Jumat 16 September 2022, 20:29 WIB

Pandemi Bisa Berakhir pada Akhir Tahun 2022

M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora
Pandemi Bisa Berakhir pada Akhir Tahun 2022

Dok.Pribadi
Epidemiolog dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia Dicky Budiman

 

EPIDEMIOLOG dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia Dicky Budiman menilai pencabutan status pandemi covid-19 bisa terjadi pada akhir tahun ini. Namun akan sangat bergantung pada upaya bersama terutama cakupan vaksinasi global yang harus dikejar setidaknya vaksinasi reguler 85 persen ditambah kelompok rawan mendapatkan dosis ketiga dan keempat.

"Jika ekspektasi optimis maka akhir tahun atau triwulan pertama akan bisa dicabut status pandeminya dengan alasan melihat tren efektivitas atau manfaat dari vaksin," kata Dicky kepada Media Indonesia, Jumat (16/9).

Imunitas yang dibentuk di publik bisa menjadi dasar penguat pemulihan, pelonggaran-pelonggaran dalam konteks Indonesia meski dalam situasi yang terkendali. Namun Indonesia punya kerawanan karena kelompok yang rawan lansia dan komorbid belum mendapatkan booster sepenuhnya.

"Sehingga ini berbahaya karena varian baru ini efektif bisa membalikkan kondisi ketika menginfeksi orang yang rawan yang belum mendapatkan booster dan bisa fatal," ujarnya.

Sehingga, lanjut Dicky, kondisi saat ini seperti maraton mutasi varian baru yang cepat atau vaksinasi yang lebih cepat. Selain vaksin, masyarakat dunia juga perlu mengubah cara hidup yang lebih sehat bukan hanya covid-19 saja dalam konteks meraih kesehatan yang lebih baik.

Dihubungi terpisah, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menilai meski Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa kasus harian dunia mulai melambat dan akhir pandemi sudah terlihat namun jangan sampai lengah.

"Maka hal yang perlu dilakukan masyarakat Indonesia adalah tetap menerapkan protokol kesehatan yang efektif agar tidak tertular dan menular untuk Covid dan juga penyakit infeksi lainnya sambil tetap produktif menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi," ungkapnya.

Baca juga: BLT BBM Diperluas untuk Lansia, Disabilitas, Hingga Anak Yatim

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril memaparkan situasi di Indonesia per 15 September 2022 jumlah kasus harian mencapai 2.651 kasus dengan positivity rate 7.85%. Sehingga terjadi penurunan dari 4 ribu kasus dan tren kematian dalam 2 minggu terakhir juga menurun dari 2,48 menjadi 2,47.

"Juga tren pasien yang dirawat mengalami penurunan dari 3.988 pasien menjadi 3.340 pasien. Begitu juga bed occupation rate (BOR) juga mengalami penurunan dari 6,23% menjadi 5,32%," katanya.

Cakupan vaksin 1 sebesar 86,90% atau sekitar 203,9 juta orang, vaksin 2 sebesar 72,68% 170 juta orang, dan vaksin 3 atau booster baru 26,45% sekitar 62 juta orang. Sehingga totalnya ada 436.571.380 masyarakat yang suda divaksin reguler maupun booster.

"Ada 3 provinsi teratas dalam cakupan vaksinasi booster yakni Bali, DKI Jakarta, dan Kepulauan Riau yang di atas 50 persen dan ada 10 provinsi yang di bawah 50 persen dan selebihnya di bawah 30 persen," ujarnya

Peningkatan vaksinasi booster terjadi pada April 2022 karena vaksiansi booster menjadi syarat untuk mayarakat melakukan perjalanan mudik, dan selepas itu grafiknya terus mengalami fluktuatif dan kini menurun.

Situasi global tren kasus di beberapa negara didominasi varian BA.5 kecuali Tiongkok yang didominasi varian BA.275 dengan kasus hanya 1.588 kasus. Sedangkan kasus di Hongkong terakhir menyentuh angka 8.777 kasus, Taiwan 27.568 kasus, dan Rusia 43.261 kasus. (OL-4)

Baca Juga

Antara

Presiden Janjikan Penambahan Bansos untuk Warga

👤Andhika Prasetyo 🕔Rabu 28 September 2022, 14:13 WIB
Program tersebut bisa dilakukan, jika ada ruang fiskal yang cukup dalam APBN. Kepala Negara berpesan kepada penerima, agar...
Ist/DPR

Tim ‘Shadow’ Kemendikbud Ristek Dinilai Merendahkan SDM

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 28 September 2022, 13:36 WIB
Frasa atau term ‘shadow organization’ dalam penjelasan Nadiem di forum tersebut sangat berlebihan dan merendahkan SDM...
Thinkstock

Malas Gerak Alias Mager Sebabkan Penyakit Tidak Menular Meningkat

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 28 September 2022, 13:30 WIB
Mager atau malas gerak ternyata dapat menimbulkan penyakit tidak menular (PTM) seperti jantung, obesitas, diabetes, dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya