Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai terjadinya fenomena hujan lebat selama beberapa hari pada musim kemarau di wilayah Indonesia bagian barat khususnya Jabodetabek, merupakan fenomena yang lumrah karena penggerak iklim dan cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan faktor-faktor penggerak iklim dan cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh pengaruh geografis dan fenomena alam seperti La Nina, El Nino, IOD, Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial. Hal-hal itu sering kali mengganggu waktu musim hujan dan kemarau menjadi lebih singkat atau lebih panjang, bahkan terjadi guyuran hujan lebat di tengah musim kemarau.
“Jika fenomena La Nina dan El Nino serta IOD itu mengganggu waktu terjadi musim hujan dan panas dalam beberapa bulan, misalnya hujan atau kemarau menjadi lebih lama hingga berbulan-bulan, sedangkan MJO akan mempengaruhi cuaca dan Iklim jauh lebih singkat dalam skala waktu harian,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (8/7).
Baca juga : BMKG: Indonesia Masuki Musim Kemarau Mei Mendatang
Lebih lanjut, Dwikora mengatakan peningkatan pembentukan awan-awan hujan yang bergerak di sepanjang khatulistiwa mulai dari Samudra Hindia di sebelah timur Afrika di khatulistiwa menuju Samudra Pasifik merupakan siklus yang akan berulang setiap 40 hingga 60 hari.
“Jadi nanti dalam beberapa bulan ke depan, musim kemarau itu akan disisipi hujan lebat namun tidak lebih dari tiga hari. Bahkan, dalam sepekan ke depan, masih terdapat potensi peningkatan curah hujan secara signifikan di tengah musim kemarau pada sejumlah wilayah Indonesia,” jelasnya.
Fenomena-fenomena alam tersebut, katanya, terjadi karena adanya dinamika atmosfer skala regional-global yang cukup signifikan. Selain itu, suhu permukaan laut yang hangat pada perairan wilayah sekitar Indonesia pun memberikan kontribusi. Awan hujan pun tumbuh signifikan di wilayah Indonesia.
Baca juga : BMKG: Jabodetabek akan Dilanda Hujan Deras dan Cuaca Ekstrem hingga 10 Januari
Dwikora kembali menyebutkan, fenomena itu terjadi sebagian besar wilayah Indonesia khususnya wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sebagian Sumatera.
“Namun pada bulan Agustus dan September akan terjadi La Nina yang dipengaruhi oleh suhu muka air laut Samudra Pasifik. Sehingga lanjutnya, pada saat musim kemarau akan mengalami peningkatan curah hujan,” tuturnya.
Selain faktor fenomena alam, ada pula faktor lain yang mempengaruhi pergeseran iklim dan cuaca du Indonesia yakni letak geografis. Indonesia yang berada diantara benua Asia dan Australia serta berada di pertemuan dua samudra besar yakni Samudra dan Atlantik, ditambah faktor berada di garis ekuator (khatulistiwa), membuat waktu musim kemarau dan hujan seringkali terganggu.
Baca juga : Waspada! Curah Hujan di Jabodetabek Meningkat dan Banjir Rob di Pesisir Utara Jakarta
“Musim kemarau adalah periode ketika curah hujan di suatu tempat berkapasitas kurang dari 50 mm per 10 hari dan terjadi minimal sepanjang 3 hari yang berturut-turut. Secara umum, musim kemarau di Indonesia berkaitan dengan aktifnya monsoon Australia,” jelasnya.
Dwikorita menambahkan bahwa musim kemarau terjadi karena ada pergerakan angin dari gurun Australia yang sifatnya kering (monsoon australia), sehingga mengakibatkan curah hujan yang rendah. Hal ini juga diperburuk oleh gerak semu matahari yang menjauhi khatulistiwa sehingga pembentukan awan-awan hujan akan berkurang atau yang disebut.
“Musim kemarau di Indonesia tidak terjadi secara bersamaan, tapi berlangsung dengan durasi yang berbeda-beda. Ada yang musim kemarau dimulai dari bulan Mei namun sebagian besar masuk kemarau di bulan Juni bahkan puncaknya Juli dan Agustus,” tuturnya.
Baca juga : Pemprov DKI Antisipasi Banjir Kiriman Hingga Hujan Lokal
Sementara untuk musim penghujan, lanjut Dwikora, Indonesia memiliki setidaknya tiga pola hujan yaitu pertama tipe monsun yang diakibatkan oleh angin monsun dasi Asia, tipe ini dikatakan memiliki karakteristik curah hujan perbedaan yang sangat kontras antara musim kemarau dan musim penghujan.
“Tipe ini biasa ditemukan di wilayah kepulauan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara serta sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan. Jadi pada musim kemarau masih ada hujan namun curah hujannya sangat rendah kurang dari 50 mm dalam 10 hari atau 300 mm dalam sebulan,” jelasnya.
Selain itu, ada pula tipe hujan ekuatorial yang terjadi di sebagian besar Pulau Sumatera, sebagian Kalimantan, hampir keseluruhan pulau Sulawesi dan sebagian besar Papua. Hujan dengan tipe ekuatorial, baik di musim kemarau dan hujan, wilayah akan terus diguyur hujan sepanjang tahun.
“Hampir tidak ada musim kemarau artinya jika ada musim kemarau, curah tetap ada dan kejadian hujan di atas rata-rata. Jadi selalu hujan terus-menerus sehingga saat ini meskipun sebagian besar wilayah Indonesia memasuki kemarau tapi zona ini akan tetap hujan sepanjang tahun,” tuturnya.
Sementara tipe hujan terakhir disebut tipe lokal yang terjadi di wilayah sebagian kecil Papua serta Maluku. Tipe ini dipengaruhi oleh faktor topografi sehingga pembentukan awan-awan hujan terjadi secara lokal sehingga fenomena hujan dan kemarau akan terlihat sangat berbeda dan mencolok dari wilayah lainnya.
“Tipe ini bisa berbeda dan mencolok, jika di tempat lain kemarau, wilayah yang berada di tipe hujan lokal ini bisa saja hujan lebat sendiri, ataupun sebaliknya. Tapi sebagian besar pola hujan di Indonesia adalah tipe monsun yang dapat musim hujan dan musim kemarau seperti saat ini,” jelas Dwikora.
Setelah menjelaskan faktor-faktor tersebut, dapat diketahui bahwa cuaca dan iklim yang bergerak di wilayah kepulauan Indonesia iklim dipengaruhi oleh Monsoon angin dari benua Asia dan Australia secara bergantian secara umum serta adanya dua samudra besar yang mengontrol.
(Z-9)
MASYARAKAT wilayah Cirebon, yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Indramayu dilanda suhu panas beberapa hari terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk Rabu, 8 Oktober 2025. Pekan pertama Oktober, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki masa peralihan.
KEMARAU panjang semakin berlanjut menyelimuti kawasan Provinsi Aceh.
Masyarakat NTT diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi angin kencang yang bersifat kering. Angin kencang ini berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.
"Jadi saat wilayah yang mudah terbakar meluas, kami mohon bantuan, dukungan yang berada di Provinsi Riau benar-benar menjaga jangan sampai lahan itu terbakar,"
MUSIM kemarau menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Krisis air bersih terjadi di Desa Lebaksiu Kidul, Kecamatan Lebaksiu, yang terdampak
BMKG keluarkan peringatan dini cuaca Jakarta 16 Februari 2026. Jaksel status Siaga hujan lebat, Kepulauan Seribu waspada petir. Cek detailnya.
Bibit Siklon Tropis 95P terpantau berada di Laut Koral sebelah tenggara Papua Nugini dan bergerak ke arah timur, yang membentuk daerah perlambatan angin dan pertemuan angin
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia pada periode 15 hingga 21 Februari 2026
Hasil analisis atmosfer terkini menunjukkan adanya penguatan Monsun Asia yang membawa aliran angin baratan cukup dominan di wilayah Indonesia.
BMKG memprakirakan Jakarta diguyur hujan ringan hingga sedang pada Minggu (15/2/) dengan suhu 24–30°C. Secara nasional, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada puncak musim hujan.
BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca Jakarta hari ini, 14 Februari 2026. Waspada potensi hujan disertai kilat dan angin kencang di seluruh wilayah DKI.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved