Sabtu 07 Mei 2022, 14:43 WIB

Indonesia Belum Pengalaman Transplantasi Hati untuk Kasus Emergensi

Atalya Puspa | Humaniora
Indonesia Belum Pengalaman Transplantasi Hati untuk Kasus Emergensi

FOTO/RS Pondok Indah
Ketua Unit Kerja Koorniasi Gastro Hepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr. dr. Muzal Kadim, Sp.A (K).

 

KASUS hepatitis akut misterius yang menjangkit anak-anak di sejumlah negara di dunia tengah menjadi sorotan.

Dijelaskan oleh Ketua Unit Kerja Koorniasi Gastro Hepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr. dr. Muzal Kadim, Sp.A (K) bahwa hepatitis merupakan infeksi virus yang merusak sel hati.

Dalam kasus hepatitis akut, dapat terjadi gagal hati sehingga penanganannya harus dengan melakukan trasnplantasi hati.

Namun demikian, Muzal mengakui bahwa hingga saat ini Indonesia belum memiliki pengalaman untuk melakukan transplantasi hati untuk kasus emergensi.

"Kita sudah melakukan trasnplantasi hati di RSCM pada sekitar 63 anak. Tapi itu sudah dipersiapkan. Artinya, anak-anak yang mengalami kelainan hati kronik pelan-pelan hatinya akan rusak semua, dan operasi itu sudah disiapkan, seperti donornya dan lainnya," kata Muzal dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual, Sabtu (5/4).

"Tapi untuk yang emergency kita belum pernah melakukan," imbuh dia.

Baca juga: 

Untuk itu, guna mencegah kasus hepatitis akut misterius merebak, Muzal mengungkapkan bahwa IDAI telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi.

Diantaranya dengan melakukan screening awal pada pasien yang memiliki gejala yang mengarah pada kasus hepatitis akut di fasilitas kesehatan.

Selain itu, IDAI juga meminta agar Kemenkes mempersiapkan sarana laboratorium untuk pemeriksaan agar kasus tersebut bisa dideteksi lebih awal.

Selain itu, langkah pencegahan juga perlu disosialisasikan pada masyarakat. Karena virus tersebut ditularkan secara oral, lewat saluran cerna mulut dan tangan.

Kareba itu, pencegahan yang paling baik ialah dengan menjaga kebersihan makanan, sanitasi dan mencegah kontak langsung dengan anak yang memiliki gejala diare, mual dan muntah.

"Kemudian kita lanjutkan protokol covid-19, seperti pakai masker, jaga jarak. Di samping mengurangi covid-19 kita juga bisa mengurangi potensi tertular dari hepatitis akut yang diduga menular lewat droplet juga," imbuh dia.

Seperti diketahui, setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan secara resmi kejadian luar biasa (KLB) kasus hepatitis akut misterius pada tanggal 15 April 2022, jumlah laporan dari berbagai negara terus bertambah.

WHO sendiri menyebut bahwa kasus hepatitis akut misterius ini tidak berkaitan dengan hepatitis A, B, C, D dan E.

Per 21 April 2022, tercatat 169 kasus yang dilaporkan di 12 negara yaitu Inggris 114 orang, Spanyol 13 orang, Israel 12 orang, Amerika Serikat 9 orang, Denmark 6 orang, Irlandia 5 orang, Belanda 4 orang, Italia 4 orang, Norwegia 2 orang, Prancis 2 orang, Romania 1 orang dan Belgia 1 orang dengan kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun.

Sebanyak 17 anak atau sekitar 10% di antaranya memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal. (Ata/OL-09)

Baca Juga

Antara/Jessica Helena Wuysang.

Kapan Cap Go Meh 2023, Ini Kumpulan Ucapan Selamatnya

👤Joan Imanuella Hanna Pangemanan 🕔Senin 30 Januari 2023, 21:27 WIB
 Berikut kumpulan ucapan yang dapat Anda...
123RF/jolopes.

Manfaat Retinol dan Skincare yang Cocok Dikombinasikan

👤Joan Imanuella Hanna Pangemanan 🕔Senin 30 Januari 2023, 21:22 WIB
Retinol terbuat dari vitamin A yang masih dalam bentuk...
Antara

KLHK Targetkan Penataan Batas Hutan Selesai 100% pada 2023

👤Atalya Puspa 🕔Senin 30 Januari 2023, 21:17 WIB
Kawasan hutan Indonesia memiliki luas 125 juta hektare, dengan panjang batas 373 ribu kilometer (km). Terdiri dari 284 ribu km batas luar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya