Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
RABIES adalah penyakit mematikan yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat berakibat fatal hingga 100% jika gejala klinis muncul.
Penyakit ini menjadi perhatian serius di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, di mana jumlah kasus rabies cukup mengkhawatirkan.
Baca juga : Rabies: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan
Hingga April 2023, tercatat 31.113 kasus dengan 11 kematian akibat rabies di Indonesia.
Menghadapi tantangan ini, berbagai organisasi internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), serta Aliansi Global untuk Pengendalian Rabies (GARC) telah merumuskan strategi global untuk mengurangi penyakit akibat rabies.
Berikut adalah langkah-langkah yang diambil dalam penanganan masalah ini:
Baca juga : Tema Hari Rabies Sedunia 2024: "Breaking Rabies Boundaries" untuk Eliminasi Rabies Global
Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan organisasi kesehatan dan peternakan untuk melaksanakan program vaksinasi massal terhadap anjing, kucing, dan hewan lainnya yang berpotensi menularkan rabies.
Vaksinasi dilakukan secara rutin, terutama di daerah endemik seperti Bali, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.
Setelah gigitan hewan, vaksin anti rabies (VAR) dan serum anti rabies (SAR) harus segera diberikan untuk mencegah rabies. Pemerintah berupaya meningkatkan akses dan ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan, terutama di daerah terpencil.
Baca juga : 28 September, Sejarah dan Tujuan Hari Rabies Sedunia
Program subsidi vaksin juga diimplementasikan agar masyarakat dapat memperoleh vaksin dengan biaya terjangkau, melalui kerja sama dengan organisasi non-pemerintah.
Komunitas dan organisasi non-pemerintah, seperti Animal Friends Jogja (AFJ) dan Bali Animal Welfare Association (BAWA), aktif dalam penanggulangan rabies.
Mereka berperan dalam kampanye kesadaran vaksinasi hewan dan penyediaan sumber daya penanganan rabies.
Baca juga : Kenali Pencegahan Rabies, Vaksin Apa Saja yang Direkomendasikan WHO?
Keterlibatan mereka dapat meningkatkan cakupan vaksinasi dan mengurangi risiko penularan di masyarakat.
Pemerintah memperkuat regulasi terkait kepemilikan hewan peliharaan, termasuk kewajiban vaksinasi rabies.
Penerapan hukuman bagi pelanggaran, seperti membiarkan hewan yang tidak divaksinasi berkeliaran, juga menjadi langkah preventif dalam mengurangi potensi penularan rabies.
Kampanye global “Zero by 2030” bertujuan menghilangkan kasus rabies pada manusia akibat gigitan anjing, yang menjadi penyebab utama rabies.
Kampanye ini didukung oleh WHO, FAO, dan GARC, dan Indonesia berkomitmen untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan rabies di seluruh wilayah.
Kampanye ini mencakup pemantauan dan penelitian kasus rabies, pengumpulan data mengenai prevalensi rabies, serta perbaikan fasilitas kesehatan agar akses ke vaksin dan serum anti-rabies lebih mudah dan cepat bagi masyarakat yang terpapar.
Rabies adalah penyakit yang dapat dicegah melalui kolaborasi aktif antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat. Dengan vaksinasi massal, edukasi, serta peningkatan akses terhadap vaksin, diharapkan Indonesia dapat mencapai target bebas rabies dalam waktu dekat. Mari bersama-sama kita ciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat, demi masa depan tanpa ancaman rabies. (Z-10)
Sumber:
MEMPERINGATI Hari Rabies Sedunia Kabupaten Sidoarjo menggelar vaksinasi rabies massal untuk hewan peliharaan kucing, anjing dan kera.
Rabies adalah penyakit zoonosis yang ditularkan melalui gigitan hewan, terutama anjing, yang terinfeksi virus rabies. Penyakit ini mematikan jika tidak segera ditangani.
Pada 2024, tema Hari Rabies Sedunia adalah "Breaking Rabies Boundaries", menyoroti perlunya melampaui hambatan mencapai tujuan global eliminasi rabies tahun 2030.
Hari Rabies Sedunia diperingati setiap 28 September untuk meningkatkan kesadaran tentang rabies dan langkah pencegahannya.
WHO menyebut vaksin influenza generasi baru berpotensi mencegah hingga 18 miliar kasus flu dan menyelamatkan 6,2 juta nyawa hingga 2050 dengan perlindungan yang lebih luas dan tahan lama.
Virus Nipah adalah virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Selain melalui kontak langsung dengan hewan, virus ini juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama ingatkan kewaspadaan terhadap Flu Burung, MERS-CoV, Super Flu, & Virus Nipah. Simak risiko dan data terbaru WHO 2026 di sini.
Mengonsumsi ikan akan memberi energi, protein dan berbagai jenis nutrien yang penting bagi kesehatan.
Tiga tinjauan Cochrane yang ditugaskan WHO mengungkap potensi besar obat GLP-1 untuk penurunan berat badan, namun pakar peringatkan risiko jangka panjang.
WHO terus memantau sejumlah penyakit infeksi paru berat seperti flu burung, MERS, influenza berat, dan virus Nipah yang berisiko tinggi bagi kesehatan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved