Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik infeksi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Jakarta, Soroy Lardo, mengatakan masyarakat perlu memahami fase perjalanan klinis penyakit demam berdarah dengue (DBD) agar infeksi virus tidak menyebabkan perubahan imunitas dan menyelamatkan nyawa pasien.
"Demam berdarah ini paling penting dipahani fase perjalanan klinisnya. Ada tiga fase, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase recovery. Jadi, masyarakat harus memahami kapan dia bisa kelola di rumah dan kapan harus dibawa berobat," kata Soroy, Selasa (16/7).
Soroy mengatakan memahami tiga fase klinis demam berdarah penting agar orangtua tidak terlambat membawa anak berobat ke rumah sakit dan menurunkan angka kematian yang sering kali diakibatkan kurangnya pemahaman tentang demam berdarah dengue.
Baca juga : Ini Dampak Penderita DBD saat Terlambat Ditangani
Tiga fase itu adalah fase pertama ketika pasien mengalami demam satu sampai tiga hari. Pada fase ini, kadar virus dalam darah cukup tinggi. Virus akan mengeluarkan zat ositokin yang mengaktivasi proses yang menyebabkan demam.
Pada fase ini, metabolisme tubuh meningkat menyebabkan kebutuhan cairan menjadi sangat tinggi sehingga hidrasi sangat diperlukan dan pemberian obat penurun demam.
Sementara, pada hari keempat dan kelima memasuki fase kritis, yang artinya ada proses infeksi virus di pembuluh darah dan menyebabkan pembuluh darah menjadi bocor dan bisa menimbulkan shock yang dapat menyebabkan kematian.
Baca juga : Kewaspadaan Orangtua Kunci Keberhasilan Penanganan DBD pada Anak
Potensi pendarahan bisa berakibat pada gangguan organ seperti ke paru-paru, rongga perut dan lainnya. Infeksi virus ini juga dapat menyebabkan gejala bola mata, nyeri tulang belakang, nyeri sendi hingga gangguan pencernaan.
"Masa kritis ini yang berbahaya sebenarnya. Karena, pada saat itu, akan terjadi kebocoran pembuluh darah. Kalau fase kritis dilewati akan terjadi fase recovery, ketika virus di dalam tubuhnya akan menurun drastis, sistem respon imun akan membaik ini recovery," katanya.
Soroy juga mengatakan ketika anak demam di hari pertama disarankan untuk membawa ke rumah sakit untuk dirawat dan dilakukan tes NS1 di laboratorium untuk melihat potensi adanya virus dengue dalam darah.
Baca juga : Dosis Vaksin Dengue Harus Sesuai Agar Efektif Melawan DBD
Penurunan trombosit juga pasti terjadi maka perawatan lebih awal sangat diperlukan.
Jika perawatan dilakukan pada fase kritis, hal itu akan membuat kondisi pasien lebih cepat menurun dan dokter akan berusaha ekstra keras untuk menyeimbangkan kondisi agar tidak jatuh pada kondisi syok.
"Istirahat jadi kunci utamanya, kalau memungkinkan dari Puskesmas terdekat itu kan punya laboratorium pemeriksaan darah lengkap sederhana itu bisa dicek trombositnya berapa, kalau masih tinggi mungkin bisa dengan pemantauan ketat dari Puskesmas dengan kecukupan cairan yang memadai sesuai berat badan," ungkap dokter yang juga dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta itu.
Soroy mengatakan peran nutrisi sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan DBD. Selain cairan dan elektrolit, pasien dapat mengonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C dan Madu.
Untuk mencegah meningkatnya infeksi demam berdarah dengue adalah dengan mendapatkan vaksinasi DBD yang diberikan 3-6 bulan setelah terinfeksi yang dapat diberikan dari usia enam hingga 45 tahun dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). (Ant/Z-1)
Kementerian Kesehatan memperkuat kewaspadaan terhadap peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di musim hujan.
Gejala DBD umumnya meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, serta munculnya bintik-bintik merah di kulit.
Peneliti internasional menciptakan jamur Metarhizium beraroma bunga yang mampu menarik dan membunuh nyamuk pembawa penyakit seperti malaria dan demam berdarah.
Di sini dipastikan hampir 200 juta nyamuk mencapai kematangan seksual sebelum dilepaskan untuk bereproduksi.
Setiap tahunnya, dunia mencatat ratusan juta kasus malaria. Selain dikenal sebagai penyebab malaria, nyamuk juga menjadi pembawa penyakit lain seperti demam berdarah.
Pada anak, gejala DBD akan semakin parah karena kekebalan tubuhnya tidak sekuat orang dewasa.
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
Kasus leptospirosis di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, meningkat tajam sepanjang 2025. Sebaliknya, kasus demam berdarah dengue (DBD) justru mengalami penurunan.
ECDC mencatat lebih dari 5 juta kasus demam berdarah dengue (DBD) secara global sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Vaksin yang sedang diuji adalah V181-005, sebuah formulasi baru yang berpotensi memberikan perlindungan yang lebih cepat dan efisien.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), selama Januari hingg 30 Oktober 2025 angka demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia mencapai 131.393 kasus.
Kementerian Kesehatan memperkuat kewaspadaan terhadap peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di musim hujan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved