Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA orangtua disarankan menenangkan diri terlebih dulu sebelum menangani anak-anak yang mengalami tantrum. Kebingungan yang melanda orangtua kala menghadapi anak tantrum merupakan hal wajar.
Psikolog Alsi Marsha Tengker, B.A., M.Sc., M.Psi menyarankan itu dalam suatu webinar pada Kamis (24/11). "Tantrum tergolong emosi yang besar. Mungkin orangtua saja tak terbiasa dengan itu semasa kecil," ujarnya.
"Jadi kita melihat saat anak kita mengekspresikan emosi besar, sebenarnya sama bingung dan takutnya dengan kita waktu kecil merasakan itu. Memang tidak mudah untuk memproses itu. Kalau aku boleh saran, soal tantrum memang baiknya kita yang tenangin diri dulu sebelum menangani anaknya," saran Marsha.
Dalam kesempatan itu, dokter spesialis anak yang juga Founder dan CEO Tentang Anak dr. Mesty Ariotedjo Sp.A menuturkan, anak-anak perlu dikenalkan emosi yang dirasakan. Tantrum, menurut dia, suatu proses yang diawali dari tidak pahamnya anak pada emosi yang dirasakan. "Semakin cepat anak mengenali mungkin regulasi emosinya akan semakin baik," tutur dia.
Di sisi lain, Principal Early Childhood Education Gianti Amanda, M.Psi. T, Montessori, Dipl berpendapat orangtua sebenarnya bisa menyampaikan emosi yang dia sampaikan kepada anak, tetapi disesuaikan porsinya dengan usia anak. "Sebagai orangtua perlu menenangkan diri juga boleh loh menyampaikan. Emosi bisa kita sampaikan, bagi, tetapi dengan porsi sesuai usia anak," demikian saran dia.
Menurut Mayo Clinic, tantrum adalah ekspresi frustrasi anak dengan keterbatasannya atau kemarahannya karena tidak bisa mendapatkan yang diinginkannya. Mungkin anak kesulitan memikirkan sesuatu dan tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya.
Anak umumnya tidak berencana membuat frustrasi atau mempermalukan orangtua mereka. Bagi sebagian besar balita, tantrum ialah cara untuk mengungkapkan rasa frustrasi. Untuk anak yang lebih besar, tantrum mungkin merupakan perilaku yang dipelajari.
Jika orangtua menghadiahi amukan dengan sesuatu yang diinginkan anak, amukan cenderung berlanjut. Biasanya, cara terbaik untuk menanggapi amukan ialah dengan tetap tenang. Jika orangtua merespons dengan ledakan kemarahan, anak mungkin akan meniru perilaku itu. Meneriaki seorang anak untuk menenangkan diri juga cenderung memperburuk keadaan.
Sebaliknya, cobalah mengalihkan perhatian anak. Berikan buku yang berbeda, berpindah lokasi, atau membuat wajah lucu mungkin bisa membantu. Jika anak memukul atau menendang seseorang atau mencoba lari ke jalan, cobalah menghentikan perilakunya dengan menggendongnya sampai dia tenang. (Ant/OL-14)
Gemas sama anak orang boleh, tapi jangan main cium, pegang, apalagi asal suapin. Kita gak tau kuman apa yang nempel di tangan kita.
Penguatan pelayanan kesehatan primer, terutama Puskesmas dan Posyandu, harus menjadi prioritas dalam strategi nasional penanganan kesehatan mental anak.
Pemerintah mengajak para orangtua untuk kembali menghadirkan waktu berkualitas di rumah melalui gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
TANTRUM merupakan hal yang umum terjadi pada anak, terutama di usia balita dan prasekolah.
Salah satu penyebab anak tantrum tidak mau berhenti saat mandi adalah instruksi orangtua yang tidak spesifik yang terkadang terkesan sepihak sehingga memicu perdebatan.
Kecanduan gadget merupakan salah satu masalah serius yang banyak dihadapi oleh anak-anak di era digital ini.
Tantrum pada anak merupakan masalah perilaku yang umum dengan mengekspresikan kemarahan.
alah satu alasan anak mengalami tantrum yakni kesulitan mengekspresikan keinginannya
Anak yang menonton atau mendapatkan paparan gadget lebih dari 20 menit, 66% mengalami tempered tantrum.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved