Selasa 31 Mei 2022, 21:17 WIB

i3L Aplikasikan Teknologi VR dan Metaverse di Pendidikan Kedokteran, Jadi yang Pertama di RI

Mediaindonesia,com | Humaniora
i3L Aplikasikan Teknologi VR dan Metaverse di Pendidikan Kedokteran, Jadi yang Pertama di RI

Dok. i3L
Ilustrasi pendidikan kedonteran d i3L

 

ERA disrupsi menghasilkan inovasi baru dalam kehidupan, salah satunya adalah penggunaan virtual reality (VR) dan metaverse. VR adalah lingkungan digital berbasis rekayasa komputer yang menyediakan pengalaman imersif dengan sensasi psikologis yang membuat pengguna seolah-olah berada dilingkungan yang berbeda, baik itu replika dari dunia nyata maupun lingkungan baru yang bersifat fiktif. 

Metaverse sendiri merupakan dunia imersif 3-dimensi (3D) yang dapat diakses oleh berbagai pengguna dan disaat yang sama dapat berinteraksi satu sama lain melalui avatar. 

Belakangan ini, para ahli dari kedua bidang ini mulai mendiskusikan dan melakukan eksplorasi lebih dalam bagaimana memaksimalkan potensi VR dan metaverse agar dapat memberi kontribusi bagi dunia kedokteran.

Markus Santoso, visiting professor di International Institute for Life Sciences (i3L) yang telah berkecimpung dalam dunia riset VR dan metaverse selama 1 dekade terakhir menyatakan, teknologi imersif (VR dan Metaverse) sudah memasuki fase mature dan sudah siap untuk diintegrasikan lebih dalam ke dunia kedokteran, salah satunya adalah aplikasinya pada dunia pendidikan kedokteran. 

Saat ini, i3L sudah menyiapkan infrastruktur untuk pengintegrasian metaverse dalam pedagogi program studi kedokterannya. Melalui aplikasi metaverse, para mahasiswa kedokteran di i3L dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara online dengan kualitas pengajaran yang setara dengan kelas/lab onsite. 

"Pendidikan kedokteran melalui VR dan metaverse dapat menawarkan simulasi lebih konkrit dengan level interaksi yang mirip dengan kegiatan pembelajaran di kelas/lab tradisional," kata Santoso dalam keterangannya.

Santoso mencontohkan, dalam proses pembelajaran mengenai pembedahan, para mahasiswa perlu memahami banyak hal seperti penggunaan instrumen alat bedah, langkah-langkah dalam prosedur operasi tersebut, termasuk potensi kejadian tak terduga seperti pendarahan, level oksigen pasien yang mendadak drop dan lain-lain. 

Hal itu cukup menantang untuk dijalankan pada sesi lab praktikum konvensional, namun VR dapat mensimulasikan hal-hal tersebut dengan sangat detail dan riil. Jika VR dapat mereplika dan memperkaya sesi simulasi pembedahan, metaverse dapat memfasilitasi pertemuan antara mahasiswa dan profesor/instruktur sehingga proses knowledge transfer dan sesi pembelajaran jarak jauh tersebut menjadi lebih berkualitas. 

Baca juga : Universitas Moestopo Lantik Rektor Baru

"Dengan adanya metaverse, mahasiswa kedokteran i3L dapat memahami sesi pembelajaran seperti proses pembedahan secara lebih mendalam dengan menggunakan simulasi interaktif dengan resiko yang lebih sedikit," imbuh Santoso.

VR dan metaverse juga memiliki keunggulan unik dibanding media tradisional seperti layar komputer atau televisi, dimana VR dan metaverse mampu menyajikan informasi, baik itu ruang, data dan lain-lain, dalam format 3D atau spasial. 

Dunia kedokteran banyak menggunakan data yang sebenarnya bersifat 3D atau volumetrik seperti foto hasil USG, foto x-ray dan lain-lain, namun terpaksa divisualisasikan dalam format 2D karena keterbatasan media tradisional.

VR dan metaverse mampu memvisualisasikan data-data medis dalam format volumetrik sehingga data yang tersaji lebih holistik dan hal ini menjadi krusial bagi dunia kedokteran agar praktisi Kesehatan dapat melakukan analisa yang lebih cermat dan membuat keputusan yang lebih tepat bagi pasiennya. 

"Dan ketika aplikasi VR dan metaverse ini sudah diintegrasikan dengan pedagogi pengajaran di sekolah kedokteran dan diperkenalkan sejak mereka masih di level mahasiswa, maka kualitas pelayanan Kesehatan di Indonesia diharapkan dapat meningkat secara signifikan di masa yang akan datang," jelas Santoso.

VR dan metaverse dalam dunia kedokteran juga memiliki potensi untuk menawarkan pendekatan baru pada dunia layanan Kesehatan seperti sesi konsultasi antara dokter-pasien atau terapi Kesehatan. 

“Dengan adanya gelombang inovasi dalam dunia kesehatan khususnya kedokteran, metaverse dapat memberi nuansa telekonsultasi yang lebih humanis dengan interaksi yang lebih natural antara penyedia layanan Kesehatan dan pasien," jelas Santoso.

“Dengan adanya penggunaan metaverse dalam dunia kedokteran diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di negara kita dan salah satu fondasi awal yang dapat dilakukan adalah aplikasi VR dan metaverse di level universitas. Fondasi inilah yang saat ini sedang dibangun secara serius oleh I3L," pungkas Santoso. (RO/OL-7)

Baca Juga

Dok MI

8 Rekomendasi Tempat Wisata di Kaohsiung yang Wajib Dikunjungi

👤Meilani Teniwut 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 23:49 WIB
Kaohsiung juga memiliki objek wisata yang menarik untuk dikunjungi mulai dari Pier 2 Art Center, Cijin Island atau Pulau Cijin hingga...
Antara

40 Juta Masyarakat Sudah Terima Booster

👤Ant 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 23:14 WIB
Sebanyak 1.699.504 tenaga kesehatan (nakes) rampung menerima vaksin...
MI/Haryanto Mega

MPR Ingatkan Upaya Memperjuangkan Hak-Hak Masyarakat Adat Harus Konsisten

👤Putra Ananda 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 23:05 WIB
PERJUANGAN untuk meningkatkan kesadaran dan melindungi hak-hak masyarakat adat perlu didukung dengan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya