Jumat 02 Desember 2022, 23:38 WIB

Ahli: Masyarakat tidak Boleh Lengah, Subvarian XBB Bahaya bagi Komorbid

M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora
Ahli: Masyarakat tidak Boleh Lengah, Subvarian XBB Bahaya bagi Komorbid

MI/Ramdani
Ribuan warga memadati kawasan Bundaran HI, Jakarta, saat Car Free Day (CFD) berlangsung.

 

MELONGGARNYA tingkat kepatuhan protokol kesehatan (prokes) sangat berpengaruh pada peningkatan jumlah kasus covid-19 harian. Namun, level pengaruh akan meningkat pada orang yang memiliki komorbid dan risiko tinggi.

"Umumnya, covid-19 subvarian XBB hanya menyebabkan gejala ringan. Tapi, betul pada lansia atau mereka dengan komorbid risiko menjadi berat, bahkan kematian lebih besar," ungkap ahli kesehatan sekaligus Guru Besar Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Amin Soebandrio saat dihubungi, Jumat (3/12).

Menurutnya, subvarian XBB dan varian omikron lainnya bisa melarikan diri dari antibodi, baik pascainfeksi, vaksinasi, maupun terapi antibodi monoklonal.

Baca juga: Covid-19 Varian XBB Picu Lonjakan Kasus di Indonesia, Protokol Kesehatan Perlu Diperhatikan Serius

"Intinya semua komorbid yang menyebabkan penurunan kekebalan tubuh, dan/atau adanya kerusakan satu atau lebih organ tubuh misalnya jantung, ginjal, hati, paru, atau kombinasinya," imbuh Amin.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan M. Syahril menekankan bahwa banyaknya kasus positif harian dan kasus yang meninggal tidak ada hubungannya. Sebab, yang menyebabkan banyaknya kematian terkait covid-19 adalah risiko tinggi dan komorbid.

Baca juga: Hanya 1% Penyandang Disabilitas Majemuk Terima Pendidikan

"Orang terpapar covid-19 dengan gejala sedang, berat dan kritis, apabila dengan risiko tinggi, seperti lansia atau penyakit risiko tinggi lain, seperti diabetes, hipertensi dan jantung, itu menyebabkan banyak kematian," jelas Syahril.

Lebih lanjut, dia menekankan bahwa pasien positif covid-19 yang meninggal banyak dari kelompok risiko tinggi dan komorbid. Pihaknya menegaskan kepada seluruh rumah sakit di Indonesia, bahwa tidak boleh menolak pasien yang berobat, meski dengan antigen positif.

"Kebijakan Kemenkes tidak ada fasilitas pelayanan kesehatan yang menolak kasus covid-19 yang dirawat. Harus ada fasilitas untuk merawat pasien, yaitu sekitar 10%, dari kapasitas tempat tidurnya," tuturnya.(OL-11)
 

Baca Juga

MI/ HO

BSM Umat Bertransformasi jadi BSI Maslahat

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 30 Januari 2023, 14:52 WIB
Transformasi BSI Maslahat diharapkan membuat llembaga tersebut menjadi yang terdepan dalam menguatkan ekosistem ekonomi...
ANTARA/Anis Efizudin

Wisatawan Perlu Edukasi untuk Naik Candi Borobudur

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 30 Januari 2023, 13:00 WIB
"Ke depan ada paradigma baru untuk bisa datang dan bisa naik ke Candi Borobudur harus rela melakukan...
Ist

Barista Innovation Challenge 2022 Sajikan Ragam Kreasi Menu Unik 

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 30 Januari 2023, 12:19 WIB
Barista Course ini diharapkan dapat memfasilitasi barista Indonesia untuk dapat berkarya di kancah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya