Jumat 04 November 2022, 23:56 WIB

Pengamat: Waspadai Narasi Radikal Terorisme adalah Stigmatisasi Agama

mediaindonesia.com | Humaniora
Pengamat: Waspadai Narasi Radikal Terorisme adalah Stigmatisasi Agama

Ist
Direktur Amir Mahmud Center, Amir Mahmud.

 

AMIR Mahmud Center, yang bergerak dalam bidang kajian kontranarasi dan ideologi dari paham radikal terorisme, menyatakan masyarakat harus mewaspadai narasi yang mengatakan bahwa radikal terorisme merupakan stigmatisasi agama.

"Harus dipahami bahwa radikalisme terorisme ini bukan klaim perlawanan terhadap umat Islam, bukan. Dibilang islamofobia juga bukan," kata Direktur Amir Mahmud Center, Amir Mahmud, yang juga mantan kombatan yang merupakan alumnus Akademi Militer (Akmil) Mujahidin Afghanistan seperti dilansir Antara di Jakarta, Jumat (4/11).

Sebenarnya, menurut dia, radikalisme setelah ditelusuri dengan berbagai konteks penelitian dan riset ternyata lahir sengaja digugah atau
dibangkitkan kembali oleh kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam.

Beberapa waktu lalu masyarakat dikejutkan dengan ditangkapnya seorang wanita benama Siti Elina (SE). Dia hendak menerobos masuk ke Istana Merdeka dengan membawa pistol.
 
Dalam pemeriksaan terungkap bahwa SE ingin menemui Presiden Joko Widodo, kemudian bermaksud menyampaikan bahwa dasar negara Indonesia salah karena tidak menggunakan syariat agama.

Namun, lanjut Amir, dalam penelusuran diketahui bahwa yang bersangkutan merupakan pendukung organisasi kelompok radikal yang telah
dibubarkan, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan terhubung dengan kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Akan tetapi, ada beberapa komentar di jagat maya dan tokoh nasional mengeluarkan statemen yang mengatakan bahwa kasus tersebut merupakan bentuk stigmatisasi pemerintah terhadap umat Islam. Mereka meminta masyarakat jangan percaya terhadap radikalisme dan terorisme karena merupakan bagian setting pemerintah menjelang akhir tahun dan tahun politik.

"Kalau membiarkan narasi-narasi tersebut, justru akan lebih memperparah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang sedang
proses membangun," kata Amir ketika menanggapi hal tersebut.
 
Amir menjelaskan bahwa sejatinya radikalisme dan terorisme itu bukanlah stigmatisasi agama, melainkan benar-benar musuh agama dan musuh negara. Apa yang menjadikan sorot pandang seorang tokoh yang mengatakan bahwa perkara itu adalah stigma terhadap Islam, menurutnya, terlalu dini dan tidak mendasar untuk mengatakannya.


Baca juga: PUI Syukuri Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional KH.Ahmad Sanusi


Ia menilai tokoh yang bicara itu tidak bisa melihat sejauh mana sebenarnya bahaya radikalisme dan terorisme itu berkembang di
tengah-tengah masyarakat.
 
"Ini dimainkan oleh kelompok-kelompok yang senantiasa ingin merusak tatanan nilai kehidupan bangsa dan bernegara," ujarnya.

Kelompok tersebut, lanjut dia, selalu menjadikan perlawanan pemahaman ideologi mereka dengan Pancasila sebagai ideologi atau dasar negara Indonesia.
 
Menurut dia, yang menjadi masalahnya lagi menjelang tahun politik 2024 sudah ada gejala dari kelompok radikal tersebut untuk melakukan show of force (unjuk kekuatan) mereka. Hal itu, kata dia, dengan langkah-langkah seperti tablig, pengajian tablig dengan menggerakkan kelompok-kelompok atau komponen masyarakat yang tidak mengerti.

Amir mengungkapkan bahwa mereka menggunakan dalih olahraga dan dalih ukhuwah islamiah. Adapun simbol-simbol yang dimainkan adalah simbol-simbol kekerasan, benderanya yang dibawa juga bendera simbol-simbol yang ada simbol pedang dan sebagainya.

Hal itu, menurut Amir, kalau dibiarkan tentunya akan menjadi permasalahan bagi anak-anak muda serta kalangan yang lain.

Di sisi lain, kata dia, masih banyak komponen masyarakat yang tidak tahu dan tidak sadar mengenai bahaya, dampak, atau dahsyatnya paham radikal dan terorisme yang mengatasnamakan Islam ini jika membiarkan berkembang.
 
"Sebenarnya persoalan radikalisme dan terorisme adalah persoalan lama," ujarnya.

Untuk itu, dia meminta masyarakat agar benar-benar memahami bahwa penanganan radikalisme dan terorisme bukanlah stigmatisasi agama, melainkan menyelamatkan agama dari fitnah kelompok teror.
 
"Radikalisme dan terorisme adalah musuh negara dan juga musuh agama," katanya menegaskan. (Ant/OL-16)

Baca Juga

Antara

Jokowi Genjot Pembangunan Infrastruktur Digital untuk Genjot Kualitas SDM

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 01 Desember 2022, 12:35 WIB
Menurutnya hal itu sebagai langkah yang tepat di tengah distrupsi digital yang melaju sangat cepat guna melahirkan SDM unggul dan berdaya...
dok.humas kemendes

Di HBT ke-72, Gus Halim : Transmigrasi Tidak Bisa Dilepaskan dari Spiritualitas

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 01 Desember 2022, 10:55 WIB
MENDES PDT Abdul Halim Iskandar menyatakan Program Transmigrasi tidak bisa dilepaskan dari...
AFP

14.490 Rumah Rusak Akibat Gempa di Cianjur akan Direhabilitasi

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Kamis 01 Desember 2022, 10:40 WIB
Sebanyak 14.490 rumah yang terdata kerusakannya dan telah diverifikasi oleh BNPB akan dilakukan rekontruksi pascagempa Cianjur Jawa...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya