Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rini Sekartini mengatakan anak dengan spektrum autisme dapat didukung potensinya hingga menjadi orang hebat.
"Pada masa balita, kenali kemampuan atau kelebihan anak. Baik dari segi seni maupun ilmiah. Bila sudah diidentifikasi, sebaiknya berikan porsi latihan kegiatan tersebut lebih besar, ajak berkompetisi atau melakukan pameran hasil karya mereka," kata Rini, dikutip Selasa (30/4).
Dia menjelaskan spektrum autisme adalah gangguan perkembangan saraf otak pada awal kehidupan, ditandai adanya defisit dalam 2 domain, yaitu interaksi sosial, komunikasi,perilaku dan aktivitas berupa pola perilaku stereotipikal, repetitif, restriktif, serta minat yang terbatas.
Baca juga : Tangani Individu Dewasa Autistik, LSPR Gelar Forum Diskusi
"ASD (autism spectrum disorder) bukan gangguan fungsional semata tetapi didasari oleh gangguan organik seperti perubahan neurokimiawi otak, kelainan neuroanatomi, dan faktor genetik," katanya.
Dia menjelaskan autisme bukan suatu penyakit infeksi dan penanganan dapat dilakukan, antara lain berupa perbaikan perilaku anak, serta kemampuan mereka beradaptasi dan bersosialisasi.
Menurutnya, penanganan tersebut memerlukan waktu yang panjang, dan peran orangtua serta anggota keluarga lainnya krusial dalam hal itu.
Baca juga : Autisme Sudah Bisa Didiagnosa Sejak Anak Usia Setahun
Keluarga, katanya, wajib mengulang latihan yang dilakukan seperti terapi bicara dan okupasi. Semua anggota keluarga perlu kompak dalam membantu anak dengan autisme untuk berkembang dan menjadi mandiri.
"Terapi dapat membantu meningkatkan fungsi dan kemampuan anak, tetapi terapi yang utama dan pertama adalah keluarga," katanya.
Dia menjelaskan terdapat dua faktor risiko autisme, yaitu genetik dan lingkungan.
Baca juga : Anak Rentan Terkena Radang Telinga Tengah
Pada faktor genetik, katanya, jika seseorang memiliki saudara laki-laki, saudara perempuan, saudara kembar, atau orangtua yang autis, kemungkinan besar seseorang juga mengidap autisme.
"Misalnya, jika salah satu kembar identik didiagnosis ASD, kemungkinan kembar lainnya juga autis adalah 60%-90%," kata Rini.
Adapun faktor-faktor risiko lain, katanya, seperti kelahiran prematur, atau berat badan lahir sangat rendah.
Baca juga : Ini Syarat Anak Autisme Bisa Bersekolah Inklusif
Dia juga mengatakan, risiko autisme lebih tinggi pada anak-anak dengan tuberous sclerosis dibandingkan pada mereka yang tidak menderita penyakit tersebut.
Dia juga menyebut autisme lebih sering dijumpai pada anak laki-laki daripada anak perempuan.
"Studi menunjukkan paparan orangtua terhadap logam berat dan racun lingkungan lainnya selama kehamilan," ujar Rini.
Dia juga menyebut, pada faktor lingkungan lain, beberapa penelitian juga menunjukkan hubungan antara infeksi virus tertentu atau ketidakseimbangan metabolisme dan kemungkinan terlahir dengan autisme.
"Anak-anak yang lahir dari orangtua yang lebih tua juga memiliki peluang lebih besar, menurut CDC," katanya.
Ada juga faktor prenatal atau ketika kehamilan anak tersebut, katanya, antara lain obesitas, demam, gizi buruk, polusi udara, dan paparan pestisida. (Ant/Z-1)
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved