Minggu 19 September 2021, 11:17 WIB

Guru Besar UGM Masuk Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia

Atalya Puspa | Humaniora
Guru Besar UGM Masuk Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia

INSTAGRAM @ADIUTARINIMUSIK
Guru Besar Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM Adi Utarini

 

Guru Besar Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Adi Utarini masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia tahun 2021 versi majalah Time.

Perempuan yang akrab disapa Uut ini masuk kategori pionir karena memimpin penelitian teknologi Wolbachia untuk pengendalian dengue di Yogyakarta bersama World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta.

Uut mengaku, dirinya sangat bersyukur bisa masuk ke dalam salah satu dari orang yang memiliki pengaruh besar di dunua.

“Ini merupakan berkah dari Allah SWT bagi tim penelitian kami di World Mosquito Program Yogyakarta. Ini adalah apresiasi bagi peneliti-peneliti dan seluruh tim yang telah terlibat dalam penelitian, juga mitra kami yaitu Monash University, World Mosquito Program Global, dan Yayasan Tahija sebagai lembaga filantropi yang mendukung penuh penelitian ini," kata Uut dikutip dari laman resmi UGM, Minggu (19/9).

Baca jugaPemerintah Wajbkan Penumpang Dari Luar Negeri Tes PCR di Bandara

"Serta apresiasi bagi masyarakat Yogyakarta yang telah sangat terbuka dengan inovasi, dan pemerintah daerah Yogyakarta yang mendukung penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat lebih luas, untuk mengurangi beban masyarakat karena dengue,” tutur Uut.

Peneliti Pendamping WMP Yogyakarta dan Direktur Pusat Kedokteran Tropis FKKMK UGM Riris Andono Ahmad menyampaikan bahwa penelitian pengembangan teknologi Wolbachia telah dimulai sejak tahun 2011. Menurutnya, fase awal penelitian dilakukan untuk memastikan keamanan Wolbachia, dilanjutkan dengan pelepasan di area terbatas.

Selanjutnya, Riris menjelaskan bahwa di tahun 2017, uji efikasi Wolbachia dengan metode Randomised Controlled Trial dilakukan di Kota Yogyakarta dengan membagi wilayah Yogyakarta menjadi 24 klaster, dengan 12 klaster mendapatkan intervensi Wolbachia, dan 12 klaster lainnya menjadi area pembanding.

“Hasil uji efikasi Wolbachia ini menunjukkan hasil yang menggembirakan, yaitu Wolbachia efektif menurunkan 77% kasus dengue, dan menurunkan 86% kasus dengue yang dirawat di rumah sakit,” papar Riris atau

Riris menjelaskan, pada tahun 2021, WMP Yogyakarta bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mulai melakukan implementasi teknologi Wolbachia. Selanjutnya di tahun 2022 akan menerapkan teknologi ini di Kabupaten Bantul.

UGM berharap selanjutnya Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dapat mulai mengadopsi teknologi Wolbachia ini sebagai salah satu strategi nasional dalam pengendalian berdarah dan berharap penelitian WMP Yogyakarta ini dapat menginspirasi para peneliti di Indonesia untuk semakin giat melakukan penelitian yang dapat menjawab tantangan-tan bangsa dan dunia. (H-3)

Baca Juga

AFP

Prediksi Sebelum Munculnya Omicron, Gelombang ke-3 bisa Capai 400 Ribu Kasus

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Senin 29 November 2021, 18:19 WIB
Tingkat penularan yang diinput sebesar 40 hingga 50 persen. Dewi mengeklaim skenario tersebut dibuat sebelum muncul temuan virus...
AFP

Umrah Uji Coba Segera Diberangkatkan, Pesertanya Pimpinan PPIU

👤Mohamad Farhan Zhuhri 🕔Senin 29 November 2021, 16:53 WIB
Pemberangkatan ujicoba dengan memberangkatkan para pimpinan penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU), tujuannya agar setiap PPIU...
Ist

Dukung Indonesia Menuju Net Zero Carbon dengan Tanam Pohon Trembesi

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 29 November 2021, 16:04 WIB
Menurut Dr. Ir. H. Endes N. Dahlan,  trembesi dapat menyerap CO2 sebesar 28.5 ton/pohon/ tahun dibandingkan dengan pohon akasia yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya