktivitas hutan untuk menjaga kemampuan hutan dalam menghasilkan kayu dan produk hutan lainnya secara berkelanjutan. Kemudian mempertahankan fungsi ekologis hutan dalam menjaga siklus air, mencegah erosi, dan juga penyerapan karbon.
Selanjutnya, Ika juga menjelaskan dampak perubahan kondisi tutupan hutan pascaimplementasi RIL-C. “Walaupun RIL-C ini melibatkan serangkaian teknik, strategi yang dirancang untuk meminimalkan dampak negatif terhadap hutan, setidaknya selalu ada tiga kondisi tutupan hutan yang berbeda,” ujarnya.
Dia menjelaskan ketiga kondisi tersebut, pertama kondisi tutupan hutannya tetap baik karena potensi tebangannya rendah, jarak pohon saling berjauhan. Topografi berat atau kualitas kayunya buruk, bahkan tidak adanya aktivitas penebangan.
Kedua, terbuka secara periodik yaitu jarak antarpohon masak tebang yang agak jauh dan hanya memilih jenis kayu tertentu yang pada akhirnya membentuk jalur. Kondisi ketiga yaitu tutupan hutan yang terbuka cukup luas. Hal ini disebabkan masa tebang pohon yang bergerombol atau saling berdekatan, bisa juga karena manuver alat berat yang digunakan, serta jumlah tebangan yang banyak.
Oleh karenanya penting menerapkan pendekatan silvikultur pascaimplementasi RIL-C untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan dari semua pemangku kepentingan.
”Selain itu pendekatan silvikultur ini tidak hanya mempertimbangkan teknik penebangan. Tetapi juga limit diameter tebangan yang diterapkan, atau prosedur pembalakan lainnya yang menentukan kondisi tutupan lahan,” pungkasnya.(M-3)
Kerusakan padang lamun di pesisir Jawa dan sebagian Sumatra berpotensi menjadi salah satu sumber emisi karbon tersembunyi terbesar di Indonesia.
Memakai galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai hingga 316 ton setiap tahun.
PERMINTAAN global terhadap praktik produksi berkelanjutan terus meningkat. Karenanya, instalasi panel surya dipasang pada pabrik Aneka Rimba Indonusa di Gresik, Jawa Timur.
Komitmen PHE OSES dalam menurunkan emisi dari sektor hulu migas kembali memperoleh pengakuan nasional.
TENAGA surya menjadi pilihan energi alternatif untuk mengurangi emisi karbon penyebab perubahan iklim. Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) salah satu pilihan terbaik.
Laporan Land Gap 2025 mengungkap banyak negara masih mengandalkan hutan dan lahan untuk memenuhi target iklim, alih-alih memangkas emisi fosil secara cepat.
Antena satelit Biomass milik ESA berhasil dibentangkan di orbit. Satelit ini akan memantau hutan dunia dan mengungkap data penting tentang cadangan karbon.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved