Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
BENCANA dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). Bencana alam dibedakan menjadi beragam jenis, salah satunya bencana hidrometeorologi.
Jadi apa yang dimaksud bencana hidrometeorologi dan apa yang jadi faktor penyebabnya?
Hidrometeorologi adalah cabang ilmu dari meteorologi yang memelajari siklus air, curah hujan, dan berkaitan dengan iklim dan cuaca.
Baca juga: Pakar UGM: Literasi Bencana Harus Libatkan Semua Pihak
Dengan kata lain, hidrometeorologi mencakup fenomena yang terjadi di atmosfer (meteorologi), air (hidrologi), dan lautan (oseanografi).
Ilmu ini sangat bermanfaat untuk mempersiapkan prakiraan cuaca, cara mengantisipasi banjir, dan upaya lainnya terkait bencana hidrometeorologi.
Bencana hidrometeorologi disebabkan oleh faktor alam seperti banjir, tanah longsor, hingga angin puting beliung.
Menurut Edvin Aldrian, pakar meteorogi dan klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional serta ahli di Intergovernmental Panel on Climate Change PBB, penyebab bencana hidrometeorologi di Indonesia adalah masuknya air hangat ke perairan Indonesia.
Akibatnya, terjadi pembentukan awan lebih banyak. Fenomena alam ini yang mendorong naiknya intensitas hujan di Indonesia yang membuat musim hujan lebih basar dari sebelumnya.
“Tingginya curah hujan selanjutnya mengakibatkan banjir dan tanah longsor,” kata Edvin, 8 Maret 2022.
Curah hujan tinggi juga diduga jadi penyebab erupsi Gunung Semeru pada 2021. Bencana hidrometeorologi merembet menjadi bencana vulkanologi. Magma yang bergerak ke atas membeku di puncak gunung. Pembekuan magma membentuk kubah yang membuat tumpukan material itu bercampur dengan air hujan yang terbawa arus melalui sungai.
Melansir Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bencana hidrometeorologi antara lain sebagai berikut:
Curah hujan ekstrem
Curah hujan ekstrem adalah hujan yang terjadi di suatu lokasi dengan intensitas tinggi melebihi batas curah hujan biasanya.
Bencana ini dipicu oleh pembentukan awan kumulonimbus yang terjadi di lapisan atmosfer yang cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan curah hujan meningkat disertai angin kencang, hujan es, dan berpotensi menyebabkan angin puting beliung.
Angin kencang
Angin kencang adalah angin yang bergerak dengan kecepatan lebih dari 27,8 kilometer per jam.
Angin akan berembus dari daerah dengan tekanan udara tinggi ke daerah dengan tekanan udara yang rendah. Biasanya angin kencang ini paling banyak terjadi pada peralihan musim dan sering bersamaan dengan pembentukan awan kumulonimbus.
Puting beliung
Mirip dengan angin kencang, puting beliung akan banyak terjadi pada peralihan musim. Puting beliung biasa terjadi pada siang hingga sore hari dalam durasi yang sangat singkat, yaitu sekitar 5 menit saja.
Angin puting beliung diawali dengan cuaca yang sangat panas kemudian tiba-tiba berubah mendung.
Bencana hidrometeorologi ini bersifat merusak karena bergerak dengan kecepatan lebih dari 63 kilometer per jam.
Banjir
Banjir adalah meluapnya air karena tanah jenuh atau jalur hidrologi tidak mampu menampung debit air hujan yang turun.
Banjir rawan terjadi ketika curah hujan tinggi dan terus menerus.
Dalam bentuk yang lebih parah dan merusak, banjir bisa berbentuk banjir bandang.
Banjir bandang adalah melupanya air yang terjadi dengan tiba-tiba dengan debit yang sangat besar. Banjir bandang sangat berbahaya karena bersifat merusak dan menyapu apa saja yang dilewatinya.
Kekeringan
Jika bencana sebelumnya membahas mengenai bencana yang ditandai dengan meningkatkan debit air, turunnya debit air juga bisa menyebabkan bencana hidrometeorologi, contohnya kekeringan.
Kekeringan terjadi akibat defisit curah hujan di suatu wilayah dalam waktu yang cukup panjang.
Dampak utama kekeringan adalah minimnya akses air bersih untuk air minum dan gagal panen di ladang pertanian. Selain kelima bencana tersebut, masih banyak contoh bencana lainnya, seperti kebakaran hutan, El Nino, El Nina, longsor, gelombang dingin, dan gelombang panas. (OL-1)
Pada awal 2026, Indonesia masih merasakan pengaruh fenomena La Nina.
Intensitas hujan tinggi yang terjadi di berbagai daerah harus diwaspadai bersama dan masyarakat tetap selalu meningkatkan kesiapsiagaan hingga kewaspadaan.
BPBD juga mengingatkan warga untuk mengantisipasi potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG mengimbau warga di sembilan kabupaten/kota di Sulawesi Utara mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi hingga 12 Agustus 2025.
Ravidho Ramadhan menempuh program Doktoral di Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM itu menjadi doktor termuda
BRIN melalui Pusat Riset Geoinformatika bersama PT. Urban Spasial Indonesia mengembangkan pemanfaatan teknologi Light Decection and Ranging (LiDAR) untuk pemetaan kebencanaan.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Fenomena ini berpotensi memicu keruntuhan gravotermal, yaitu kondisi ketika inti halo terus memadat akibat aliran energi ke luar.
Megatsunami Greenland menjadi salah satu fenomena alam paling mengejutkan dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa ini bukan tsunami biasa.
Gerhana Matahari total terjadi ketika Bulan bergerak tepat di antara Bumi dan Matahari, menutupi piringan Matahari sepenuhnya.
Satelit Landsat 8 milik NASA menangkap gambar unik menyerupai manusia salju sepanjang 22 kilometer di Semenanjung Chukchi, Rusia.
Langit berwarna oranye pekat terlihat di sejumlah wilayah Jawa Timur dan sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved