Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBIASAAN remaja mendengarkan musik tentu sangat sulit dipisahkan apalagi musik bisa membantu berkonsentrasi ketika belajar atau beraktivitas. Namun remaja yang sering mendengarkan musik dengan volume keras memiliki risiko gangguan pendengaran 3,8 kali lipat.
Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher Dr dr Tri Juda Airlangga Sp.THT-KL(K) mengatakan remaja yang kerap menggunakan earphone saat mendengarkan musik dengan frekuensi suara tinggi sudah mengalami penurunan kemampuan pendengaran.
"Ketika mendengar ada rambut di rumah siput yang bergetar, jika menggunakan earphone dengan volume keras suka berdengung dan biasanya kalau sudah begitu something wrong. Yang normal dan cukup itu sekitar 80 desible atau kalau di ponsel capai 70% dan batas mendengar itu sampai 8 jam," dalam dialog daring, Selasa (8/3).
Baca juga: Faktor Ini Jadi Penentu Pandemi Berubah Status Menjadi Endemi
Baca juga: Pelaku Perjalanan Domestik Tak Wajib Test, Testing PCR Turun
Telinga yang bermasalah akibat suara keras biasanya terjadi secara intens melebihi 80 desible. Namun Tri merekomendasikan headphones untuk anak belajar dan mempermudah pembelajaran daring. Kalau earphone suang langsung masuk ke telinga.
Penggunaan device untuk earphone sebelah-sebelah tentu membantu untuk pendengaran karena bisa melatih konsentrasi dan bisa memperhatikan lingkungan sekitar juga. Namun tetap volume harus diperhatikan dengan 80 desible dan jangan sampai ketiduran atau penggunaan personal listening device berlebihan.
Sementara itu peran orang tua bisa memastikan penggunaan headphone pada anak bisa dibatasi per 3,5 jam untuk memberikan istirahat dan jeda pada telinga untuk membantu efek pendengaran.
"Sebetulnya tagline 60 desible 60 menit namun kan sangat kecil dan anak-anak biasanya menaikkan volume. Ya peran orang tua memastikan agar penggunaan headphone tidak mengganggu konsentrasinya dan tidak mengganggu pendengarannya," ujat Tri Juda.
"Orang tua perlu memeriksakan pendengaran anaknya ke dokter jika ketika dipanggil dalam jarak yang tak terlalu jauh tidak terdengar, kemudian terjadi perubahan pila tidur, cara bersosialisasi, adiksi, ada faktor-faktor lain yang tidak bisa dilakukan dengan baik,"
Tri Juda mengatakan bahaya apabila pendengaran sudah terganggu adalah tidak bisa disembuhkan dan kembali seperti semula. Sehingga yang bisa dilakukan adalah mencegah.
"Sehingga hal paling bisa dicegah dalam penggunaan personal listening device adalah bisa memastikan pendengaran terjaga dengan baik. Jika mendengarkan sesuatu dengan suara yang cukup maka tidak perlu ditambah lagi volumenya karena pendengaran perlahan akan menyesuaikan," pungkasnya. (H-3)
Studi JAMA 2026 ungkap 32% kasus demensia terkait gangguan pendengaran. Simak tanda awal dan cara alat bantu dengar cegah penurunan kognitif hingga 50%.
Gangguan pendengaran adalah kondisi ketika kemampuan seseorang dalam menangkap suara menurun, baik sebagian maupun secara keseluruhan
Penumpukan kotoran telinga (serumen), infeksi telinga, paparan suara keras secara terus-menerus, penuaan, cedera atau trauma kepala, kondisi medis dapat menyebabkan gangguan pendengaran.
Lindungi telinga Anda dengan aturan 60-60: volume maksimal 60% selama 60 menit per hari. Cegah gangguan pendengaran sejak dini!
Gangguan pendengaran jarang terjadi secara tiba-tiba. Gejalanya merayap perlahan. Awalnya dianggap sepele.
OMSK adalah kondisi infeksi pada rongga telinga tengah ditandai adanya robekan lubang atau gendang telinga yang dapat menyebabkan keluar cairan dari liang telinga.
Sepeda motor hasil rampokan tersebut sempat dipasarkan melalui media sosial (marketplace) sebelum akhirnya berhasil disita polisi sebagai barang bukti.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja dinilai perlu dimulai dari penguatan “jaring pengaman” di lingkungan terdekat, terutama sekolah dan keluarga.
Agar aturan gawai dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved