Senin 01 Agustus 2022, 21:38 WIB

Anak Perlu Diajarkan Disiplin Prokes selama PTM

Mediaindonesia | Humaniora
Anak Perlu Diajarkan Disiplin Prokes selama PTM

ANTARA FOTO/Fauzan
Seorang siswa melakukan skrining kesehatan sebelum disuntik vaksin COVID-19 di SDN Kunciran 7, Kota Tangerang, Banten

 

JURU bicara pemerintah untuk COVID-19, Reisa Broto Asmoro menyatakan bahwa anak perlu diajarkan disiplin protokol kesehatan selama pembelajaran tatap muka (PTM).

"Kalau kita melepas anak ke sekolah, pastikan dia sudah bisa memakai masker yang baik dan benar, tahu kapan cuci tangan, kapan buka masker untuk makan, ajarkan dia untuk menilai risiko," ujar Reisa dalam bincang-bincang yang diikuti secara daring di Jakarta, hari ini.

Ia menekankan bahwa edukasi anak soal melaksanakan kebiasaan baru harus terus menerus dilakukan. "Jadi, orang tua, tenaga pendidik, semua yang ada di lingkungan sekolah harus tahu bagaimana cara menerapkan adaptasi kebiasaan baru ini," tuturnya.

Ia menambahkan pengawasan anak disiplin protokol kesehatan penting di tengah pandemi COVID-19 yang masih berlangsung hingga saat ini.

"Tentunya kalau ke sekolah bawa masker cadangan, masker harus diganti paling tidak empat jam sekali, membawa penyanitasi tangan, diajarkan jaga jarak," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Reisa meminta sekolah untuk memastikan anak didiknya sudah divaksinasi lengkap agar mendapatkan perlindungan. "Kalau sudah ada yang dewasa di atas 18 tahun ke atas sudah harus vaksinasi penguat (booster). Jadi kalau sudah punya perlindungan diharapkan bisa membentengi anak-anak," ucapnya.

Baca juga: Update 1 Agustus: 4.803 Orang Terima Vaksinasi Kedua

Dalam kesempatan itu, Reisa juga mengingatkan pemberhentian PTM bisa dilakukan jika terdapat klaster COVID-19 di satuan pendidikan sekolah.

Pemberhentian itu, kata dia, sesuai dalam Surat Edaran (SE) Nomor 7 Tahun 2022 tentang Pelaksanaan Keputusan Bersama Empat Menteri terkait  Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19.

Menurut dia, penghentian sementara PTM juga dilakukan jika hasil surveilans angka positive rate di satuan pendidikan terkonfirmasi COVID-19 sebanyak lima persen atau lebih.

"Kalau terjadi klaster di satuan pendidikan, surveilans positive rate-nya lebih dari lima persen, itu harus dilakukan pemberhentian PTM selama tujuh hari," katanya.

Selain itu, penghentian sementara PTM juga dilakukan kepada peserta didik yang mengalami gejala COVID-19 (suspek), penghentian sementara PTM dilakukan paling sedikit selama lima hari. "Memang harus diterapkan gas dan rem," ucapnya.

Juru bicara Kemenkes Mohammad Syahril menambahkan orang tua dan guru harus tetap mengawasi anak-anak dengan ketat agar tidak terpapar COVID-19.

"Orang tua, guru, sekolah harus menjaga betul, karena anak-anak bisa saja tertular di luar sekolah lalu dibawa ke sekolah," katanya. (Ant/OL-4)

Baca Juga

DOK Kanal Saung Edukasi di Youtube.

Mempelajari Konsep dan Desain Alur Multimedia Interaktif

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 20:57 WIB
Pelajaran Desain Media Interaktif pada SMK Jurusan Multimedia Kelas 12 mempelajari konsep multimedia interaktif di Bab 1. Pada Bab 2...
dok.KBRI Laos

Mahasiswa UI Kolaborasi dengan Empat Warga Laos Membawakan Tarian Betawi di Laos

👤Selamat Saragih 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 20:49 WIB
KOMITMEN Kenalkan Budaya Nusantara, Mahasiswa UI berkolaborasi dengan empat warga Laos membawakan tarian Betawi di...
Antara

Menkes Minta Layanan Kesehatan Prioritaskan Produk Lokal

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 20:17 WIB
Langkah tersebut sebagai upaya meningkatkan perekonomian nasional. Sekaligus, mendorong ketahanan sistem kesehatan yang merupakan pilar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya