Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA orangtua disarankan menenangkan diri terlebih dulu sebelum menangani anak-anak yang mengalami tantrum. Kebingungan yang melanda orangtua kala menghadapi anak tantrum merupakan hal wajar.
Psikolog Alsi Marsha Tengker, B.A., M.Sc., M.Psi menyarankan itu dalam suatu webinar pada Kamis (24/11). "Tantrum tergolong emosi yang besar. Mungkin orangtua saja tak terbiasa dengan itu semasa kecil," ujarnya.
"Jadi kita melihat saat anak kita mengekspresikan emosi besar, sebenarnya sama bingung dan takutnya dengan kita waktu kecil merasakan itu. Memang tidak mudah untuk memproses itu. Kalau aku boleh saran, soal tantrum memang baiknya kita yang tenangin diri dulu sebelum menangani anaknya," saran Marsha.
Dalam kesempatan itu, dokter spesialis anak yang juga Founder dan CEO Tentang Anak dr. Mesty Ariotedjo Sp.A menuturkan, anak-anak perlu dikenalkan emosi yang dirasakan. Tantrum, menurut dia, suatu proses yang diawali dari tidak pahamnya anak pada emosi yang dirasakan. "Semakin cepat anak mengenali mungkin regulasi emosinya akan semakin baik," tutur dia.
Di sisi lain, Principal Early Childhood Education Gianti Amanda, M.Psi. T, Montessori, Dipl berpendapat orangtua sebenarnya bisa menyampaikan emosi yang dia sampaikan kepada anak, tetapi disesuaikan porsinya dengan usia anak. "Sebagai orangtua perlu menenangkan diri juga boleh loh menyampaikan. Emosi bisa kita sampaikan, bagi, tetapi dengan porsi sesuai usia anak," demikian saran dia.
Menurut Mayo Clinic, tantrum adalah ekspresi frustrasi anak dengan keterbatasannya atau kemarahannya karena tidak bisa mendapatkan yang diinginkannya. Mungkin anak kesulitan memikirkan sesuatu dan tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya.
Anak umumnya tidak berencana membuat frustrasi atau mempermalukan orangtua mereka. Bagi sebagian besar balita, tantrum ialah cara untuk mengungkapkan rasa frustrasi. Untuk anak yang lebih besar, tantrum mungkin merupakan perilaku yang dipelajari.
Jika orangtua menghadiahi amukan dengan sesuatu yang diinginkan anak, amukan cenderung berlanjut. Biasanya, cara terbaik untuk menanggapi amukan ialah dengan tetap tenang. Jika orangtua merespons dengan ledakan kemarahan, anak mungkin akan meniru perilaku itu. Meneriaki seorang anak untuk menenangkan diri juga cenderung memperburuk keadaan.
Sebaliknya, cobalah mengalihkan perhatian anak. Berikan buku yang berbeda, berpindah lokasi, atau membuat wajah lucu mungkin bisa membantu. Jika anak memukul atau menendang seseorang atau mencoba lari ke jalan, cobalah menghentikan perilakunya dengan menggendongnya sampai dia tenang. (Ant/OL-14)
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Salah satu penyebab anak tantrum tidak mau berhenti saat mandi adalah instruksi orangtua yang tidak spesifik yang terkadang terkesan sepihak sehingga memicu perdebatan.
Kecanduan gadget merupakan salah satu masalah serius yang banyak dihadapi oleh anak-anak di era digital ini.
Tantrum pada anak merupakan masalah perilaku yang umum dengan mengekspresikan kemarahan.
alah satu alasan anak mengalami tantrum yakni kesulitan mengekspresikan keinginannya
Anak yang menonton atau mendapatkan paparan gadget lebih dari 20 menit, 66% mengalami tempered tantrum.
Untuk mencegah perilaku tantrum pada anak, perlu diterapkan komunikasi yang baik sejak dini dan orangtua harus menjadi contoh yang baik pada anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved