Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA masih memiliki pekerjaan rumah (PR) besar untuk mengatasi masalah sampah. Ketua Dewan Pembina Indonesia Solid Waste Association InSWA Sri Bebassari menilai bahwa yang terpenting adalah membentuk mindset semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama dan kebersihan merupakan investasi.
Menurut Sri, ada lima aspek dalam pengelolaan sampah, yakni aspek peraturan, kelembagaan, pendanaan, sosial budaya dan teknologi. Namun, hingga kini Indonesia dinilainya masih berfokus pada aspek teknologi.
"Misalnya saat saya mewawancarai seseorang tentang sampah, apa yang anda pikirkan tentang sampah? Kebanyakan menjawab kompos, daur ulang, waste to energy. Jadi selalu yang ada di pikiran orang adalah teknologi tentang sampah," kata Sri, Rabu (14/6).
Baca juga: KLHK Akui Pengelolaan Sampah di Indonesia Ketinggalan Jauh dari Eropa
Sri yang sudah berkecimpung di dunia persampahan selama 40 tahun lebih itu menilai, meski penting, urusan teknologi bukanlah prioritas utama. Pasalnya, kini sudah banyak teknologi pengelolaan sampah yang berkembang, mulai dari dalam hingga luar negeri. Yang paling penting justru meningkatkan empat aspek lainnya.
Dari segi pendanaan misalnya, ia mengatakan bahwa itu merupakan aspek krusial. Bukan hanya bicara soal investasi pengelolaan sampah saja, tapi harus secara detail dihitung berapa kebutuhan untuk pengumpulan, pengangkutan hingga pemrosesan akhir setiap ton sampah.
Baca juga: Harus Ada Upaya dari Hulu ke Hilir Menuntaskan Persoalan Sampah
Hingga kini pun, APBD daerah yang dialokasikan untuk pengelolaan sampah kurang dari 1%. Angka itu jauh di bawah alokasi untuk kesehatan sebesar 10% atau pendidikan sebesar 20%.
"Padahal pendanaan kebersihan adalah investasi. Kalau kita pakai persentase APBN dan APBD, ya paling tidak sampah masuk ke prioritas, tidak hanya di bawah 1% anggarannya, tapi harusnya mencapai 5% atau 6%," jelas dia.
Sri mengakui, biaya operasional pengelolaan sampah bukanlah sesuatu yang murah. Untuk pengumpulan sampah tercampur misalnya, dibutuhkan dana sebesar US$60 sampai US$80 perton. Lalu untuk komposting sebesar US$20 sampai US$40 Pperton. Kemudian untuk waste to energy sebesar US$40 sampai US$80 perton dan untuk sanitary landfill sebesar US$10 sampai US$120 perton.
Bukan hanya dari pemerintah saja, biaya pengelolaan sampah juga dinilai perlu dibebankan kepada masyarakat. Ia mengambil contoh negara Singapura yang iuran pengumpulan sampahnya bisa mencapai Rp300 ribu per rumah.
"Jadi kenapa Singapura bisa bersih? Karena iuran sampahnya itu besar. Berbeda dengan kita yang kadang-kadang diminta Rp2.000 saja masih ada yang tidak mau. Ini yang perlu kita amati," jelas dia.
Selain itu, untuk mempercepat upaya pengelolaan sampah di Indonesia, dirinya menilai perlu revisi UU 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Menurutnya, ada beberapa pasal yang harus ditambahkan dan ada yang perlu disederhanakan.
"Misalnya saja untuk TPA sanitary landfill, kita butuh dana sekian dolar perton. Itu harusnya nanti ada pasal pendanaan. Tapi kalau sementara belum ada revisi, ya kita baca dulu dan terapkan pasal-pasal yang ada untuk menciptakan Indonesia yang bersih," pungkas dia. (Ata/Z-7)
Keberhasilan program pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kebijakan di tingkat kota, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif dari kelurahan hingga RW.
UMJ membantah keras isu ‘mahar aksi’ dalam demonstrasi BEM soal sampah Tangsel. Kampus menilai tudingan tersebut menyesatkan dan tidak berdasar.
Mulai pekan ini, setiap KK yang sebelumnya menerima dua galon air mineral per minggu, kini akan mendapatkan empat galon air secara rutin selama satu bulan ke depan.
Wali Kota Tangsel memastikan pihaknya telah mengamankan kesepakatan pembuangan sampah ke wilayah Cileungsi untuk mengurai penumpukan.
Dalam tuntutannya, BEM UMJ mendesak Wali Kota Tangsel bertanggung jawab atas terjadinya penumpukan sampah, khususnya di wilayah Ciputat dan sekitarnya.
Darurat sampah Tengerang dan Tangsel disebut pengamat sebagai bukti dari kegagalan tata kota dan pengelolaan sampah dalam jangka panjang.
Pekerja mengolah sampah tutup botol plastik di Bank Sampah Kertabumi, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten.
Edukasi yang paling mendasar adalah memilah sampah dari rumah sebelum dibuang.
Gereja Katedral Jakarta kembali menunjukkan kepeduliannya pada lingkungan dan semangat kebersamaan dengan menggunakan dekorasi Natal berbahan daur ulang pada perayaan Natal 2025.
Anggota kelompok bank sampah merapikan pernak-pernik pohon Natal dari bahan daur ulang di halaman Gedung Mitra Graha, Semarang.
Kegiatan diikuti sebanyak 347 peserta tingkat SD dan SMP dari wilayah Jakarta, Bogor dan Bekasi tersebut bertujuan untuk membentuk generasi literat yang sadar lingkungan.
Jaringan bioskop Cinema XXI menyalurkan hasil penjualan program XXI Screen Bag, tas hasil daur ulang layar bioskop bekas, untuk mendukung anak-anak penyintas kekerasan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved