Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis ilmu kesehatan telinga, hidung, tenggorok, bedah kepala dan leher Rangga Rayendra Saleh menyebut anak-anak menjadi pihak yang sering rentan terkena otitis media atau penyakit radang telinga tengah.
"Radang telinga tengah adalah proses peradangan yang terjadi pada rongga yang ada di belakang gendang telinga. Dia ada di balik gendang telinga, dan karena otitis media ini banyak macamnya, makanya penting untuk dibedakan apakah akut atau kronik dan apa disebabkan oleh infeksi atau bukan karena pengobatannya akan berbeda" kata dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tersebut, dikutip Selasa (30/4).
Anak rentan terkena radang telinga tengah karena bentuk ventilasi saluran pernafasan yang menghubungkan telinga dengan hidung anak, memiliki ukuran yang relatif lebih pendek dibanding orang dewasa.
Baca juga : Pembesaran Amandel Bisa Sebabkan Anak Terkena Radang Telinga
Selain itu, posisi saluran tersebut lebih horizontal. Apabila ada infeksi pada saluran pernafasan atas yang disebabkan oleh bakteri atau virus, fungsi dari ventilasi saluran tersebut menjadi mudah terganggu.
"Pada akhirnya kalau ventilasi terganggu akan terjadi peradangan pada telinga tengah. Jadi, sebetulnya, peradangan pada telinga tengah itu adalah satu efek akibat dari penyakit biasanya di hidung begitu," ucap Rangga.
Adapun jenis otitis media yang paling sering ditemukan pada anak adalah otitis media akut (AOM), yang dapat terjadi dengan cepat dan berlangsung setidaknya selama seminggu.
Baca juga : Radang Telinga Tengah tidak Harus Selalu Diatasi dengan Antibiotik
Hal yang perlu dilakukan orangtua untuk mencegah terjadinya infeksi keparahan lainnya akibat radang telinga tengah adalah segera membawa anak bertemu dengan dokter untuk mendapat tata laksana medis yang sesuai.
Rangga meminta agar orang tua tidak menyepelekan berbagai gejala yang membuat anak merasa tidak nyaman. Sebab, untuk mengidentifikasi gangguan pendengaran pada anak, para dokter membutuhkan informasi lebih lanjut dari orangtua.
Dia turut menganjurkan agar orangtua membawa anak untuk diperiksa di rumah sakit setiap enam bulan sekali dengan tujuan menjaga fungsi pendengaran anak tetap sehat dan tidak terkendala mengikuti berbagai aktivitas sehari-hari.
"Kita tahu anak sering kali tidak mengeluh mengenai gangguan pendengaran. Kalau misal nyeri atau demam gampang teridentifikasi, tapi, kalau gangguan pendengaran? Pada dewasa saja kadang sulit, apalagi anak-anak selama dia bisa main, dia tidak mengeluh," pungkas Rangga. (Ant/Z-1)
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved