Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Seiring perkembangan zaman, ada banyak terapi yang kemudian dapat menjadi solusi untuk menyembuhkan penyakit degeneratif, salah satunya yakni terapi sel punca atau stem cell.
Dengan bertambahnya usia apalagi dengan gaya hidup yang tidak sehat, penyakit degeneratif memang akan semakin mengintai. Penyakit degeneratif adalah kondisi kesehatan yang menyebabkan jaringan atau organ memburuk dari waktu ke waktu. Beberapa penyakit degeneratif di antaranya thalasemia, hemofilia, parkinson, kolesterol, diabetes hingga kanker.
Deputi Direktur Stem Cell and Cancer Institute, Sandy Qlintang mengungkapkan, sel punca merupakan sebuah sel yang memiliki kemampuan untuk berubah menjadi berbagai jenis sel yang ada dalam diri kita. Meskipun sel punca merupakan sel yang belum terdiferensiasi, tapi bisa menghasilkan sel-sel yang terspesialisasi seperti sel otot, jantung, darah, saraf hingga menjadi sel jaringan organ dan sistem organ.
Baca juga: Demensia dan Alzheimer Ancam Kejahteraan Hidup, Cegah sejak Dini
Melalui terapi stem cell, dapat dibentuk jaringan baru untuk menggantikan sel-sel yang rusak yang menyebabkan kerusakan organ.
“Terapi sel punca ada macam-macam. Ada naive stem cell atau stem cell yang dikembangbiakkan lalu diberikan kepada pasien. Lalu ada stemcell yang diedit baru diberikan kepada pasien,” beber Qlintang, Sabtu, (30/9).
Salah satu terapi sel punca adalah pada pasien thalasemia. Saat ini, penyakit itu belum ditemukan obatnya dan hanya dapat diatasi dengan transfusi darah seumur hidup. Terapi sel punca pada pasien thalasemia disebut dengan allogeneic stem cell.
Baca juga: Susun Standar Layanan Sel Punca, Kemenkes Uji Publik Aturan Turunan UU Kesehatan
“Bagaimana caranya? Dari donor sehat, diambil sel puncanya, lalu dilakukan terapi gen-gen tertentu, dan dimasukkan lagi ke dalam tubuh pasien. Dan pasien kemudian menjadi sehat dan thalasemia hilang. Ini adalah salah satu contoh terapi masa depan,” beber dia.
Beberapa terapi sel punca yang sudah berhasil di antaranya ialah pada pasien penyakit hemofilia dan parkinson. Qlintang juga membeberkan sebenarnya terapi ini bisa dilakukan di banyak penyakit, seperti covid-19, cedera lutut dan diabetes.
“Jadi stem cell ini bisa diambil dari diri sendiri, dari sumsum tulang dan dikembangbiakkan, lalu bisa juga dari orang lain, tapi dengan syarat melakukan tes kecocokan,” ucap dia.
Kendala Biaya
Namun, Qlintang mengakui saat ini terapi sel punca masih sebatas penelitian berbasis layanan. Ada beberapa hal yang membuat penelitian terapi sel punca berjalan lama. Di antaranya biaya yang mahal. Ia menyebut bahwa dalam satu kali terapi sel punca, bisa membutuhkan dana sekitar Rp2 miliar.
“Terapi ini belum bisa dilakukan banyak orang, Karena terapi ini gak gampang. Komplikasinya bisa menyebabkan kegagalan dan immune rejection,” jelas Qlintang.
Selain itu, untuk mendapatkan izin edar, perlu satu penelitian yang besar. Mulai dari uji hewan, uji fase 1, fase 2 hingga fase 3. Dan setiap pelayanan pada penyakit yang berbeda, dibutuhkan uji yang berbeda pula.
“Dan setiap proses itu membutuhkan biaya Rp15 miliar. Itu yang cukup sulit untuk di-approve,” imbuh dia.
Di samping itu, meskipun dikatakan sebagai terapi masa depan, terapi sel punca belum tentu berhasil. Pasalnya, ada berbagai faktor yang dapat menentukan faktor keberhasilan itu.
“Misalnya, pasien yang dikasih stem cell itu ngerokok, dugem, dan sebagainya. Bagaimana stem cell bisa bekerja kalau ada rokoknya atau hidupnya gak sehat. Itu gak berhasil juga kan,” beber Qlintang.
Namun, ia menyatakan bahwa penelitian stem cell tengah mengalami perkembangan yang pesat di seluruh dunia. Beberapa negara pun menjual stem cell tourism, di antaranya Thailand, Jepang dan Swiss.
“Nah, karenanya kita sedang membuat kawasan ekonomi khusus, dan diharapkan nanti akan ada stem cell ini untuk wisata kesehatan,,” pungkas dia.
(Z-9)
Terapi Rezum menggunakan uap air bersuhu 103 derajat Celcius untuk mengecilkan jaringan prostat dalam waktu sekitar 15–30 menit, tanpa perlu rawat inap.
Ratusan ribu orang di seluruh dunia hidup dengan kardiomiopati takotsubo, atau sindrom patah hati, yang menyebabkan otot jantung berubah bentuk dan melemah secara mendadak.
Banyak yang keliru membedakan antara kecemasan (anxiety) dan depresi. Ini perbedaannya.
MASYARAKAT diimbau tidak menunda konsultasi dan terapi jika menyadari ada gangguan bipolar (GB) dan skizofrenia, baik pada diri sendiri, keluarga maupun lingkungan sekitar.
Ketegangan otot, nyeri kronis, insomnia, hingga kelelahan dapat menjadi manifestasi dari beban emosional yang belum terselesaikan.
Masyarakat diajak untuk tidak ragu dan malu melakukan pemeriksaan kesehatan ke puskesmas jika memiliki gejala kasus TB sebab penyakit tersebut bisa disembuhkan.
Dalam sebuah makalah baru yang diterbitkan dalam jurnal Cell, para peneliti mendokumentasikan bahwa respons seluruh tubuh pada salamander axolotl ini dipicu oleh sistem saraf simpatik
WORLD Stem Cell Summit 2025 atau KTT Sel Punca Global berlangsung di Amsterdam, Belanda.
Penelitian Universitas Tokyo menemukan sel punca penyebab uban juga dapat berubah menjadi kanker kulit, tergantung pada jenis stres DNA yang dialaminya.
Perlu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang potensi terapi sel punca dalam membantu pengelolaan berbagai penyakit, semisal kanker, diabetes,
Studi ini dilakukan menggunakan tikus jantan yang sengaja dibuat infertil melalui kondisi malnutrisi, sehingga testis mereka mengalami kerusakan dan tidak lagi mampu memproduksi sperma.
DUNIA kesehatan baik estetik, kebugaran, maupun bedah plastik semakin berkembang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved