Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM laporan Global Nutrition Report tahun lalu, menyebutkan ada 2,2 miliar orang di dunia kelebihan berat badan. Tercatat, 772 juta di antaranya mengalami obesitas.
Dalam laporan itu juga diperlihatkan terkait data dari indikator malnutrisi yang memperlihatkan kondisi stunting, anaemia, bayi yang lahir dengan berat badan ringan, permasalahan pemberian ASI eksklusif, serta berat badan anak.
Sementara, data tersebut juga menunjukkan dari 194 negara masih banyak yang tidak sesuai dengan arahan nutrisi global yang menunjukkan laporan banyaknya kasus obesitas, diabetes, dan meningkatnya tekanan darah.
Munculnya berbagai permasalahan tersebut salah satunya disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat, menurut kepala analis Science for Food and Nutrition World Food Program Saskia de Pee.
“Ini bukan hanya menunjukkan indikasi dari pilihan konsumen terhadap makanan, tetapi juga ketersediaan sistem pangan kita. Supply dan demand sangat sedikit untuk kebutuhan kesehatan kita,” kata Saskia, dalam gelar wicara virtual Center for Indonesian Policy Studies bertajuk Global Nutrition Challenges: Addressing the Triple Burden of Malnutrition Through the G20, Kamis, (31/3).
Menurut Saskia, pola konsumsi masyarakat juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat mereka tinggal serta ketersediaan pasokan pangan. Hal itu pula yang akan membentuk kebiasaan masyarakat dalam memilih menu makan mereka.
Baca juga: Maudy Ayunda Jadi Jubir Presidensi G20 Indonesia
Dari laporan State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) pada 2020, menunjukkan ada tiga miliar orang di dunia yang tidak mampu mengakses makan sehat. Dan itu menjadi permasalahan global.
“Ada gap yang sangat besar antara kelompok yang mampu dan tidak mampu mengakses makan sehat. Ditambah dengan adanya pandemi juga menaikkan harga konsumsi. Artinya, ada kelompok yang tidak punya cukup uang untuk makan, dan ada juga yang tidak cukup untuk mengakses makan sehat yang bernutrisi,” lanjut Saskia.
Saskia melanjutkan, intervensi dari berbagai sektor dibutuhkan untuk menciptakan akses ke sumber pangan sehat dan bergizi. Di antaranya dengan melakukan intervensi seperti meningkatkan pendapatan rumah tangga dan pengeluaran makanan, meningkatkan kandungan gizi makanan, menargetkan individu yang rentan dengan intervensi khusus, dan meningkatkan ketersediaan dan dan menurunkan harga makanan bergizi.
“Untuk meningkatkan konsumsi pangan yang sehat dan bergizi, serta keragaman pangan, ada beberapa hal yang harus ditingkatkan. Di antaranya adalah mengurangi ketidakterjangkauan ke akses pangan tersebut. Seperti harga pangan yang lebih rendah, atau peningkatan pendapatan, sehingga masyarakat juga punya pilihan. Selain itu, juga mendorong konsumen menuju pilihan makanan yang lebih sehat,” jelas Saskia.
Di samping itu, juga perlu meminta berbagai sektor untuk melakukan perubahan dan mendukung transformasi pangan secara maksimal. Menyertakan makanan berbasis hewani tertentu dalam jumlah sedang terutama jika keragaman pangan terbatas, dan diprioritaskan bagi kelompok yang gizinya rentan. Dan mengadopsi metode produksi pangan yang lebih ramah lingkungan dan merespons krisis iklim saat ini. (A-2)
AGENDA puncak G20 yang akan digelar di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 22-23 November mendatang akan dibagi menjadi tiga sesi utama.
Ramaphosa mengatakan tahun ini Afrika Selatan mendapat kehormatan memegang presidensi G20.
Film G20 yang dibintangi oleh Viola Davis akan tayang di Prime Video pada 10 April.
DEKLARASI bersama para pemimpin Kelompok 20 (G20) pada pertemuan puncak tahunan mereka dinilai tidak memenuhi harapan dan mengecewakan.
DALAM KTT G20 ke-19 yang berlangsung di Rio de Janeiro, Brasil, para pemimpin dari 20 negara ekonomi teratas dunia menyerukan empat tema besar.
Biden secara khusus menyoroti perlunya para pemimpin dunia untuk mengumpulkan modal swasta guna menghadapi tantangan.
Kasus kanker kolorektal usia muda terus meningkat. Pola makan modern, rendah serat dan tinggi makanan ultra-olahan disebut jadi faktor risiko utama.
Tiga tinjauan Cochrane yang ditugaskan WHO mengungkap potensi besar obat GLP-1 untuk penurunan berat badan, namun pakar peringatkan risiko jangka panjang.
Saat berat badan berlebih, tubuh tidak hanya menyimpan lemak ekstra. Sistem metabolisme ikut berubah.
Satu dari tiga pasien mampu mencapai penurunan berat badan lebih dari 20%, sebuah angka yang selama ini identik dengan hasil terapi suntikan mingguan.
Riset terbaru University of Bristol mengungkap makanan tanpa proses (unprocessed) membantu tubuh mengatur porsi makan secara alami dan mencegah obesitas.
Seorang pria paruh baya mengalami pembesaran perut yang tidak wajar selama bertahun-tahun. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanyalah akibat kenaikan berat badan atau obesitas biasa
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved