Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
JANJI calon presiden (capres) nomor urut 3 Ganjar Pranowo terkait 1 desa, 1 tenaga kesehatan (nakes), dan 1 fasilitas kesehatan (faskes) dinilai kurang cukup untuk pemerataan kesehatan di penjuru daerah. Setiap desa membutuhkan minimal 9 nakes.
Founder dan Chief Executive Offi cer Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Diah Satyani Saminarsih menjelaskan persoalan pemerataan kualitas layanan kesehatan melalui program 1 desa, 1 faskes, dan 1 nakes sudah ada saat ini.
"Sedikit saya memberikan konteks kalau kita bicara soal 1 desa, 1 faskes, dan 1 nakes
Baca juga : Ganjar Pranowo Janji Bikin Satu Desa, Satu Faskes, Satu Nakes
Saat ini sudah tersedia seperti itu, di 1 desa ada puskesmas pembantu (pustu) yaitu 1 faskes dan ada 1 nakes biasanya ada perawat di sana," kata Diah dalam konferensi pers secara daring, Senin (5/2).
"Jadi kita jangan sampai terdilusi dengan janji yang seolah-olah sangat bagus, padahal sebenarnya kondisi sekarang sudah demikian," tambahnya.
Sehingga hal itu berpotensi melibatkan dari pemenuhan 9 jenis SDM kesehatan. Jadi menurutnya 1 nakes itu tidak cukup untuk ada di 1 faskes, dibutuhkan sebuah tim yang berada di faskes tersebut untuk bisa mentransformasi pelayanan kesehatan primer yang utuh dan terintegrasi. Penting untuk ada SDM, selain dokter juga ada perawat, ada tenaga kesmas, ada apoteker, ada kader kesehatan, dan lain sebagainya.
Baca juga : Jika Ganjar-Mahfud Terpilih, Caleg PDIP Oktafiandi Janji Berikan Gajinya Selama Setahun untuk Warga
Diketahui Puskesmas yang memiliki 9 jenis SDM kesehatan lengkap hanya sekitar tidak mencapai 50%, hanya 42,67% dari keseluruhan jumlah puskesmas yang ada. Angka itu jauh dari target pemerintah sebesar 83% di tahun 2024.
"Jadi ada target yang belum tercapai saat ini. Selain itu, kami juga menggarisbawahi bahwa soal SDM kesehatan ini lebih dari sekedar produksi dokter. Jadi ada juga isu distribusi, utilisasi, lebih dari sekedar 1 dokter yang dibutuhkan, tetapi sebenarnya 1 fasilitas kesehatan itu membutuhkan 9 jenis SDM kesehatan," ujar dia.
Saat ini tidak ada kebijakan yang mengatur keamanan, struktur upah, kelayakan kerja dari para SDM kesehatan ini di debat kemarin tidak tersentuh sama sekali, termasuk juga keamanan, kelengkapan prasarana, dan semua hal tersebut apabila tidak dikerjakan, pengaruhnya langsung terhadap penurunan kualitas layanan.
Baca juga : Timnas Amin Gembira Prabowo dan Ganjar Sepakat dengan Perubahan
"Jadi distribusi beban kerja sebenarnya harus segera dilakukan. Tentu yang teknis seperti ini kemarin tidak ada, bahkan bicara soal kesejahteraan rakyat secara umum juga tidak tepat arahnya," pungkasnya. (Z-8)
Mahfud mengatakan posisi Polri saat ini merupakan hasil reformasi 1998.
Mahfud menyebut, dalam praktiknya Kompolnas kerap bertindak layaknya juru bicara Polri dan hanya menjalankan tugas secara formalitas.
Menurut Mahfud, dalam beberapa waktu terakhir, DPR cenderung menunjuk calon hakim konstitusi secara internal tanpa proses seleksi terbuka.
Kegagalan di masyarakat jauh lebih fatal dibanding kegagalan akademik.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menanggapi kasus dugaan korupsi kuota haji yang menjerat mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
Restorative justice hanya dapat ditempuh jika ada kesepakatan antara kedua belah pihak, yakni pelaku dan korban, tanpa adanya unsur paksaan.
Simposium merupakan perwujudan komitmen PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk dalam meningkatkan pengetahuan dan kompetensi tenaga Kesehatan.
Status kepegawaian yang diperoleh pegawai SPPG sejatinya merupakan titik ideal bagi para pekerja di Indonesia dan seharusnya menjadi contoh dalam sistem ketenagakerjaan
Pada Batch II, sebanyak 366 relawan diberangkatkan dari beberapa titik dalam beberapa gelombang.
Relawan Laskar Trisakti 08 bekerja sama dengan Universitas Trisakti mengirimkan bantuan tenaga kesehatan dan obat-obatan ke wilayah terdampak banjir Sumatra.
Kisah Ibu Irene Sokoy di Papua meninggal setelah ditolak empat rumah sakit menunjukkan kegagalan serius dalam pemerataan tenaga kesehatan di Indonesia.
Anggota DPR RI Netty Prasetiyani mengungkapkan pembangunan Rumah Sakit (RS) internasional akan sia-sia bila kualitas lulusan kedokteran dalam negeri tidak memenuhi standar dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved