Kamis 31 Maret 2022, 21:06 WIB

Forum G20 Harus Menjawab Tantangan Malnutrisi Global

Fathurrozak | Humaniora
Forum G20 Harus Menjawab Tantangan Malnutrisi Global

ANTARA/SIGID KURNIAWAN
Logo Presidensi G20 Indonesia 2022

 

DALAM laporan Global Nutrition Report tahun lalu, menyebutkan ada 2,2 miliar orang di dunia kelebihan berat badan. Tercatat, 772 juta di antaranya mengalami obesitas.

Dalam laporan itu juga diperlihatkan terkait data dari indikator malnutrisi yang memperlihatkan kondisi stunting, anaemia, bayi yang lahir dengan berat badan ringan, permasalahan pemberian ASI eksklusif, serta berat badan anak. 

Sementara, data tersebut juga menunjukkan dari 194 negara masih banyak yang tidak sesuai dengan arahan nutrisi global yang menunjukkan laporan banyaknya kasus obesitas, diabetes, dan meningkatnya tekanan darah.

Munculnya berbagai permasalahan tersebut salah satunya disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat, menurut kepala analis Science for Food and Nutrition World Food Program Saskia de Pee.

“Ini bukan hanya menunjukkan indikasi dari pilihan konsumen terhadap makanan, tetapi juga ketersediaan sistem pangan kita. Supply dan demand sangat sedikit untuk kebutuhan kesehatan kita,” kata Saskia, dalam gelar wicara virtual Center for Indonesian Policy Studies bertajuk Global Nutrition Challenges: Addressing the Triple Burden of Malnutrition Through the G20, Kamis, (31/3).

Menurut Saskia, pola konsumsi masyarakat juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat mereka tinggal serta ketersediaan pasokan pangan. Hal itu pula yang akan membentuk kebiasaan masyarakat dalam memilih menu makan mereka.

Baca juga: Maudy Ayunda Jadi Jubir Presidensi G20 Indonesia

Dari laporan State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) pada 2020, menunjukkan ada tiga miliar orang di dunia yang tidak mampu mengakses makan sehat. Dan itu menjadi permasalahan global.

“Ada gap yang sangat besar antara kelompok yang mampu dan tidak mampu mengakses makan sehat. Ditambah dengan adanya pandemi juga menaikkan harga konsumsi. Artinya, ada kelompok yang tidak punya cukup uang untuk makan, dan ada juga yang tidak cukup untuk mengakses makan sehat yang bernutrisi,” lanjut Saskia.

Saskia melanjutkan, intervensi dari berbagai sektor dibutuhkan untuk menciptakan akses ke sumber pangan sehat dan bergizi. Di antaranya dengan melakukan intervensi seperti meningkatkan pendapatan rumah tangga dan pengeluaran makanan, meningkatkan kandungan gizi makanan, menargetkan individu yang rentan dengan intervensi khusus, dan meningkatkan ketersediaan dan dan menurunkan harga makanan bergizi.

“Untuk meningkatkan konsumsi pangan yang sehat dan bergizi, serta keragaman pangan, ada beberapa hal yang harus ditingkatkan. Di antaranya adalah mengurangi ketidakterjangkauan ke akses pangan tersebut. Seperti harga pangan yang lebih rendah, atau peningkatan pendapatan, sehingga masyarakat juga punya pilihan. Selain itu, juga mendorong konsumen menuju pilihan makanan yang lebih sehat,” jelas Saskia.

Di samping itu, juga perlu meminta berbagai sektor untuk melakukan perubahan dan mendukung transformasi pangan secara maksimal. Menyertakan makanan berbasis hewani tertentu dalam jumlah sedang terutama jika keragaman pangan terbatas, dan diprioritaskan bagi kelompok yang gizinya rentan. Dan mengadopsi metode produksi pangan yang lebih ramah lingkungan dan merespons krisis iklim saat ini. (A-2)

Baca Juga

MI/HO

Masyarakarat dan Pengelola Berkolaborasi Lindungi Populasi dan Habitat Pari Mantra

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 28 Juni 2022, 00:22 WIB
Potensi mengenai populasi pari manta dan habitat mereka di kawasan ini masih belum banyak...
Dok Dompet Dhuafa

Kolaborasi Dompet Dhuafa-Lotte Mart di Tebar Hewan Kurban

👤Media Indonesia 🕔Senin 27 Juni 2022, 23:55 WIB
KOLABORASI program tebar hewan kurban (THK) yang digaungkan Dompet Dhuafa bersama Lotte Mart memasuki tahun...
MI/ANTON

UI Raih Penghargaan Tertinggi Liga PTN BH

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 27 Juni 2022, 22:05 WIB
IKU merupakan ukuran kinerja baru bagi perguruan tinggi untuk mewujudkan perguruan tinggi yang adaptif dengan berbasis luaran lebih...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya