Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR Gastrohepatologi dari Fakultas Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo Prof Badriul Hegar menyebut masalah makan pada anak perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak pada terganggunya pertumbuhan.
"Konsumsi zat nutrisi yang tidak optimal, perkembangan juga terganggu, dan mempengaruhi emosinya," ungkap Hegar, dikutip Sabtu (29/7).
Lebih lanjut, Hegar menjelaskan kejadian masalah makan pada anak juga bervariasi, tergantung dari istilah dan umur si kecil. Namun, 20% hingga 70% masalah makan dialami oleh anak berusia di bawah 5 tahun.
Baca juga: Ingin Anak Mandiri? Jangan Suapi Anak yang Sudah Bisa Makan Sendiri
Masalah makan sendiri bisa disebabkan faktor lingkungan, perilaku atau psikologi anak atau bisa juga disebabkan gangguan organik seperti gangguan saluran cerna.
Beberapa gangguan pencernaan yang menyebabkan ketidaknyamanan anak saat makan dan membuat anak enggan makan yakni diare, muntah, sakit perut, demam, gastroesophageal reflux disease (GERD), intoleransi laktosa, atau gangguan gastrointestinal lainnya.
Selain memengaruhi nafsu makan anak, gangguan-gangguan tersebut juga dapat membuat kesan tidak menyenangkan pada anak sehingga anak memiliki rasa takut ketika makan.
Baca juga: Orangtua Diingatkan Perhatikan Komposisi Gizi Bekal Anak
"Meskipun sebagian besar disebabkan non organik, sebagai dokter dan orangtua perlu mewaspadai adanya gejala penyakit organik pada 20%-30% anak dengan masalah makan," terang Hegar.
Beberapa kelainan organik yang menyebabkan masalah makan pada anak terbagi menjadi tiga macam. Pertama, gangguan saluran cerna penyakit refluks gastroesofagus (PRGE), kolik infantil, dan infeksi saluran cerna.
Kedua, alergi makanan terutama terhadap protein susu sapi, atau bahan makanan lainnya seperti gluten pada penyakit seliak. Ketiga, gangguan perkembangan motorik dan sensorik juga memengaruhi kemauan makan, kesulitan mengunyah dan menelan makanan.
"Sebaiknya secara berkala kita mengevaluasi kemungkinan adanya kelainan organik pada anak yang belum memberikan respon terhadap tata laksana yang diberikan, minimal setiap 3 bulan," papar Hegar.
"Tidak jarang kelainan organ yang tidak tertata laksana dengan maksimal, menyebabkan trauma anak terhadap makanan, sehingga meski kelainan organik telah teratasi, anak tetap mengalami masalah makan, menolak makanan yang diberikan," lanjutnya.
Anak yang susah makan berisiko mengalami malnutrisi yang berdampak pada tumbuh kembangnya termasuk melemahnya sistem imunitas.
Akibatnya, anak mudah terinfeksi dan memperburuk malnutrisi. Malnutrisi juga dapat menyebabkan pertumbuhan otak tidak optimal sehingga daya pikir pada anak lebih lambat.
Dokter Tumbuh Kembang Anak RSCM Bernie Endyarni Medise menjelaskan agar terhindar dari risiko malnutrisi, beberapa hal harus diperhatikan orangtua terkait pola makan anak.
"Anak dapat mengalami malnutrisi yang ringan hingga masalah makan yang sangat ekstrem dan menyebabkan defisiensi gizi yang signifikan. Defisiensi gizi akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, pertumbuhan fisik, fungsi kognitif otak, motorik, fungsi fisiologis dan perubahan respon imun," ucap Bernie.
"Hal yang paling penting dilakukan orang tua dalam situasi ini adalah segera berkonsultasi dengan dokter, jadi bisa ditentukan prioritas penanganan dan tata laksananya," imbuhnya.
Dalam beberapa kasus, anak dengan masalah makan akan mengalami pertumbuhan lambat atau gagal, karena defisiensi nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal dan normal sesuai usianya.
Anak yang mengalami masalah makan dapat terpengaruh juga perkembangan kognitifnya sehingga kesulitan dalam berkonsentrasi, daya ingat lemah, dan kemampuan kognitif lainnya.
"Untuk mendukung tumbuh kembang optimal serta mencapai berat badan anak yang sehat, orangtua berperan penting untuk memperhatikan pola makan pada anak serta variasi makanan yang akan sajikan kepada anak," kata Bernie.
Terakhir, Bernie menyampaikan, hal lain yang paling penting dilakukan orangtua adalah segera berkonsultasi dengan dokter, sebab, masalah ini bisa jadi bagian dari masalah lain yang lebih besar sehingga anak terancam mengalami malnutrisi atau defisiensi nutrisi yang berdampak pada tumbuh kembang mereka. (Ant/Z-1)
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Inisiatif ini mempertegas komitmen platform dalam melibatkan orangtua secara langsung untuk menyusun kebijakan dan pengembangan Roblox di masa depan.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung maupun bungsu.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Adil tidak berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Istilah "makan terakhir" biasanya merujuk pada hidangan pamungkas yang diinginkan seseorang sebelum menutup usia.
Minat makan anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman sensorik, termasuk variasi rasa dan aroma.
Pada fase krusial saat mengonsumsi MPASI, anak perlu diperkenalkan dengan berbagai spektrum rasa agar mereka lebih terbuka terhadap variasi pangan di kemudian hari.
Susu sejatinya berfungsi sebagai bagian dari makanan lengkap atau sekadar makanan selingan, terutama saat sarapan.
Meski ibu hamil sering merasa lapar atau mengalami ngidam, pola makan tetap harus dijaga agar tidak berlebihan dan tetap seimbang.
Berbaring setelah makan membuat asam lambung mudah naik ke kerongkongan, menyebabkan perih, panas di dada, dan mulut pahit.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved