Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan generasi muda Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap persoalan intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Sebagai calon pemimpin bangsa, generasi muda jangan sampai mengalami disorientasi terhadap bangsanya.
"Konten-konten seperti radikalisme intoleran itu begitu leluasa di era global ini. Begitu leluasa dapat kita akses di sosial media," ungkapnya dikutip dari laman Universitas Padjajaran (Unpad), Rabu (15/9).
Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah bijak dalam bersosial media. Mengingat saat ini banyak misinformasi yang beredar di sosial media, penting kemampuan untuk memilih rujukan yang tepat dalam mengakses informasi agar tidak terprovokasi.
Baca juga: Pendidikan Harus Diarahkan Untuk Membangun Daya Kritis Siswa
Dikatakan Boy Rafli, saat ini, terutama di tengah pandemi, ada peningkatan pemanfaatan sosial media dalam penyebarluasan konten radikalisme.
Untuk itu perlu adanya kewaspadaan penggunaan sosial media khususnya bagi generasi muda.
"Literasi digital terhadap generasi muda ini yang wajib terus kita lakukan," ujarnya.
Selain bijak bersosial media, upaya pencegahan dan penangulangan terorisme pun dapat dilakukan melalui peningkatan wawasan keagamaan, kebangsaan, dan sosial politik.
Alumnus Program Doktor Ilmu Komunikasi Unpad tersebut mengingatkan, generasi muda jangan sampai melupakan jati diri bangsa. Perlu pemahaman kuat terkait perjuangan sejarah bangsa untuk dapat dicerna, dihayati, dan diamalkan.
"Dengan melakukan upaya penguatan nilai-nilai luhur bangsa, kita harapkan seluruh generasi muda bangsa Indonesia akan semakin cinta kepada negara ini, karena mencintai negara ini adalah merupakan kewajiban kita bersama tentunya sebagai anak bangsa," kata Boy Rafli.
Dia menilai isu tersebut adalah persoalan bangsa. Lantas menjadi kewajiban bersama sebagai anak bangsa untuk menjaga agar apa yang telah diwariskan oleh leluhur untuk tetap lestari dari masa ke masa.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Arief Sjamsulaksan Kartasasmita menyampaikan pentingnya menyiapkan generasi bangsa. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan sarjana tetapi lebih pada generasi yang kuat karakternya dalam meresponsn tantangan zaman termasuk isu intoleransi dan radikalisme.
"Kami di Unpad menyadari menghasilkan seorang sarjana yang baik saja tidak cukup. Tetapi bagaimana sarjana itu atau lulusan tersebut juga dapat bermasyarakat dan membina keutuhan negara kita sebagai suatu bangsa yang sangat besar," kata dia. (OL-1)
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
INDONESIA bukan bangsa kecil. Ia lahir dari semangat, darah, dan cita-cita luhur: memerdekakan manusia dari ketakutan, kebodohan, dan ketidakadilan.
FORUM Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) merekomendasikan perlunya langkah tegas negara melalui revisi regulasi hingga pembentukan UU Anti-Intoleransi.
Menag Nasaruddin Umar menegaskan upaya mencegah intoleransi memerlukan sesuatu yang lebih kuat daripada peraturan pemerintah atau undang-undang. Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Kementerian Agama akan bergerak cepat dalam menangani berbagai kasus intoleransi yang masih terjadi di sejumlah daerah.
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan menyiapkan dua pendekatan agar insiden perusakan rumah doa di Padang, Sumatra Barat tak terulang
REMAJA dan anak-anak sekarang dinilai lebih rentan terhadap paparan paham radikal di ruang digital. Kondisi ini dinilai berbahaya karena kelompok usia tersebut dalam fase pencarian jati diri.
BNPT mengungkapkan ada 27 rencana serangan terorisme yang berhasil dicegah dalam tiga tahun terakhir, dengan ratusan pelaku terafiliasi ISIS ditangkap.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
KEPALA BNPT Eddy Hartono menyoroti secara mendalam fenomena memetic radicalization yang kini menjadi ancaman nyata bagi generasi muda.
Menurut Edi Hartono, media sosial dan game online telah terbukti menjadi salah satu sarana yang digunakan pelaku terorisme untuk melakukan perekrutan.
Program ini memberikan edukasi mendalam mengenai upaya mitigasi penyebaran paham radikal terorisme di ruang digital.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved