Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS hepatitis akut misterius yang menjangkit anak-anak di sejumlah negara di dunia tengah menjadi sorotan.
Dijelaskan oleh Ketua Unit Kerja Koorniasi Gastro Hepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr. dr. Muzal Kadim, Sp.A (K) bahwa hepatitis merupakan infeksi virus yang merusak sel hati.
Dalam kasus hepatitis akut, dapat terjadi gagal hati sehingga penanganannya harus dengan melakukan trasnplantasi hati.
Namun demikian, Muzal mengakui bahwa hingga saat ini Indonesia belum memiliki pengalaman untuk melakukan transplantasi hati untuk kasus emergensi.
"Kita sudah melakukan trasnplantasi hati di RSCM pada sekitar 63 anak. Tapi itu sudah dipersiapkan. Artinya, anak-anak yang mengalami kelainan hati kronik pelan-pelan hatinya akan rusak semua, dan operasi itu sudah disiapkan, seperti donornya dan lainnya," kata Muzal dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual, Sabtu (5/4).
"Tapi untuk yang emergency kita belum pernah melakukan," imbuh dia.
Baca juga:
Untuk itu, guna mencegah kasus hepatitis akut misterius merebak, Muzal mengungkapkan bahwa IDAI telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi.
Diantaranya dengan melakukan screening awal pada pasien yang memiliki gejala yang mengarah pada kasus hepatitis akut di fasilitas kesehatan.
Selain itu, IDAI juga meminta agar Kemenkes mempersiapkan sarana laboratorium untuk pemeriksaan agar kasus tersebut bisa dideteksi lebih awal.
Selain itu, langkah pencegahan juga perlu disosialisasikan pada masyarakat. Karena virus tersebut ditularkan secara oral, lewat saluran cerna mulut dan tangan.
Kareba itu, pencegahan yang paling baik ialah dengan menjaga kebersihan makanan, sanitasi dan mencegah kontak langsung dengan anak yang memiliki gejala diare, mual dan muntah.
"Kemudian kita lanjutkan protokol covid-19, seperti pakai masker, jaga jarak. Di samping mengurangi covid-19 kita juga bisa mengurangi potensi tertular dari hepatitis akut yang diduga menular lewat droplet juga," imbuh dia.
Seperti diketahui, setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan secara resmi kejadian luar biasa (KLB) kasus hepatitis akut misterius pada tanggal 15 April 2022, jumlah laporan dari berbagai negara terus bertambah.
WHO sendiri menyebut bahwa kasus hepatitis akut misterius ini tidak berkaitan dengan hepatitis A, B, C, D dan E.
Per 21 April 2022, tercatat 169 kasus yang dilaporkan di 12 negara yaitu Inggris 114 orang, Spanyol 13 orang, Israel 12 orang, Amerika Serikat 9 orang, Denmark 6 orang, Irlandia 5 orang, Belanda 4 orang, Italia 4 orang, Norwegia 2 orang, Prancis 2 orang, Romania 1 orang dan Belgia 1 orang dengan kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun.
Sebanyak 17 anak atau sekitar 10% di antaranya memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal. (Ata/OL-09)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Pada 15 April 2022, WHO menyatakan kejadian ini sebagai (KLB) hepatitis, kejadian ini terus bertambah dengan adanya laporan-laporan dari berbagai negara.
Apa sebenarnya penyebab penyakit hepatitis? Berikut penjelasan penyebab, gejala, dan bagaiamana kita mencegahnya.
Indonesia masuk dalam 20 negara dengan beban penularan Hepatitis yang besar di dunia
Adapun definisi dari kasus probable ialah hepatitis akut namun virusnya bukan termasuk hepatitis A-E dan SGOT atau SGPT > 500 IU/L.
Tema nasional dari Hari Hepatitis Sedunia tahun ini adalah “Mendekatkan Akses Pengobatan Hepatitis karena Hepatitis Tidak dapat Menunggu”,
Gejala Hepatitis sangat penting dipahami oleh orangtua untuk menjaga buah hati agar mengetahui penanganan yang tepat bagi buah hati.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved