Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anestesiologi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Noor Hafidz, mengatakan perubahan kebiasaan minum obat pada pasien yang memiliki penyakit risiko tinggi dapat menyebabkan risiko keparahan atau tingkat kritis yang lebih tinggi.
"Biasanya, pasien-pasien di ICU menjadi kritis karena berubah kebiasaan minum obatnya karena bosan dan kalau berhenti atau malah infeksi mungkin bisa menjadi kondisi kritis," kata Hafidz, dikutip Selasa (21/11).
Hafidz mengatakan kondisi pasien dikatakan kritis jika mengalami sakit berat sehingga potensi kematiannya dekat. Biasanya, pasien dengan kategori kritis mengalami gagal organ multiple atau mengalami infeksi yang mengancam nyawa.
Baca juga: Walau Alami Nyeri Tulang Belakang, Warga Diingatkan Tetap Aktif
Kategori kritis juga digunakan pada pasien yang mengalami trauma seperti kecelakaan atau korban kebakaran.
Dokter yang menyelesaikan Pendidikan di Universitas Indonesia ini mengatakan kondisi kritis bisa dipicu dengan berbagai faktor risiko yaitu host atau pasien, agen atau pembawa penyakit, dan lingkungan.
"Jadi, dari faktor host, kekebalan tubuh, bagaimana genetiknya, kebiasaan terhadap sebuah penyakit akan menyebabkan dia sakit kritis atau tidak. Infeksi yang dikasih obat nggak mempan, bisa juga lingkungannya misalnya dia sehat-sehat aja tapi tinggal di daerah yang tinggi angka kesakitan," ucapnya.
Baca juga: Semua Obat JKN untuk Pasien Kanker Harus Dijamin, Berapapun Stadiumnya
Bila pasien kritis karena penyakit seperti stroke, jantung, atau diabetes yang menyerang tiba-tiba, harus mengontrol dengan rutin mengonsumsi obat agar sakitnya tidak menjadi kritis.
Hafidz menyebut, pasien yang dalam kondisi kritis perlu dirawat di ruang perawatan khusus seperti Intensive Care Unit (ICU) untuk mendapatkan hasil optimal dan pengobatan yang terus menerus secara intensif.
Ada beberapa perbedaan dengan ruang rawat biasa yaitu ketersediaan peralatan penyokong organ, jumlah perawat dan agresifitas perawat terhadap pasien kritis dalam pemberian obat dan mencari diagnostik lain.
"SDM perawatan intensif satu pasien satu perawat, ini beda jauh dengan rawat inap, kedua peralatan pasien di perawatan intensif membutuhkan banyak peralatan untuk pemantauan, untuk memberikan obat, memberikan organ support," jelas Hafidz.
Jika ada pasien yang dirawat di ruang intensif, Hafidz berpesan pada pihak keluarga agar tidak terkejut dengan kondisi pasien yang bisa menurun drastis.
Maka itu, keluarga pasien harus sedia untuk berjaga di rumah sakit agar tim dokter yang menangani tidak kesulitan jika harus menanyakan keputusan maupun informasi pasien.
Selain itu, keluarga yang berjaga juga disarankan tidak sendirian dan cukup tidur agar tidak ikut sakit saat menjaga pasien dengan penyakit kritis yang dirawat di ICU.
Dokter dan tim yang menangani pasien biasanya juga akan mengadakan pertemuan yang terdiri dari dokter anastesi dan perawat lainnya untuk mengabarkan kondisi terkini pasien. Di saat itulah, kata Hafidz, keluarga bisa bertanya dan mencatat apa yang disampaikan dokter.
"Keluarga harus catat dan menanyakan, dan menyampaikan keinginan yang sakit, wasiatnya apa itu harus disampaikan," jelas Hafidz.
Selain itu juga perlu menjaga komunikasi dengan perawat dan selalu sampaikan informasi yang jujur kepada tim agar tidak salah dalam mengambil keputusan untuk pasien. (Ant/Z-1)
Kondisi kaki dapat memberikan petunjuk penting terkait kesehatan saraf, peredaran darah, hingga penyakit sistemik.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
SERANGAN penyakit kutu air (balancat) dan diare mulai menyerang korban banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Selain jumlah, persoalan lain yang disoroti adalah distribusi dokter yang belum merata. Ia menyebut sebagian besar pendidikan kedokteran masih terpusat di Pulau Jawa.
Polda Metro Jaya menetapkan dr. Richard Lee sebagai tersangka kasus perlindungan konsumen atas laporan Dokter Detektif (Doktif).
Kemenkes melepas ratusan relawan dokter dan tenaga kesehatan bantu penanganan bencana di sejumlah wilayah di Aceh.
Tempat praktik yang digunakan bukan merupakan aset pribadi, melainkan unit yang disewa secara harian maupun mingguan.
Universitas itu nantinya tidak hanya berfokus pada pendidikan dokter, tetapi menaungi berbagai disiplin ilmu kesehatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved