Kamis 28 Oktober 2021, 16:55 WIB

Tiga Kandidat Vaksin Covid-19 untuk Anak 5-11 Tahun Masih Diuji Klinis

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Tiga Kandidat Vaksin Covid-19 untuk Anak 5-11 Tahun Masih Diuji Klinis

Media Indonesia/Andri
Calon penumpang membawa anaknya saat akan memasuki area peron untuk menaiki KA Jarak jauh di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat (22/10).

 

TIGA merek vaksin menjadi kandidat vaksin untuk diberikan kepada anak berusia 5-11 tahun di Indonesia, yakni Sinovac, Sinopharm dan Pfizer. Kementerian Kesehatan menyatakan, saat ini ketiga vaksin tersebut masih menunggu hasil uji klinis.

"Saat ini belum selesai uji kliniknya ya," kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dan Perwakilan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi kepada Media Indonesia, Kamis (28/10)

Terkait apakah ketiga vaksin itu yang akan digunakan dalam program vaksinasi anak berusia 5-11 tahun. Tentunya, lanjut Nadia, Badan Pengawas Obat dan makanan (Badan POM) yang akan mengeluarkan rekomendasi pengunaan EUA tersebut.

"Juga kajian dari Badan POM karena info tersebut nanti akan ada setelah Badan POM mengkaji dan memberikan rekomndasi penggunaan EUA nya," jelasnya.

Sebelumnya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pemerintah menunggu hasil uji klinis ketiga vaksin tersebut di negara asalnya. Pihaknya menargetkan vaksinasi covid-19 untuk anak usia 5-11 tahun dapat dilaksanakan pada 2022.

"Untuk emergency use authorization sekarang sedang bekerja sama dengan BPOM, juga untuk memastikan bahwa kita bisa mengeluarkan (izin) sesegera sesudah di negara asal ketiga vaksin tersebut Sinovac, Sinopharm dan Pfizer bisa digunakan untuk anak-anak usia 5 sampai 11 tahun," papar Budi, sebelumnya.

Memutus rantai penularan
Diketahui salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi pandemi virus korona adalah dengan melakukan vaksinasi covid-19. Vaksin dapat meredam virus SARS-CoV-2 karena dapat menciptakan herd immunity atau kekebalan kelompok.

Vaksin melatih sistem imun untuk menciptakan protein yang dapat melawan penyakit, atau yang disebut antibodi. Jika nantinya terpapar suatu penyakit, orang yang telah diimunisasi akan terlindung dari penyakit tersebut dan tidak dapat menyebarkannya, sehingga dapat memutus mata rantai penularan.

Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mengatakan virus SARS-CoV-2 adalah virus yang sangat mudah menular. Oleh sebab itu, dibutuhkan setidaknya 60-70% dari populasi untuk memiliki kekebalan agar benar-benar memutuskan rantai penularan.

Pasalnya, jika hal ini dibiarkan terjadi secara alami (virus hilang dengan sendirinya) akan memakan waktu lama. Tak hanya itu, dampak terburuk akan menyebabkan banyak kerusakan lain. Bahkan jika 1% orang yang terinfeksi pada akhirnya meninggal dunia, maka ini bisa bertambah menjadi sejumlah besar orang, jika dilihat berdasarkan populasi global.

“Karena dengan vaksin kita bisa mencapai imunitas dan herd immunity dengan aman. Sedangkan melalui infeksi alami akan membutuhkan biaya dan manusia yang banyak. Dan tentu saja, pilihan yang lebih baik adalah melakukannya melalui vaksin,” jelas Soumya.

Oleh sebab itu, menurutnya yang harus dilakukan saat ini untuk membantu memperlambat penularan, mengendalikannya, bahkan menahannya adalah dengan langkah-langkah sosial seperti jarak fisik, memakai masker saat berada di tempat ramai, dan sering mencuci tangan.

Tiga hal ini sejalan dengan upaya yang terus dilakukan pemerintah, yaitu 5M protokol kesehatan. Sejak awal pandemi, prokes terus diingatkan agar menjadi sebuah kebiasaan baru bagi masyarakat dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun berada.

“Anda juga dapat mendeteksi dan mendiagnosis orang, mengisolasi mereka, kemudian menguji kontak dan karantina mereka. Ini adalah langkah-langkah yang telah terbukti berhasil. Memang kerja keras yang sulit untuk diterapkan, tetapi layak dilakukan karena dengan begitu bisa menyelamatkan nyawa sampai saat kita memiliki obat-obatan yang lebih efektif untuk mengobati penyakit ini dan, tentu saja, vaksin yang aman dan efektif,” lanjut Soumya.

Kepala Peneliti WHO ini menambahkan berdasarkan survei seroprevalensi mengindikasikan bahwa di sebagian besar negara, penduduk yang telah terinfeksi covid-19 masih berjumlah di bawah 10%. Data penelitian-penelitian seroprevalensi dari seluruh dunia pun mengindikasikan kurang dari 10% subjek penelitian pernah mengalami infeksi, yang berarti sebagian sangat besar penduduk dunia masih rentan terhadap virus ini.

“Jadi mencapai kekebalan kelompok dengan vaksin yang aman dan efektif membuat penyakit semakin jarang dan menyelamatkan nyawa,” demikian penjelasan WHO. (H-2)

 

Baca Juga

Antara

Tinjau Hotel Jemaah Haji di Madinah, Menag Mengaku Puas

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Minggu 22 Mei 2022, 18:32 WIB
Layanan akomodasi jemaah haji Indonesia di Madinah menggunakan sistem full musim dan penyewaan blocking time. Adapun hotel yang disewa...
MI/ Andri Widiyanto

Update 22 Mei: 166,8 Juta Orang Sudah Divaksinasi Lengkap

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Minggu 22 Mei 2022, 18:32 WIB
Indonesia menargetkan 208,2 juta penduduk menerima vaksin...
DOK/HUMAS UPI

UPI Bandung Luncurkan BeCool, Solusi Mengatasi Pemanasan Global

👤Naviandri 🕔Minggu 22 Mei 2022, 18:30 WIB
BeCool sebagai solusi dalam mengatasi pemanasan global sebagai dampak dari kepadatan bangunan terurama pada kota-kota besar dan menimbulkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya